JAWA TIMUR — Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) memperkuat kapasitas guru IPA SMP Kabupaten Pacitan dalam merancang pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang berorientasi pada kearifan lokal.
Kegiatan bertajuk Pendampingan Perancangan Pembelajaran STEM Tim PKM Program Studi S1 Pendidikan IPA FMIPA Unesa bersama peserta kegiatan berfoto usai pelaksanaan penguatan pembelajaran IPA berbasis etno-STEM bagi guru MGMP IPA Kabupaten Pacitan
Berorientasi Kearifan Lokal tersebut dilaksanakan oleh Program Studi S1 Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unesa bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA SMP Kabupaten Pacitan pada 19 Agustus 2026.
Melalui kegiatan ini, tim PKM melakukan sharing strategi perancangan pembelajaran STEM agar guru mampu menghasilkan perangkat pembelajaran yang kontekstual serta relevan dengan kondisi lingkungan sekitar.
Ketua tim Enny Susiyawati, menyampaikan bahwa pembelajaran STEM berbasis kearifan lokal perlu dirancang dengan menjadikan fenomena sekitar sebagai titik awal pembelajaran. Menurutnya, lingkungan dapat menjadi sumber belajar yang membantu peserta didik memahami keterkaitan konsep IPA dengan persoalan nyata.
“Pembelajaran STEM tidak dimulai dari materi IPA yang kemudian ditambahkan unsur teknologi atau rekayasa, tetapi berangkat dari fenomena dan permasalahan yang ada di sekitar peserta didik. Dari sana, siswa dapat belajar menemukan masalah, menganalisis data, dan merancang solusi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, guru diarahkan untuk menyusun rancangan pembelajaran yang mengintegrasikan unsur sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara terpadu.
Proses perancangan dimulai dengan mengidentifikasi fenomena lokal, merumuskan masalah kontekstual, menentukan tantangan rekayasa (engineering challenge), hingga menyusun aktivitas pembelajaran berbasis penyelidikan.
Salah satu konteks yang dikembangkan dalam PKM tersebut adalah kawasan karst Pacitan dengan karakteristik lingkungan dan persoalan ketersediaan air. Fenomena tersebut dapat dijadikan sumber pembelajaran IPA melalui tantangan berupa perancangan solusi sederhana untuk menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau.
Dosen S-1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam itu menambahkan, bahwa pemanfaatan kearifan lokal dalam pembelajaran memberikan ruang bagi guru untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Dengan memanfaatkan kondisi lingkungan sekitar, pembelajaran IPA diharapkan lebih bermakna karena siswa melihat langsung hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan Target 4.1 SDGs yang menekankan pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas dengan hasil belajar yang relevan dan efektif.
Selain itu, pemanfaatan persoalan lingkungan dan kearifan lokal dalam pembelajaran juga memiliki keterkaitan dengan Target 4.7, yang mendorong peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Adapun kegiatan PKM ini melibatkan tim dosen Prodi S1 Pendidikan IPA FMIPA Unesa yang terdiri dari Ketua PKM, Enny Susiyawati, diikuti oleh Nuril Maulida Fauziah, Dyah Astriani, Tutut Nurita, Martini, Erman, dan Laily Rosdiana.
Melalui kegiatan ini, Unesa bersama MGMP IPA SMP Kabupaten Pacitan mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai laboratorium belajar IPA, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.










