NEPAL - Banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) menewaskan sedikitnya 157 orang dan menyebabkan ratusan warga lainnya masih dalam pencarian. Bencana tersebut diduga dipicu oleh peristiwa geofisika besar di kawasan Pegunungan Himalaya yang menyebabkan runtuhan material batuan, pencairan gletser, serta aliran air dalam volume besar menuju lembah.
Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekström, menjelaskan bahwa bencana tersebut bermula dari longsoran besar di celah pegunungan Himalaya.
Longsoran itu terjadi pada siang hari dan menghantam bagian gletser dalam jumlah besar sehingga memicu pelepasan es, bebatuan, dan air secara bersamaan.
Menurut Ekström, energi yang dihasilkan dari peristiwa tersebut sangat besar hingga terekam sebagai aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2 oleh sejumlah alat pencatat gempa di berbagai wilayah dunia.
Meski tidak tergolong sebagai gempa bumi tektonik biasa, pergerakan material di pegunungan menghasilkan getaran yang dapat dideteksi oleh seismograf.
Ia menyebut kejadian serupa pernah terjadi di kawasan Himalaya. Namun, skala peristiwa kali ini dinilai jauh lebih besar karena melibatkan kombinasi longsoran, es gletser, dan aliran air yang bergerak cepat menuju kawasan permukiman di bawahnya.
Ekström memperkirakan ketinggian banjir yang terjadi mencapai sekitar 130 hingga 160 kaki atau sekitar 39 hingga 48 meter. Sementara itu, kecepatan aliran air diperkirakan mencapai 44 mil per jam atau sekitar 70 kilometer per jam. Besarnya daya dorong tersebut membuat material dari pegunungan ikut terbawa dan memperluas dampak kerusakan.
“Banjir ini memiliki ketinggian yang luar biasa karena membawa campuran es, material longsoran, dan air yang bergerak sangat cepat turun ke lembah,” ujar Ekström.
Selain faktor geologi, perubahan iklim juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian para ahli. Ekström menjelaskan bahwa pencairan gletser yang semakin cepat dalam beberapa dekade terakhir dapat meningkatkan risiko terjadinya longsoran di wilayah pegunungan tinggi.
Gempa Kolombia Rusak 5.000 Rumah dan Lumpuhkan Sejumlah Infrastruktur12 Agustus 2026 pukul 14.47Menurutnya, kejadian tersebut tetap dapat terjadi tanpa adanya perubahan iklim. Namun, meningkatnya suhu global berpotensi memperbesar kemungkinan terjadinya pelelehan es dan memperburuk dampak bencana hidrometeorologi di kawasan Himalaya.
“Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi. Fenomena tersebut telah dipastikan berkaitan dengan mencairnya gletser,” kata Ekström.
Pihak berwenang Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang meninggal dunia dan 75 lainnya mengalami luka-luka hingga Rabu malam. Selain korban meninggal, proses pencarian terhadap warga yang hilang masih terus dilakukan oleh tim penyelamat.
Bencana ini kembali menunjukkan kerentanan wilayah pegunungan tinggi terhadap perubahan kondisi alam. Kombinasi antara aktivitas geologi, kondisi gletser, serta perubahan iklim menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mitigasi bencana di kawasan Himalaya.









