Runtut.com
Gaya HidupBreaking News

Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas

Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, dari aktivitas fisik hingga ruang bertemu dan membangun komunitas di tengah rutinitas digital.

3 menit baca
1
Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas
Sekumpulan orang yang sedang melakukan kegiatan berlari. — Mike Cox via unsplash.

RUNTUT.COM - Bagi sebagian Gen Z, lari bukan lagi sekadar aktivitas mengejar keringat di pagi atau sore hari. Olahraga yang sedang ngetren ini telah berubah menjadi ruang sosial baru, tempat anak muda menjaga kebugaran, mengikuti tren hidup sehat, hingga menemukan komunitas melalui berbagai kegiatan fun run.

Perubahan ini membuat aktivitas lari semakin dekat dengan keseharian Gen Z, terutama di tengah kebiasaan mereka yang juga tidak lepas dari dunia digital dan media sosial.

Bagi sebagian anak muda, lari menawarkan aktivitas yang berbeda dari rutinitas di depan layar. Kegiatan yang awalnya bisa dilakukan seorang diri kini semakin sering dikemas dalam bentuk kegiatan bersama, mulai dari running club, fun run, hingga agenda olahraga yang mempertemukan orang-orang dengan minat serupa.

Lari Jadi Pilihan di Tengah Rutinitas Digital

Kebiasaan tersebut menarik jika melihat bagaimana Gen Z menghabiskan waktu luangnya. Survei Jakpat pada 10–12 Desember 2025 terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun dari seluruh Indonesia menunjukkan 63 persen Gen Z mengisi waktu luang dengan scrolling media sosial. Sementara itu, 32 persen memilih berolahraga.

Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial masih menjadi bagian besar dari keseharian Gen Z. Namun, di saat yang sama, olahraga menjadi salah satu pilihan untuk menghabiskan waktu di luar layar. Dalam konteks inilah lari berkembang bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai cara untuk mengisi waktu dan berinteraksi secara langsung.

Perkembangan lari juga terlihat dari laporan Year in Sport Trend 2025 yang dirilis Strava. Laporan tersebut menganalisis miliaran aktivitas dari komunitas Strava serta hasil survei terhadap lebih dari 30.000 responden, baik pengguna maupun bukan pengguna Strava. Dalam laporan itu, lari tercatat sebagai olahraga paling populer di platform Strava sepanjang 2025.

Ketertarikan Gen Z terhadap lari juga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik. Strava mencatat Gen Z 75 persen lebih mungkin dibandingkan Gen X untuk menyebut race atau acara olahraga sebagai motivasi utama berolahraga. Gen Z juga 39 persen lebih mungkin dibandingkan Gen X menggunakan olahraga sebagai cara untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.

Running Club Jadi Ruang Bertemu

Hal tersebut ikut terlihat dari pertumbuhan komunitas olahraga. Sepanjang 2025, jumlah klub baru di Strava hampir empat kali lipat hingga mencapai satu juta klub. Klub lari menjadi salah satu yang mengalami pertumbuhan besar dengan peningkatan 3,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Aktivitas yang diselenggarakan klub juga meningkat 1,5 kali lipat secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa lari semakin memiliki sisi sosial. Seseorang bisa datang untuk berlari, tetapi kemudian mendapatkan teman, mengikuti agenda komunitas, atau menemukan lingkungan baru dengan ketertarikan yang sama. Aktivitas yang sederhana akhirnya berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial di luar layar.

Meski begitu, meningkatnya tren lari tidak berarti Gen Z meninggalkan media sosial. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Informasi mengenai jadwal running club, ajakan mengikuti fun run, hingga dokumentasi aktivitas lari masih banyak dibagikan melalui platform digital.

Dengan begitu, tren lari di kalangan Gen Z tidak semata-mata menjadi cerita tentang meninggalkan media sosial. Lebih dari itu, lari menunjukkan adanya pilihan aktivitas yang memungkinkan anak muda untuk bergerak dan membangun koneksi secara langsung di tengah rutinitas digital.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Pesona Blok M: Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan
Gaya Hidup

Pesona Blok M: Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan

Jelajahi daya tarik Blok M sebagai pusat budaya Jakarta Selatan. Temukan perpaduan unik memori masa lalu, kafe kekinian, dan kawasan kuliner Little Tokyo.

Ferdian Trikusuma· 8 jam lalu
5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service
Gaya Hidup

5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service

5 hal yang sebaiknya dihindari saat komplain ke customer service agar keluhan tidak makin rumit dan lebih mudah mendapatkan penyelesaian.

Rayda Iskandar· 2 hari lalu
Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?
Gaya Hidup

Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?

Perubahan teknologi dan dunia bisnis menuntut tenaga kerja terus belajar agar mampu beradaptasi dan tetap relevan menghadapi kebutuhan masa depan.

Fadia Luthfiani· 2 hari lalu
Kenali 5 Hal yang Perlu Dihindari Moderator agar Diskusi Berjalan Efektif
Gaya Hidup

Kenali 5 Hal yang Perlu Dihindari Moderator agar Diskusi Berjalan Efektif

Moderator punya peran penting dalam menjaga diskusi tetap terarah. Kenali lima kesalahan yang sering dilakukan agar jalannya diskusi tetap efektif.

Rayda Iskandar· 5 hari lalu
Dari Charity Run hingga Kesehatan Mental, Mengapa Tren Lari Terus Bertumbuh?
Gaya Hidup

Dari Charity Run hingga Kesehatan Mental, Mengapa Tren Lari Terus Bertumbuh?

Tren lari tak lagi sekadar olahraga. Dari charity run untuk penyintas kanker hingga kampanye kesehatan mental, menjadi gerakan sosial yang terus berkembang.

Mila Nabilah· 6 Juli 2026
Alasan Generasi Muda Kini Makin Menggandrungi Komunitas Permainan Tradisional
Gaya Hidup

Alasan Generasi Muda Kini Makin Menggandrungi Komunitas Permainan Tradisional

Di tengah gempuran era digital, orang dewasa justru mencari ketenangan lewat komunitas permainan tradisional. Simak analisis psikologis dan riset ilmiahnya di s

Tegar Herlambang· 13 Juni 2026