Runtut.com

Dari Charity Run hingga Kesehatan Mental, Mengapa Tren Lari Terus Bertumbuh?

Tren lari tak lagi sekadar olahraga. Dari charity run untuk penyintas kanker hingga kampanye kesehatan mental, menjadi gerakan sosial yang terus berkembang.

5 menit baca
10
Tren lari terus bertumbuh
BTN Jakarta Internasional Marathon 2026 — Jakarta Internasional Marathon

RUNTUT.COM - Jika beberapa tahun lalu lari identik dengan atlet atau mereka yang sedang menjalani program kebugaran, kini pemandangan itu berubah. Setiap akhir pekan, jalan protokol, taman kota, hingga kawasan car free day dipenuhi ribuan orang yang mengenakan sepatu lari, kaus komunitas, dan nomor peserta berbagai ajang fun run, charity run, hingga maraton.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, lari berkembang menjadi gerakan sosial yang memadukan kesehatan, solidaritas, filantropi, dan bahkan advokasi.

Bukan Sekadar Olahraga

Perkembangan lari dalam satu dekade terakhir menunjukkan pergeseran makna. Jika dahulu tujuan utamanya adalah meningkatkan kebugaran, kini lari menjadi ruang untuk membangun komunitas, menggalang dana, mengampanyekan isu sosial, hingga memperkuat kesehatan mental.

Di banyak negara, penyelenggaraan charity run telah menjadi agenda tahunan. Dana yang terkumpul dari biaya pendaftaran maupun donasi digunakan untuk mendukung penelitian kanker, layanan kesehatan mental, rumah sakit anak, bantuan kemanusiaan, hingga pelestarian lingkungan.

Salah satu contoh paling dikenal adalah berbagai kegiatan Race for the Cure, yang mengajak masyarakat berlari sambil meningkatkan kesadaran terhadap kanker payudara dan menggalang dana bagi penelitian serta pendampingan penyintas. Model serupa kemudian diadaptasi oleh banyak organisasi di berbagai negara dengan isu yang beragam.

Di Indonesia, tren tersebut juga mulai berkembang. Sejumlah kegiatan lari mengusung misi sosial, mulai dari penggalangan dana bagi pasien kanker, bantuan pendidikan, hingga dukungan bagi komunitas penyandang disabilitas dan korban bencana.

Salah satu contohnya adalah partisipasi dr. Muhammad Kamil dalam ajang Run Against Cancer (RAC) 2025 di Semarang. Pada Februari 2025, ia menuntaskan kategori Ultra Charity Run 55 kilometer, sebuah kategori yang tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga mewajibkan peserta menggalang donasi bagi pejuang kanker. Dana yang terkumpul disalurkan untuk mendukung anak-anak penyintas kanker dan keluarga mereka melalui organisasi pendamping pasien kanker. Ajang tersebut juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini, pemeriksaan kesehatan rutin, serta pola hidup sehat.

Lari sebagai aksi solidaritas
Rutinitas latihan dr. Muhammad Kamil menjadi bagian dari persiapan menuju Ultra Charity Run 55 kilometer di Run Against Cancer 2025. Ajang tersebut menggabungkan olahraga dengan penggalangan dana dan kampanye kepedulian terhadap pasien kanker. — Instagram @Kamilmoon_

Pesan yang diusung dr. Muhammad Kamil sejalan dengan semangat bahwa olahraga dapat menjadi sarana membangun empati. Dalam konteks ini, garis finis bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol dukungan bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Bayar Makin Praktis, Benarkah Transaksi Nontunai Bikin Orang Lebih Boros?
Gaya Hidup

Bayar Makin Praktis, Benarkah Transaksi Nontunai Bikin Orang Lebih Boros?

Perubahan cara membayar membuat transaksi sehari-hari semakin praktis. Pembayaran nontunai tumbuh pesat, sementara uang tunai masih digunakan masyarakat.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
5 Tips Mengatur Keuangan Bulanan agar Mahasiswa Tidak Bokek di Akhir Bulan
Gaya Hidup

5 Tips Mengatur Keuangan Bulanan agar Mahasiswa Tidak Bokek di Akhir Bulan

Sering bokek sebelum akhir bulan? Coba lima tips mengatur uang bulanan ini, mulai dari mencatat pengeluaran sampai bijak memakai paylater.

Rayda Iskandar· 1 minggu lalu
Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas
Gaya Hidup

Tren Lari di Kalangan Gen Z, dari Pengusir Doomscrolling hingga Ruang Komunitas

Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z, dari aktivitas fisik hingga ruang bertemu dan membangun komunitas di tengah rutinitas digital.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 minggu lalu
Pesona Blok M Sebagai Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan
Gaya Hidup

Pesona Blok M Sebagai Jantung Budaya dan Tempat Nongkrong Lintas Generasi di Jakarta Selatan

Jelajahi daya tarik Blok M sebagai pusat budaya Jakarta Selatan. Temukan perpaduan unik memori masa lalu, kafe kekinian, dan kawasan kuliner Little Tokyo.

Ferdian Trikusuma· 2 minggu lalu
5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service
Gaya Hidup

5 Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menyampaikan Komplain ke Customer Service

5 hal yang sebaiknya dihindari saat komplain ke customer service agar keluhan tidak makin rumit dan lebih mudah mendapatkan penyelesaian.

Rayda Iskandar· 2 minggu lalu
Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?
Gaya Hidup

Menghadapi Perubahan Dunia Kerja, Mengapa Manusia Perlu Terus Belajar?

Perubahan teknologi dan dunia bisnis menuntut tenaga kerja terus belajar agar mampu beradaptasi dan tetap relevan menghadapi kebutuhan masa depan.

Fadia Luthfiani· 2 minggu lalu