PRANCIS — Presiden La Liga Javier Tebas mendesak Gianni Infantino mengakhiri kepemimpinannya sebagai Presiden FIFA. Tebas menilai arah kebijakan FIFA selama masa kepemimpinan Infantino telah menjauh dari kepentingan liga domestik dan membutuhkan perubahan menyeluruh dalam sistem tata kelola organisasi sepak bola dunia tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Tebas dalam wawancara dengan Le Monde pada 5 Agustus 2026. Ia menyebut kritik terhadap Infantino bukan muncul karena persoalan terbaru yang melibatkan FIFA, melainkan hasil pengamatannya terhadap pola kepemimpinan Infantino selama beberapa tahun terakhir.

“Saya merasa era Gianni Infantino sudah lama berlalu. Saya tidak mengatakan hal itu hanya karena kejadian-kejadian terbaru. Saya sudah melihat gaya manajemennya sejak lama,” ujar Tebas.

Menurut Tebas, berbagai polemik yang muncul di tubuh FIFA saat ini menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar. Ia menilai pergantian pemimpin saja tidak cukup apabila tidak disertai perubahan sistem pengelolaan organisasi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Tebas adalah kebijakan FIFA yang dinilainya semakin berorientasi pada kepentingan klub besar dan pemain elite. Ia menegaskan bahwa kompetisi domestik merupakan fondasi utama dalam ekosistem sepak bola sehingga setiap keputusan global harus mempertimbangkan keberlangsungan liga nasional di berbagai negara.

“Infantino bukan sosok yang membantu perkembangan sepak bola. Sebaliknya, sejumlah proyeknya justru merusak esensi sepak bola, yakni liga-liga nasional,” kata Tebas.

Tebas menilai persoalan FIFA tidak dapat dilihat sebagai konflik antara individu tertentu dengan organisasi. Menurutnya, tantangan terbesar berada pada sistem yang telah lama terbentuk di dalam lembaga tersebut.

“Masalahnya bukan hanya satu orang, tetapi seluruh sistem. Sistem lama bisa tetap bertahan meskipun orang-orangnya berganti,” ujarnya.

Ia berharap perubahan kepemimpinan FIFA ke depan tidak berhenti pada pergantian figur di posisi strategis. Tebas ingin adanya pembaruan tata kelola yang lebih transparan dan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan sepak bola global dengan kebutuhan kompetisi domestik.

Kritik Tebas muncul ketika posisi Infantino menghadapi tekanan dari sejumlah pihak di Eropa. Federasi sepak bola Norwegia sebelumnya disebut turut menyuarakan desakan agar Infantino meninggalkan jabatannya. Beberapa asosiasi sepak bola Eropa juga dikabarkan mulai mempertimbangkan kembali dukungan terhadap keberlanjutan kepemimpinannya.

Meski demikian, Infantino masih memiliki dukungan dari sejumlah kawasan lain, termasuk beberapa negara dengan pengaruh besar dalam sepak bola internasional seperti Argentina dan Meksiko.

Ketegangan antara sebagian pihak di Eropa dan FIFA juga beriringan dengan isu ancaman boikot terhadap sejumlah turnamen yang melibatkan UEFA. Jika konflik tersebut berkembang, situasi ini berpotensi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam hubungan antara federasi sepak bola regional dan badan sepak bola dunia.

Bagi Tebas, kondisi tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi arah sepak bola global. Ia menilai FIFA membutuhkan pemimpin baru sekaligus sistem baru agar organisasi tersebut dapat menjalankan perannya secara lebih terbuka, adil, dan berorientasi pada perkembangan sepak bola secara luas.