Runtut.com

1.923 Titik Panas Terdeteksi di Papua Tengah, Karhutla Hanguskan 396 Hektare Lahan di Nabire

BMKG mendeteksi 1.923 titik panas di Papua Tengah sepanjang 10–22 Agustus 2026. Karhutla di Nabire membakar 396,13 hektare lahan dan mengancam kawasan hutan ser

6 menit baca
12
Upaya pemadaman Karhutla di Kabupaten Nabire, Sabtu (23/8/2026).
Upaya pemadaman Karhutla di Kabupaten Nabire, Sabtu (23/8/2026). — ANTARA/Ali Nur Ichsan.

JAKARTA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Tengah meningkat di tengah kondisi kemarau dan rendahnya curah hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.923 titik panas (hotspot) terdeteksi di Papua Tengah sepanjang 10–22 Agustus 2026, dengan Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, mencapai 1.069 titik.

Angka tersebut menempatkan Papua Tengah dalam situasi kewaspadaan tinggi. Namun, hotspot perlu dibedakan dari titik kebakaran yang telah diverifikasi di lapangan. Data satelit menunjukkan indikasi panas, sementara pemerintah daerah masih harus melakukan pengecekan untuk memastikan apakah titik tersebut merupakan api aktif atau sekadar permukaan dengan suhu tinggi.

Di Nabire sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 396,13 hektare lahan telah terbakar dalam periode 18 Juli hingga 23 Agustus 2026. Kebakaran melanda tujuh distrik, yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.

BMKG: Curah Hujan Sangat Rendah

Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, mengatakan kondisi meteorologis saat ini meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.

“Kondisi saat ini, kita bisa lihat bahwa curah hujan sangat rendah. Sumber air khususnya di wilayah Kabupaten Nabire sangat rendah sehingga potensi kebakaran sangat mudah terjadi manakala terpicu oleh api.”

Menurut Husain, analisis curah hujan dalam tiga dasarian terakhir menunjukkan kondisi yang sangat rendah. Berkurangnya sumber air membuat vegetasi dan lahan semakin mudah terbakar.

Dari 1.923 titik panas yang terdeteksi, 273 titik berada dalam kategori kepercayaan rendah, 1.537 kategori sedang, dan 113 kategori tinggi.

Besarnya jumlah hotspot juga mulai berdampak pada kualitas udara. Husain mengatakan kondisi udara di Nabire secara visual telah mengalami penurunan.

“Kalau kita lihat secara visual, kondisi saat ini kualitas udaranya sudah sangat menurun. Dengan adanya titik panas, ini menjadi sumber asap di Nabire.”

Ia memperingatkan bahwa selama hujan belum turun, partikel asap dan debu dapat bertahan di atmosfer dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Bukan Sekadar Titik Panas

Pemerintah daerah menegaskan bahwa angka hotspot tidak boleh langsung disamakan dengan jumlah kebakaran.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) Papua Tengah, Yan Richard Pugu, mengatakan sejumlah titik panas memang berada di kawasan hutan lindung dan konservasi.

“Titik panas yang telah dikeluarkan BMKG dipastikan sudah ada kawasan hutan lindung dan konservasi. Sudah ada titik api di wilayah tersebut.”

Namun, Yan menekankan perlunya verifikasi lapangan untuk menentukan kondisi setiap titik yang terdeteksi satelit.

Pemerintah kabupaten, kata dia, diminta melakukan pengecekan langsung untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar merupakan kebakaran atau hanya menunjukkan suhu tinggi di permukaan lahan.

Hal tersebut penting karena memperlihatkan perbedaan antara data deteksi satelit dan data kebakaran aktual.

Jika menggunakan data BMKG, maka terdapat 1.923 hotspot di Papua Tengah dalam periode 10-22 Agustus. Sementara jika menggunakan data BNPB, luas kebakaran yang telah teridentifikasi di Nabire mencapai 396,13 hektare.

Hampir 400 Hektare Terbakar di Nabire

BNPB menyatakan kebakaran di Nabire berlangsung sejak 18 Juli hingga 23 Agustus dan menyebar di tujuh distrik.

Kondisi panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering disebut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api.

Penanganan dilakukan melalui operasi pemadaman dan pendinginan. Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, BPBD dan masyarakat terus berupaya mencegah api meluas ke wilayah lain.

Situasi tersebut membuat pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama karena sebagian kawasan yang terdampak berada di wilayah yang sulit dijangkau.

350 Personel Polisi Dikerahkan

Polda Papua Tengah turut memperkuat operasi di Nabire. Ratusan personel dikerahkan untuk menangani kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik api baru.

Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini mengatakan aparat bergerak cepat bersama unsur terkait.

“Kami bergerak cepat agar kebakaran segera tertangani dan tidak meluas.”

Selain pemadaman, personel kepolisian melakukan pemantauan terhadap titik api serta berkoordinasi dengan pemerintah dan masyarakat.

Polri juga mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan api atau kepulan asap di sekitar permukiman maupun kawasan hutan.

Pemerintah Bentuk Satgas di Delapan Kabupaten

Meningkatnya ancaman karhutla mendorong Pemerintah Provinsi Papua Tengah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla yang mencakup delapan kabupaten.

Satgas tersebut ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Papua Tengah Nomor 100.3.1.144 Tahun 2026, dengan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa sebagai ketua. Para bupati ditetapkan sebagai ketua satgas di tingkat kabupaten.

