Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, dari aktivitas fisik hingga ruang bertemu dan membangun komunitas di tengah rutinitas digital.
RUNTUT.COM - Bagi sebagian Gen Z, lari bukan lagi sekadar aktivitas mengejar keringat di pagi atau sore hari. Olahraga yang sedang ngetren ini telah berubah menjadi ruang sosial baru, tempat anak muda menjaga kebugaran, mengikuti tren hidup sehat, hingga menemukan komunitas melalui berbagai kegiatan fun run.
Perubahan ini membuat aktivitas lari semakin dekat dengan keseharian Gen Z, terutama di tengah kebiasaan mereka yang juga tidak lepas dari dunia digital dan media sosial.
Bagi sebagian anak muda, lari menawarkan aktivitas yang berbeda dari rutinitas di depan layar. Kegiatan yang awalnya bisa dilakukan seorang diri kini semakin sering dikemas dalam bentuk kegiatan bersama, mulai dari running club, fun run, hingga agenda olahraga yang mempertemukan orang-orang dengan minat serupa.
Lari Jadi Pilihan di Tengah Rutinitas Digital
Kebiasaan tersebut menarik jika melihat bagaimana Gen Z menghabiskan waktu luangnya. Survei Jakpat pada 10–12 Desember 2025 terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun dari seluruh Indonesia menunjukkan 63 persen Gen Z mengisi waktu luang dengan scrolling media sosial. Sementara itu, 32 persen memilih berolahraga.
Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial masih menjadi bagian besar dari keseharian Gen Z. Namun, di saat yang sama, olahraga menjadi salah satu pilihan untuk menghabiskan waktu di luar layar. Dalam konteks inilah lari berkembang bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai cara untuk mengisi waktu dan berinteraksi secara langsung.
Perkembangan lari juga terlihat dari laporan Year in Sport Trend 2025 yang dirilis Strava. Laporan tersebut menganalisis miliaran aktivitas dari komunitas Strava serta hasil survei terhadap lebih dari 30.000 responden, baik pengguna maupun bukan pengguna Strava. Dalam laporan itu, lari tercatat sebagai olahraga paling populer di platform Strava sepanjang 2025.
Ketertarikan Gen Z terhadap lari juga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik. Strava mencatat Gen Z 75 persen lebih mungkin dibandingkan Gen X untuk menyebut race atau acara olahraga sebagai motivasi utama berolahraga. Gen Z juga 39 persen lebih mungkin dibandingkan Gen X menggunakan olahraga sebagai cara untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.
Running Club Jadi Ruang Bertemu
Hal tersebut ikut terlihat dari pertumbuhan komunitas olahraga. Sepanjang 2025, jumlah klub baru di Strava hampir empat kali lipat hingga mencapai satu juta klub. Klub lari menjadi salah satu yang mengalami pertumbuhan besar dengan peningkatan 3,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Aktivitas yang diselenggarakan klub juga meningkat 1,5 kali lipat secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa lari semakin memiliki sisi sosial. Seseorang bisa datang untuk berlari, tetapi kemudian mendapatkan teman, mengikuti agenda komunitas, atau menemukan lingkungan baru dengan ketertarikan yang sama. Aktivitas yang sederhana akhirnya berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial di luar layar.
Meski begitu, meningkatnya tren lari tidak berarti Gen Z meninggalkan media sosial. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Informasi mengenai jadwal running club, ajakan mengikuti fun run, hingga dokumentasi aktivitas lari masih banyak dibagikan melalui platform digital.
Dengan begitu, tren lari di kalangan Gen Z tidak semata-mata menjadi cerita tentang meninggalkan media sosial. Lebih dari itu, lari menunjukkan adanya pilihan aktivitas yang memungkinkan anak muda untuk bergerak dan membangun koneksi secara langsung di tengah rutinitas digital.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab