Runtut.com

​Bagaimana jika Perjuangan Terbesar dalam Hidup Justru Tidak Menghasilkan Apa Pun?

Review novel klasik The Old Man and the Sea: kisah seorang nelayan tua yang merefleksikan makna perjuangan, harapan, dan harga diri manusia.

4 menit baca
27
​Bagaimana jika Perjuangan Terbesar dalam Hidup Justru Tidak Menghasilkan Apa Pun?
The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway — Foto: Instagram @twinoftribeca

Manusia kerap diajarkan untuk mengejar hasil, namun jarang diajarkan menghargai proses. Kita merayakan mereka yang berhasil mencapai tujuan, tetapi jarang menaruh perhatian pada mereka yang telah berjuang sekuat tenaga meski akhirnya kehilangan segalanya. Dari paradoks itulah The Old Man and the Sea berangkat. Di balik kisah sederhana seorang nelayan tua dengan seekor marlin, Ernest Hemingway menyimpan pertanyaan yang hingga kini masih terasa relevan: apa sebenarnya makna dari sebuah kemenangan?

The Old Man and the Sea pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 dan menjadi karya terakhir Ernest Hemingway yang terbit semasa hidupnya. Novel ini mengisahkan perjuangan Santiago menangkap seekor ikan marlin raksasa setelah delapan puluh empat hari melaut tanpa hasil. Namun, perjalanan pulangnya justru menghadirkan pertarungan yang jauh lebih berat ketika kawanan hiu menghabiskan hasil tangkapannya hingga hanya menyisakan kerangka. Melalui kisah yang tampak sederhana tersebut, Hemingway menghadirkan perenungan tentang keteguhan, kehilangan, dan martabat manusia. Novel ini dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk kategori Fiksi pada tahun 1953, serta menjadi salah satu karya yang mengukuhkan Hemingway untuk menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

Santiago adalah seorang nelayan tua yang telah berhari-hari berlayar tanpa membawa pulang seekor ikan pun. Di mata masyarakat sekitarnya, ia dijuluki sebagai salao—sebuah sebutan untuk bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Namun, di balik tubuhnya yang kian renta dan kehidupannya yang begitu bersahaja, Santiago menyimpan prinsip serta keteguhan yang kokoh. Ia terus melaut bukan semata-mata untuk mencari ikan, melainkan sebagai bentuk lain dari usaha mempertahankan harga diri. Ia memegang teguh keyakinan bahwa manusia tidak ditentukan oleh nasib buruk yang menimpanya.

Pada pembacaan pertama, kisah Santiago mudah dipahami sebagai cerita seorang nelayan tua yang tengah berusaha mematahkan kutukan nasib buruk. Namun, Hemingway ternyata tidak sedang menulis kisah pengelanaan biasa. Ia menulis sesuatu yang lebih universal: bagaimana manusia memaknai perjuangan ketika hasil akhirnya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Setelah delapan puluh empat hari tanpa tangkapan, Santiago akhirnya berhasil menaklukkan seekor marlin raksasa yang ukurannya jauh lebih besar dari perahunya di tengah laut. Momen itu seolah menjadi jawaban telak atas segala keraguan yang sempat menghantuinya. Pembaca pun diajak percaya bahwa inilah akhir yang layak bagi seorang tokoh yang tidak pernah menyerah. Namun, puluhan halaman berikutnya seketika mematahkan harapan pembaca yang menginginkan akhir yang bahagia bagi Santiago.

Hemingway memilih jalan cerita yang tidak diduga. Ketika Santiago dalam perjalanan pulang, marlin yang diperolehnya dengan susah payah justru habis dimangsa oleh kawanan hiu hingga yang tersisa hanyalah kerangkanya. Di titik inilah The Old Man and the Sea berhenti mengisahkan tentang perkara memancing, dan berubah wujud menjadi refleksi mendalam tentang eksistensi manusia.

Jika seluruh hasil perjuangan akhirnya hilang, apakah perjuangan tersebut masih memiliki makna?

Pertanyaan tersebut menjadi jantung dari novel ini. Hemingway tidak menawarkan kemenangan dalam pengertian yang lazim. Santiago memang gagal membawa pulang marlin secara utuh, tetapi ia tidak pernah kehilangan kedigdayaan untuk terus melawan. Secara materi ia mungkin kalah, namun secara moral ia menang lewat keteguhan yang berhasil dipertahankannya. Barangkali inilah yang dimaksud Hemingway melalui kalimatnya yang paling terkenal:

"A man can be destroyed, but not defeated."

Manusia mungkin dapat dihancurkan oleh keadaan, usia, ataupun nasib, tetapi ia tidak akan benar-benar kalah selagi ia masih memilih untuk bertahan dan melawan.

Kekuatan novel ini juga terletak pada cara Hemingway menyisipkan makna tersirat melalui simbol-simbol yang sederhana. Laut bertindak sebagai representasi ruang kehidupan yang penuh ketidakpastian. Marlin menjadi lambang cita-cita atau pencapaian terbesar yang rela diperjuangkan dengan seluruh sisa kemampuan. Sementara itu, kehadiran hiu menegaskan kenyataan pahit bahwa hidup tidak selalu membiarkan manusia menikmati hasil dari jerih payahnya.

Ada kalanya waktu, keadaan, atau nasib merenggut apa yang telah berhasil kita raih. Namun, satu hal yang tidak dapat direnggut adalah karakter dan mentalitas yang terbentuk selama proses perjuangan itu sendiri.

Lebih dari tujuh dekade sejak pertama kali diterbitkan, The Old Man and the Sea tetap terasa relevan. Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan hanya melalui pencapaian yang tampak, Hemingway mengingatkan bahwa nilai seorang manusia tidak selalu ditentukan oleh hasil akhir. Terdapat perjuangan yang mungkin tidak pernah berbuah seperti yang diharapkan, tetapi tetap layak dihargai karena membentuk keteguhan, keberanian, dan martabat. Santiago memang pulang hanya dengan seonggok kerangka marlin. Namun, ia membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: harga dirinya yang tetap utuh sebagai manusia.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua