Runtut.com

Alasan Generasi Muda Kini Makin Menggandrungi Komunitas Permainan Tradisional

Di tengah gempuran era digital, orang dewasa justru mencari ketenangan lewat komunitas permainan tradisional. Simak analisis psikologis dan riset ilmiahnya di s

4 menit baca
7
Alasan Generasi Muda Kini Makin Menggandrungi Komunitas Permainan Tradisional
Seorang anak belajar permainan egrang bambu. — KOMPAS/Megandika Wicaksono

Pernahkah Anda berjalan-jalan di taman kota pada akhir pekan dan melihat sekelompok orang dewasa asyik bermain gobak sodor, egrang, atau tarik tambang hingga mandi keringat? Mereka tertawa lepas, saling berteriak, dan melupakan sejenak gawai pintar di saku mereka.

Dalam satu dekade terakhir, ada tren yang cukup unik dan kontradiktif di berbagai sudut perkotaan. Di saat akses internet makin kencang dan permainan Virtual Reality makin canggih, banyak anak muda dari Generasi Z dan Milenial justru berbondong-bondong bergabung dengan komunitas permainan tradisional.

Sepintas, hal ini mungkin terlihat seperti langkah mundur ke masa lalu. Namun, jika kita membedah kondisi psikologis manusia modern saat ini, fenomena tersebut justru sangat masuk akal dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Lelah Menjadi "Manusia Digital"

Alasan paling mendasar dari pergeseran tren ini adalah kelelahan akut terhadap layar gawai (screen fatigue). Hari ini, sebagian besar dari kita terjebak dalam rutinitas yang monoton: dari pagi menatap dashboard pekerjaan di monitor, rapat secara virtual, hingga menghabiskan waktu di perjalanan komuter sambil scrolling media sosial. Otak manusia modern dipaksa memproses informasi tanpa jeda.

Secara ilmiah, kejenuhan ini berkaitan erat dengan minimnya stimulasi sensorik yang nyata. Komunitas permainan tradisional hadir sebagai bentuk detoks digital yang paling efektif.

Berbeda dengan game online yang sering kali memicu stres baru akibat kompetisi peringkat (push rank) atau perilaku toksik pemain anonim, permainan tradisional menawarkan kesenangan yang membumi. Sensasi telapak kaki menyentuh tanah, keringat yang menetes, dan kayu egrang yang digenggam memberikan umpan balik taktil yang sudah sangat dirindukan oleh indra kita yang mulai mati rasa akibat terlalu sering menyentuh kaca layar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Bayar Makin Praktis, Benarkah Transaksi Nontunai Bikin Orang Lebih Boros?
Gaya Hidup

Bayar Makin Praktis, Benarkah Transaksi Nontunai Bikin Orang Lebih Boros?

Perubahan cara membayar membuat transaksi sehari-hari semakin praktis. Pembayaran nontunai tumbuh pesat, sementara uang tunai masih digunakan masyarakat.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
5 Tips Mengatur Keuangan Bulanan agar Mahasiswa Tidak Bokek di Akhir Bulan
Gaya Hidup

5 Tips Mengatur Keuangan Bulanan agar Mahasiswa Tidak Bokek di Akhir Bulan

Sering bokek sebelum akhir bulan? Coba lima tips mengatur uang bulanan ini, mulai dari mencatat pengeluaran sampai bijak memakai paylater.

Rayda Iskandar· 1 minggu lalu
Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas
Gaya Hidup

Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas

Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, dari aktivitas fisik hingga ruang bertemu dan membangun komunitas di tengah rutinitas digital.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Pesona Blok M Sebagai Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan
Gaya Hidup

Pesona Blok M Sebagai Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan

Jelajahi daya tarik Blok M sebagai pusat budaya Jakarta Selatan. Temukan perpaduan unik memori masa lalu, kafe kekinian, dan kawasan kuliner Little Tokyo.

Ferdian Trikusuma· 2 minggu lalu
5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service
Gaya Hidup

5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service

5 hal yang sebaiknya dihindari saat komplain ke customer service agar keluhan tidak makin rumit dan lebih mudah mendapatkan penyelesaian.

Rayda Iskandar· 2 minggu lalu
Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?
Gaya Hidup

Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?

Perubahan teknologi dan dunia bisnis menuntut tenaga kerja terus belajar agar mampu beradaptasi dan tetap relevan menghadapi kebutuhan masa depan.

Fadia Luthfiani· 2 minggu lalu