JAWA TIMUR - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) mengembangkan ISYARA, media edukasi digital interaktif yang membantu siswa tunagrahita ringan mengenali situasi tidak aman serta memahami tindakan perlindungan diri dari risiko kekerasan seksual.

Pengembangan inovasi tersebut dilakukan selama sekitar empat bulan di SLBN Gedangan, Sidoarjo. ISYARA dirancang melalui sejumlah tahapan, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi, hingga evaluasi dengan menyesuaikan karakteristik belajar siswa tunagrahita ringan.

Media ini memadukan literasi komunikasi, kecerdasan sosial, dan edukasi perlindungan diri dalam bentuk pembelajaran digital yang mudah dipahami.

Ketua tim PKM-RSH, Syifa Dhira Kristinawati, menjelaskan bahwa gagasan pengembangan inovasi ini berangkat dari kondisi sebagian siswa yang masih mengalami kesulitan dalam mengenali perilaku tidak aman maupun menyampaikan pengalaman yang dialami.

“Anak tunagrahita masih sering bingung membedakan situasi yang termasuk kekerasan seksual atau sentuhan yang tidak sesuai. Karena itu, kami ingin membuat media yang sesuai dengan karakteristik belajar mereka,” jelasnya.

Runtut.com
Tim PKM-RSH Unesa melakukan proses pengembangan ISYARA melalui tahapan produksi dan penyusunan materi pembelajaran berbasis teknologi digital. — Tim ISYARA Unesa

Media pembelajaran ini dikembangkan menggunakan Articulate Storyline dengan menghadirkan berbagai fitur pembelajaran berupa audio, gambar, ilustrasi, animasi, serta simulasi situasi tertentu. Melalui pendekatan tersebut, materi edukasi disusun agar lebih mudah diterima oleh siswa dengan kebutuhan belajar khusus.

“Media kami berbasis Articulate Storyline. Di dalamnya ada voice note, ilustrasi, dan rancangan materi yang dibuat agar anak lebih mudah memahami pembelajaran,” ujarnya.

Materi yang ada di dalamnya terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama berfokus pada literasi komunikasi yang membantu siswa mengenali bagian tubuh pribadi, memahami emosi dasar, serta menyampaikan perasaan ketika menghadapi kondisi tertentu. Siswa juga dilatih mengenali situasi yang membuat mereka merasa aman maupun tidak nyaman.

Bagian kedua berkaitan dengan kecerdasan sosial. Pada tahap ini, siswa diajak memahami lingkungan sekitar, mengenali peran keluarga, guru, teman, dan orang asing. Materi tersebut juga mengajarkan perbedaan antara sentuhan aman dan sentuhan yang berpotensi membahayakan.

Sementara itu, bagian ketiga menekankan aspek perlindungan diri melalui simulasi berbagai kondisi berisiko. Siswa diarahkan untuk menentukan langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

Runtut.com
Salah satu panel materi dalam ISYARA yang menyajikan pembelajaran interaktif untuk membantu siswa tunagrahita memahami konsep komunikasi, emosi, dan perlindungan diri. — Tim ISYARA Unesa

Berdasarkan kajian awal tim, kemampuan siswa dalam aspek literasi komunikasi, kecerdasan sosial, dan perlindungan diri masih membutuhkan penguatan. Rata-rata kemampuan awal literasi komunikasi berada pada angka 2,64, kecerdasan sosial 2,88, serta kesadaran perlindungan diri 2,50.

Hasil tersebut menjadi dasar tim dalam menyusun desain pembelajaran. Proses pengembangan dilakukan melalui observasi siswa, wawancara dengan guru pendamping, penyusunan materi, pembuatan desain media, hingga validasi oleh ahli materi, ahli media, dan praktisi pendidikan.

Hasil validasi menunjukkan ISYARA memperoleh nilai rata-rata 4,38 dengan kategori sangat baik dari aspek pedagogis, media, dan kepraktisan. Implementasi media tersebut juga menunjukkan peningkatan capaian pembelajaran. Kelompok eksperimen memperoleh nilai rata-rata post-test sebesar 89,20, sedangkan kelompok kontrol mencapai 51,80.

Adapun tim pengembang ISYARA terdiri atas Syifa Dhira Kristinawati dari S1 Pendidikan Bahasa Inggris sebagai ketua, bersama Dian Ramadhani dari S1 Manajemen Pendidikan, Nadine Lury Qotrunada dari S1 Pendidikan Khusus, Muh. Theodorick Alfareizhel dari S1 Teknologi Pendidikan, dan Sevy Kurnia Virgiana dari S1 Psikologi. Tim tersebut dibimbing Arik Susanti.

Melalui inovasi ini, mahasiswa Unesa menghadirkan alternatif media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan sekolah, guru, dan keluarga dalam memberikan edukasi perlindungan diri bagi siswa tunagrahita. Pengembangan ini menjadi bentuk kontribusi riset mahasiswa dalam menjawab kebutuhan pendidikan inklusif melalui teknologi pembelajaran yang lebih adaptif dan berdampak.