Runtut.com

Menelusuri Kejayaan Kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera

Sebelum Indonesia merdeka, Sumatera telah menjadi pusat peradaban dan jalur perdagangan dunia. Simak perjalanan sejarah tiga kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera.

4 menit baca
Kerajaan Pagaruyung
Kerajaan Pagaruyung — foto: Atourin

3. Kerajaan Pagaruyung 

Kerajaan Pagaruyung didirikan pada 1347 M oleh Adityawarman, mantan panglima Majapahit dan penguasa Malayapura, yang memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman Minangkabau untuk menguasai jalur perdagangan emas.

Antara tahun 1371–1377, Pagaruyung aktif menjalin diplomasi internasional dengan mengirim utusan ke Dinasti Ming di Tiongkok.

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Pagaruyung bertransisi dari bercorak Hindu-Buddha menjadi kerajaan Islam di bawah Sultan Alif.

Pemerintahan dijalankan melalui sistem kepemimpinan bertiga (Rajo Tigo Selo), yaitu Raja Alam (kekuasaan tertinggi), Raja Adat (adat istiadat), dan Raja Ibadat (keagamaan). Dari era inilah lahir filosofi Minangkabau: "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah".

Pada awal abad ke-19, terjadi perselisihan internal antara Kaum Padri dan Kaum Adat. Pihak kerajaan di bawah Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah meminta bantuan militer Belanda pada 10 Februari 1821.

Belanda memanfaatkan situasi ini untuk menguasai Minangkabau hingga memicu Perang Padri. Setelah Sultan Tangkal Alam ditangkap dan diasingkan ke Batavia pada 1833, kedaulatan Pagaruyung resmi berakhir.

Peninggalan sejarah utamanya yang megah hingga kini adalah Istano Basa Pagaruyung dengan ciri khas arsitektur beratap gonjong.




Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua