Menelusuri Kejayaan Kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera
Sebelum Indonesia merdeka, Sumatera telah menjadi pusat peradaban dan jalur perdagangan dunia. Simak perjalanan sejarah tiga kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera.
Kerajaan Melayu (Malayapura/Dharmasraya) — foto: paco-paco- WordPress.com
Setelah Kerajaan Sriwijaya melemah akibat serangan Rajendra Chola I pada 1025 M, Kerajaan Melayu kembali bangkit di wilayah hulu Sungai Batanghari, Sumatera Barat.
Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Mauli (Wangsa Mauli) yang didirikan oleh Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa pada tahun 1183 M dengan pusat pemerintahan di Dharmasraya.
Masa kejayaan kerajaan ini terjadi pada abad ke-13 di bawah pemerintahan Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Pengaruh kekuasaannya meluas hingga mencakup 15 wilayah di Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Jawa bagian barat.
Pada tahun 1286 M, Raja Kertanegara dari Singhasari mengirimkan Arca Amoghapasa melalui Ekspedisi Pamalayu sebagai simbol persatuan untuk menghadapi potensi ancaman Dinasti Mongol.
Memasuki tahun 1347 M, kekuasaan beralih ke tangan Adityawarman, tokoh yang memiliki darah keturunan Dharmasraya dan Singhasari/Majapahit.
Adityawarman memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman Minangkabau (Pagaruyung/Suruaso) dan memproklamasikan berdirinya kerajaan Malayapura (Kanakamedini) dengan gelar Maharajadiraja.
Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha (khususnya Buddha Tantrayana) ini meninggalkan berbagai warisan sejarah penting, seperti Prasasti Grahi (1183 M), Prasasti Padang Roco (1286 M), Prasasti Suruaso (1316 M), Prasasti Kuburajo (1347 M), serta Arca Amoghapasa dan Arca Bhairawa.