Juru Bicara Gubernur Papua Tengah, Emanuel You, mengatakan pembentukan satgas dilakukan setelah pemerintah provinsi menggelar rapat darurat menyikapi peningkatan kebakaran di sejumlah wilayah.

Menurutnya, setiap kabupaten harus menyampaikan perkembangan kebakaran dan langkah tanggap darurat kepada satgas provinsi agar pemerintah dapat mengukur tingkat eskalasi serta menentukan kebutuhan penanganan.

Emanuel juga mengajak masyarakat ikut mencegah kebakaran.

“Kalau kita merasa hutan dan lahan itu sebagai noken kehidupan, maka kewajiban kita harus jaga dia, harus lestarikan dia. Tidak boleh lagi melakukan aksi-aksi pembakaran.”

Hutan Lindung dan Konservasi dalam Ancaman

Kekhawatiran pemerintah semakin besar karena Papua Tengah memiliki kawasan hutan yang sangat luas.

DLHKP Papua Tengah menyebut wilayah provinsi tersebut memiliki sekitar 3,9 juta hektare kawasan hutan, dengan sekitar 2,3 juta hektare merupakan kawasan hutan lindung. Secara keseluruhan, kawasan hutan lindung dan konservasi mencakup sekitar 65 persen kawasan hutan di Papua Tengah.

Yan Richard Pugu mengatakan seluruh wilayah Papua Tengah perlu diwaspadai karena kondisi kering menyediakan material yang mudah terbakar.

“Oleh karena itu, tindakan preventif untuk masyarakat, penyadaran pengetahuan ke masyarakat itu menjadi bagian yang penting, urgen untuk dilakukan.”

Pemerintah juga menaruh perhatian pada kawasan yang memiliki indikasi gambut, termasuk wilayah Nabire bagian timur. Namun, kewaspadaan tidak hanya diarahkan ke kawasan tersebut karena kebakaran juga dapat terjadi di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau.

Ancaman Bukan Hanya di Nabire

Nabire memang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, tetapi ancaman karhutla tersebar di sejumlah kabupaten Papua Tengah.

Dalam data yang disampaikan Pemprov Papua Tengah sebelumnya, selain Nabire, Kabupaten Puncak tercatat memiliki 100 titik panas, Dogiyai 97 titik dan Paniai 59 titik dalam periode pengamatan yang berbeda.

Perbedaan angka antarperiode menunjukkan bahwa jumlah hotspot berubah sesuai waktu pengamatan dan kondisi cuaca. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dijumlahkan begitu saja sebagai jumlah titik kebakaran unik.

Ribuan Hotspot, Ratusan Hektare Terbakar

Rangkaian data yang dikeluarkan lembaga berwenang memperlihatkan dua sisi situasi karhutla Papua Tengah.

Pertama, BMKG mendeteksi 1.923 titik panas di Papua Tengah pada 10–22 Agustus, dengan Nabire menyumbang 1.069 titik.

Kedua, BNPB mencatat 396,13 hektare lahan benar-benar telah terbakar di Nabire dalam periode 18 Juli–23 Agustus.

Kedua angka tersebut tidak bertentangan karena mengukur hal yang berbeda. Hotspot merupakan hasil deteksi panas melalui sistem pemantauan, sementara luas 396,13 hektare merupakan area kebakaran yang telah didata oleh pemerintah di lapangan.

“BMKG mendeteksi sedikitnya 1.000 titik panas di Papua Tengah, bahkan mencapai 1.923 hotspot sepanjang 10–22 Agustus 2026.”

Sementara untuk menyatakan jumlah titik kebakaran aktual, diperlukan hasil verifikasi lapangan dari pemerintah daerah.

Krisis Ekologis yang Membutuhkan Respons Cepat

Karhutla Papua Tengah kini berkembang menjadi persoalan yang menyentuh berbagai aspek sekaligus: lingkungan, kesehatan masyarakat, keselamatan permukiman, serta perlindungan kawasan hutan.

Di satu sisi, kondisi kemarau dan rendahnya curah hujan membuat vegetasi mudah terbakar. Di sisi lain, keberadaan titik api di kawasan hutan lindung dan konservasi meningkatkan kekhawatiran terhadap kerusakan ekosistem yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat.

Pemerintah telah membentuk Satgas Karhutla, mengerahkan personel, melakukan pemadaman dan memperkuat pemantauan. Namun, besarnya jumlah hotspot menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi sama pentingnya dengan pemadaman.

Sampai 24 Agustus 2026, kebakaran di Nabire masih dalam penanganan. Pemerintah belum dapat menyatakan seluruh ancaman karhutla di Papua Tengah telah berakhir.

Dengan 1.923 titik panas terdeteksi dalam waktu kurang dari dua pekan dan hampir 400 hektare lahan terverifikasi terbakar di Nabire, Papua Tengah menghadapi salah satu episode karhutla yang membutuhkan kewaspadaan serius dan respons lintas sektor.

Yang kini menjadi kunci bukan hanya seberapa banyak titik panas yang terdeteksi, tetapi berapa banyak yang benar-benar berubah menjadi api, di mana lokasinya, apa penyebabnya, dan seberapa cepat pemerintah mampu menghentikannya sebelum mencapai permukiman dan kawasan hutan yang lebih luas.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 3 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu