Pusat Literasi Unesa bersama Selantang BKL Asoka Bondowoso menghadirkan terapi literasi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. — Dok. Pribadi/Pusat Literasi Unesa
BONDOWOSO — Keterbatasan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan lansia mendorong Pusat Literasi Unesa (PLU) menghadirkan terapi literasi melalui program Pojok Baca di Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) BKL Asoka, Kabupaten Bondowoso. Program ini dirancang sebagai ruang aktivitas yang mampu menjaga kemampuan kognitif sekaligus memperkuat interaksi sosial para lansia.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kualitas Kehidupan Lansia Melalui Terapi Literasi Pojok Baca” ini dilaksanakan di kediaman Sukadi, Perumahan Saliwiryo Pranowo, Kota Kulon, Bondowoso, pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Sebanyak 22 peserta lansia bersama pengurus Selantang BKL Asoka mengikuti rangkaian kegiatan yang menggabungkan edukasi literasi, pelatihan bercerita, serta pengembangan kreativitas.
Kepala Pusat Literasi Unesa, Kisyani, menyoroti masih minimnya ketersediaan buku yang secara khusus dirancang untuk kelompok lanjut usia. Menurutnya, industri perbukuan selama ini lebih banyak menghadirkan bacaan bagi anak-anak, remaja, dan kelompok usia produktif, sementara kebutuhan literasi lansia belum mendapat perhatian yang cukup.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah meningkatnya penggunaan perangkat digital oleh lansia. Sebagian peserta mengaku lebih sering memanfaatkan gawai untuk mengakses hiburan digital, seperti drama Korea maupun drama China.
Meski demikian, keberadaan bacaan fisik tetap memiliki peran penting karena dapat memberikan aktivitas yang menenangkan sekaligus merangsang kemampuan berpikir.
Kepala Pusat Literasi Unesa saat menyampaikan materi dalam Peningkatan Kualitas Kehidupan Lansia Melalui Terapi Literasi Pojok Baca — Dok. Pribadi/Pusat Literasi Unesa
“Melalui diskusi ini terungkap bahwa lansia yang sudah memiliki cucu memiliki dorongan alami untuk bercerita. Aktivitas mendongeng dapat menjadi jembatan emosional antara lansia dan generasi muda,” ujar Guru Besar bidang Linguistik Unesa itu.
Dalam kegiatan ini, PLU memberikan pelatihan teknik bercerita tanpa buku (storytelling) dan teknik membacakan buku (read aloud). Metode ini bertujuan membantu lansia menjaga daya ingat, melatih kemampuan komunikasi, serta mempertahankan stimulasi kognitif melalui aktivitas literasi.
Selain sesi membaca dan bercerita, peserta juga diajak mengembangkan kreativitas melalui kegiatan merangkai pantun. Sebagai bentuk keberlanjutan program, Pusat Literasi Unesa menyerahkan sejumlah fasilitas pendukung berupa lemari buku, karpet, serta koleksi bacaan pilihan untuk membangun Pojok Baca.
Kepala Selantang BKL Asoka, Yulius Mujianto, bersama Sekretaris Selantang Vita Musyafiri menyambut baik program tersebut. Mereka menilai keberadaan Pojok Baca memberikan peluang bagi para lansia untuk tetap aktif belajar dan berinteraksi.
Melalui program ini, Pusat Literasi Unesa memperluas pemaknaan literasi sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat, sarana membangun kesehatan sosial, menjaga keterhubungan antar-generasi, dan menghadirkan ruang belajar bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Kontributor: Tarisa Adistia - S1 Sastra Indonesia Unesa