SURABAYA – Upaya menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah terus dilakukan melalui berbagai inovasi. Salah satunya hadir di SDN Kendangsari II Surabaya melalui program Mading KENSA CERIA (Kendangsari 2 Cerdas, Ekspresif, Responsif, Inspiratif, dan Aktif) yang digagas oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2023, Hindun Naida Ramadhani, dalam kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).

Program yang mulai berjalan sejak Februari hingga Juni tersebut menghadirkan konsep mading berbasis hybrid, yakni mengombinasikan media fisik dan digital sebagai sarana literasi sekaligus ruang ekspresi kreatif bagi peserta didik. Melalui mading ini, karya-karya siswa dipublikasikan secara menarik sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga sekolah.

Hindun menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari keinginan untuk menghidupkan kembali fungsi mading sekolah sekaligus meningkatkan minat baca siswa melalui konten yang selalu diperbarui setiap bulan.

“Tujuannya agar dapat meningkatkan minat membaca siswa-siswi di SDN Kendangsari II dan memberikan insight yang berbeda setiap bulannya. Selain itu, mading juga menjadi lebih hidup karena selalu ada pembaruan,” ujarnya.

Mading KENSA CERIA versi digital
Mading KENSA CERIA versi digital — Dokumentasi Pribadi

Keberadaan Mading KENSA CERIA mendapat sambutan positif dari para siswa. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi setiap kali karya mereka dipajang di papan mading. Tidak hanya tulisan dan gambar, dokumentasi kegiatan yang menampilkan wajah para siswa juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Siswa sangat senang ketika melihat karya mereka dipajang. Mereka juga bangga ketika foto mereka muncul di mading,” tambah Hindun.

Respon serupa datang dari pihak sekolah. Guru-guru menyambut baik hadirnya program tersebut karena mading yang sebelumnya jarang diperbarui kini kembali aktif dan tampil lebih variatif.

Guru pamong, Cahyanti Suyitno, S.Pd., turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, keberadaan mading yang diperbarui secara berkala mampu memberikan warna baru bagi lingkungan belajar siswa serta menjadi sarana apresiasi terhadap kreativitas peserta didik.

Dukungan juga diberikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Muhamad Arif Mahdiannur, S.Pd., M.Pd. Program ini dinilai tidak hanya bermanfaat bagi sekolah, tetapi juga dapat menjadi portofolio bagi siswa yang karya-karyanya dipublikasikan.

Selain menjadi media informasi sekolah, Mading KENSA CERIA juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter, peningkatan partisipasi siswa, dan dokumentasi praktik baik sekolah. Melalui integrasi media fisik dan digital, karya peserta didik memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas oleh guru maupun orang tua.

Program ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat mengenai Pendidikan Berkualitas, karena memberikan akses yang lebih luas terhadap kegiatan literasi dan apresiasi karya peserta didik.

Ke depan, Hindun berharap program yang telah dirintisnya dapat terus berjalan dan dikembangkan oleh pihak sekolah.

“Harapannya tentu program ini bisa terus berlanjut dan dikembangkan. Namun, keberlanjutannya kembali pada kebijakan sekolah karena selama ini saya yang mengelola dan menata mading tersebut,” pungkasnya.