Perubahan cara membayar membuat transaksi sehari-hari semakin praktis. Pembayaran nontunai tumbuh pesat, sementara uang tunai masih digunakan masyarakat.
RUNTUT.COM - Bayar makan, beli kopi, sampai belanja kebutuhan harian kini bisa selesai hanya dengan satu kali pindai. Uang tunai tak lagi selalu berpindah tangan, sementara transaksi nontunai semakin mudah ditemukan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Di balik kepraktisan tersebut, muncul pertanyaan, apakah cara membayar juga bisa memengaruhi cara seseorang membelanjakan uang?
Perubahan itu terlihat dari pertumbuhan transaksi digital di Indonesia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan. Sementara itu, transaksi QRIS tumbuh 67,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pembayaran digital berkembang pesat, uang tunai belum sepenuhnya ditinggalkan. Bank Indonesia mencatat uang kartal yang beredar pada Agustus 2026 tetap tumbuh 12,88 persen secara tahunan menjadi Rp1.332 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menggunakan kedua metode pembayaran tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Perubahan cara membayar kemudian menarik perhatian dalam penelitian mengenai perilaku konsumen. Salah satunya adalah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Retailing pada 2024. Peneliti menganalisis 71 penelitian mengenai hubungan metode pembayaran dengan perilaku belanja dan menemukan adanya fenomena yang disebut cashless effect.
Fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan konsumen untuk mengeluarkan lebih banyak uang ketika menggunakan metode pembayaran nontunai dibandingkan uang tunai. Namun, efeknya relatif kecil dan tidak selalu muncul dalam setiap kondisi. Jenis pembelian serta situasi ketika transaksi berlangsung juga dapat memengaruhi perilaku konsumen.
Temuan tersebut membuat anggapan bahwa pembayaran digital otomatis membuat seseorang boros menjadi terlalu sederhana. Penelitian terhadap 238 pengguna dompet digital di Jakarta yang diterbitkan pada 2025, misalnya, tidak menemukan pengaruh signifikan penggunaan dompet digital terhadap perilaku pembelian impulsif dalam model penelitian tersebut.
Meski demikian, pengalaman membayar dengan uang tunai dan nontunai tetap berbeda. Ketika menggunakan uang tunai, jumlah uang yang keluar terlihat secara langsung. Sebaliknya, pembayaran digital dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar sehingga transaksi terasa lebih cepat dan praktis.
Perbedaannya mungkin terasa ketika seseorang melakukan pembelian kecil secara berulang. Membeli minuman, makanan, atau kebutuhan lain dengan nominal puluhan ribu rupiah mungkin terlihat ringan dalam satu transaksi. Namun, jika dilakukan berkali-kali, jumlahnya dapat menjadi pengeluaran yang lebih besar.
Karena itu, perkembangan pembayaran nontunai bukan hanya soal perubahan teknologi dalam sistem pembayaran. Cara masyarakat bertransaksi juga ikut berubah. Kemudahan membayar membuat aktivitas sehari-hari semakin praktis, tetapi tetap membutuhkan kesadaran dalam mengatur pengeluaran.
Sehingga, bukan QRIS atau pembayaran digital yang secara otomatis membuat seseorang boros. Yang berubah adalah cara uang berpindah tangan, sementara keputusan untuk membelanjakannya tetap berada pada masing-masing orang.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab