Runtut.com

Menelusuri Kejayaan Kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera

Sebelum Indonesia merdeka, Sumatera telah menjadi pusat peradaban dan jalur perdagangan dunia. Simak perjalanan sejarah tiga kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera.

4 menit baca
Kerajaan Pagaruyung
Kerajaan Pagaruyung — foto: Atourin

Runtut.com – Pulau Sumatera memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban, perdagangan, maritim, dan penyebaran agama di Nusantara sebelum kemerdekaan Indonesia. Kerajaan-kerajaan di Sumatera terbagi ke dalam beberapa fase, yaitu periode klasik (Hindu-Budha) dan periode Islam (Kesultanan). 

Berikut adalah profil singkat kerajaan-kerajaan utama di Sumatera bercorak Hindu-Budha: 

1. Kerajaan Sriwijaya 

Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya — Foto: Gramedia

Kerajaan Sriwijaya adalah kedatuan bahari terbesar di Nusantara yang berdiri dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, dengan pusat pemerintahan awal berada di sekitar Kota Palembang, Sumatera Selatan. 

Pendiri Kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan yang menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar yang ada di wilayah Indonesia. Letaknya kerajaan ini berada tepat di Pulau Sumatera dengan corak khasnya yaitu Budha. 

Kerajaan Sriwijaya berdiri pada 16 Juni 682 M oleh Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa setelah melakukan perjalanan suci dan menaklukkan beberapa wilayah, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Keberadaan dan posisinya sebagai pusat pembelajaran agama Buddha juga telah dicatat oleh biksu Tiongkok, I-Tsing, saat singgah pada tahun 671 M.

Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 hingga ke-9 M di bawah Raja Balaputradewa. Wilayahnya membentang luas dari Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Semenanjung Malaya, Singapura, hingga Thailand Selatan.

Menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda, Sriwijaya menjadi kekuatan maritim utama dan pusat studi Buddha Mahayana di Asia Tenggara, dengan hubungan diplomatik erat bersama Kerajaan Pala di India (Prasasti Nalanda).

Kemunduran Sriwijaya dimulai pada abad ke-11 akibat invasi besar Kerajaan Chola dari India (1025 M), disusul tekanan dari Jawa melalui Ekspedisi Pamalayu Singasari (1288 M) dan ekspansi Majapahit.

Faktor alam seperti pendangkalan Sungai Musi juga memperlemah sektor ekonomi dan perdagangannya. Sriwijaya akhirnya runtuh total sekitar tahun 1377 M setelah ditaklukkan oleh Majapahit.

Kebesaran Sriwijaya diabadikan lewat prasasti-prasasti utamanya, seperti Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Talang Tuwo (684 M), Kota Kapur (686 M), Telaga Batu, dan Karang Berahi.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua