Runtut.com

Banjir Bandang Nepal Dipicu Longsornya Material Himalaya, Ratusan Orang Tewas dan Hilang

Banjir bandang Nepal menewaskan 157 orang akibat longsor Himalaya yang memicu pencairan gletser dan aliran air besar menuju lembah.

2 menit baca
4
Runtut.com
Warga melintasi area terdampak banjir bandang di Nepal yang dipenuhi material lumpur dan reruntuhan setelah longsor besar di kawasan Himalaya. — Getty Images/@Prakash Mathema

NEPAL - Banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) menewaskan sedikitnya 157 orang dan menyebabkan ratusan warga lainnya masih dalam pencarian. Bencana tersebut diduga dipicu oleh peristiwa geofisika besar di kawasan Pegunungan Himalaya yang menyebabkan runtuhan material batuan, pencairan gletser, serta aliran air dalam volume besar menuju lembah.

Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekström, menjelaskan bahwa bencana tersebut bermula dari longsoran besar di celah pegunungan Himalaya.

Longsoran itu terjadi pada siang hari dan menghantam bagian gletser dalam jumlah besar sehingga memicu pelepasan es, bebatuan, dan air secara bersamaan.

Menurut Ekström, energi yang dihasilkan dari peristiwa tersebut sangat besar hingga terekam sebagai aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2 oleh sejumlah alat pencatat gempa di berbagai wilayah dunia.

Meski tidak tergolong sebagai gempa bumi tektonik biasa, pergerakan material di pegunungan menghasilkan getaran yang dapat dideteksi oleh seismograf.

Ia menyebut kejadian serupa pernah terjadi di kawasan Himalaya. Namun, skala peristiwa kali ini dinilai jauh lebih besar karena melibatkan kombinasi longsoran, es gletser, dan aliran air yang bergerak cepat menuju kawasan permukiman di bawahnya.

Ekström memperkirakan ketinggian banjir yang terjadi mencapai sekitar 130 hingga 160 kaki atau sekitar 39 hingga 48 meter. Sementara itu, kecepatan aliran air diperkirakan mencapai 44 mil per jam atau sekitar 70 kilometer per jam. Besarnya daya dorong tersebut membuat material dari pegunungan ikut terbawa dan memperluas dampak kerusakan.

“Banjir ini memiliki ketinggian yang luar biasa karena membawa campuran es, material longsoran, dan air yang bergerak sangat cepat turun ke lembah,” ujar Ekström.

Selain faktor geologi, perubahan iklim juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian para ahli. Ekström menjelaskan bahwa pencairan gletser yang semakin cepat dalam beberapa dekade terakhir dapat meningkatkan risiko terjadinya longsoran di wilayah pegunungan tinggi.

Menurutnya, kejadian tersebut tetap dapat terjadi tanpa adanya perubahan iklim. Namun, meningkatnya suhu global berpotensi memperbesar kemungkinan terjadinya pelelehan es dan memperburuk dampak bencana hidrometeorologi di kawasan Himalaya.

“Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi. Fenomena tersebut telah dipastikan berkaitan dengan mencairnya gletser,” kata Ekström.

Pihak berwenang Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang meninggal dunia dan 75 lainnya mengalami luka-luka hingga Rabu malam. Selain korban meninggal, proses pencarian terhadap warga yang hilang masih terus dilakukan oleh tim penyelamat.

Bencana ini kembali menunjukkan kerentanan wilayah pegunungan tinggi terhadap perubahan kondisi alam. Kombinasi antara aktivitas geologi, kondisi gletser, serta perubahan iklim menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya mitigasi bencana di kawasan Himalaya.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang Protes
Internasional

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memicu Gelombang Protes

Pemerintah Azerbaijan memperketat aturan seragam sekolah berbasis sekularisme. Pelanggar terancam sanksi tegas hingga pemecatan.

Lusianti Dwi Cahyani· 20 jam lalu
"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla
Internasional

"Pripun Kabare?" Begini Isi Pidato Bahasa Jawa Anggota Parlemen Malaysia Soal Asap Karhutla

"Pripun kabare?" momen ketika Kalam Salan mendadak berganti bahasa Jawa dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia, desak soal penanganan asap karhutla Indonesia.

Nurul Hidayah· 2 hari lalu
Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius
Internasional

Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla dengan Serius

Anggota Parlemen Malaysia, Kalam Salan meminta penanganan serius masalah asap karhutla Indonesia yang sudah lintas batas ke Malaysia.

Nurul Hidayah· 2 hari lalu
Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions
Internasional

Manchester United Sedang Terpuruk, Como Punya Peluang Ciptakan Kejutan di Liga Champions

Como menjamu Manchester United di Liga Champions 2026/2027. Bermodal kemenangan atas Fiorentina, tim Cesc Fàbregas berpeluang menciptakan kejutan.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti
Internasional

PSG Tekuk Barcelona 4-2 di UEFA Champions League, Rekor Sempurna Blaugrana Terhenti

PSG mengalahkan Barcelona 4-2 di Liga Champions 2026/2027. Gol Vitinha dan Fabián Ruiz memastikan kemenangan sekaligus menghentikan rekor sempurna Blaugrana.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap
Internasional

Prancis Mencekam! Kerusuhan di Paris, 1.200 Orang Ditangkap

Aksi demonstrasi pada 17-18 Oktober 2026 berubah menjadi peristiwa kelam bagi Prancis. Ratusan aparat terluka, gedung-gedung pemerintahan diserbu.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu