Runtut.com

Menyelamatkan NU: Memisahkan Dosa Oknum Pengurus dari Kesucian Jam'iyah

NU adalah warisan para wali, jangan jadikan jam'iyah kambing hitam atas ambisi elite. Kajian struktural untuk mengembalikan khittah asli PBNU.

2 menit baca
24
Menyelamatkan NU: Memisahkan Dosa Oknum Pengurus dari Kesucian Jam'iyah
Suasana penutupan persidangan Munas dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur, Senin (22/6/2026), sebelum terjadi ledakan. — Foto: Dok. Pribadi Basuki Rahmat N via mozaik.inilah.com

Berita tentang kericuhan, politisasi, dan caci maki di Munas NU 2026 Kediri menyebar bak api di sabana kering jagat maya. Hujatan netizen bermunculan, sinisme publik meningkat, dan tidak sedikit yang mulai apatis terhadap Nahdlatul Ulama. Di sinilah letak bahaya terbesarnya: masyarakat mulai menyamakan kesalahan oknum pengurus dengan identitas jam'iyah secara keseluruhan. Nama besar NU berpotensi dijadikan "kambing hitam" atas bobroknya mentalitas segelintir elite.

Warga Nahdliyin dari pelosok desa hingga pimpinan ranting harus berdiri tegak dan memahami satu prinsip dasar: Nahdlatul Ulama adalah Mu'assasah Muqaddasah (institusi yang disucikan oleh doa para Muassis), sedangkan PBNU adalah instrumen administratif yang diisi oleh manusia biasa yang bisa salah, khilaf, dan tergoda dunia.

Perpecahan yang menganga menjelang Muktamar 2026 ini harus disikapi sebagai proses purifikasi (pembersihan) internal. Bagaimana caranya?

Pertama, mengembalikan wibawa Syuriyah secara mutlak. PBNU bukan Perseroan Terbatas (PT) atau Partai Politik. Pemegang saham utamanya adalah para ulama pesantren. Segala bentuk fait accompli (tindakan sepihak) oleh Tanfidziyah dalam penentuan kepanitiaan, lokasi Muktamar, hingga kebijakan strategis, harus tunduk pada Bahtsul Masail Syuriyah.

Kedua, menegakkan Fiqh Siyasah yang bermartabat. Mengutip kaidah Al-Ashbah wa Al-Naza'ir karya Imam Suyuthi: "Tasharruf al-imam 'ala al-ra'iyyah manuthun bi al-maslahah" (Kebijakan pemimpin harus semata-mata demi kemaslahatan umat). Jika faksionalisasi untuk merebut kursi Ketum PBNU justru melahirkan perpecahan di tingkat PCNU dan PWNU, maka ambisi tersebut hukumnya haram dilanjutkan.

Keriuhan di Ploso, Kediri, adalah peringatan keras dari langit. NU tidak akan hancur oleh serangan dari luar, tetapi ia bisa runtuh jika para pengurusnya kehilangan pijakan tasawuf. Sebelum menyambut Muktamar ke-35 pada Agustus 2026, agenda ziarah dan tabarrukan para pengurus ke makam ulama pendahulu tidak boleh sekadar menjadi wisata spiritual pencitraan. Harus ada pertaubatan struktural. Hentikan lobi-lobi transaksional, kembalikan Muktamar sebagai forum Istikharah, dan biarkan nama besar Nahdlatul Ulama tetap harum sebagai benteng terakhir moral bangsa.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari
Sosial Budaya

KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari

Artikel ini membahas berakhirnya kegiatan KKN dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PKM) Kelompok 17 di Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, pada

Naira Khairani Aryadi· 2 hari lalu
RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya
Sosial Budaya

RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya

Standupindo Cilegon membuka kesempatan bagi komika baru dengan total hadiah mencapai jutaan rupiah.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 minggu lalu
Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro
Sosial Budaya

Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro

Seniman FPS-TIM menggelar aksi di Balai Kota dan DPRD DKI menolak komersialisasi TIM oleh Jakpro, menyerukan pemulihan marwah dan fungsi kebudayaan.

Mila Nabilah· 12 Agustus 2026
Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional
Sosial Budaya

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya meraih 2 medali emas di ajang internasional. Prestasi Libels Voice mengharumkan nama Indonesia di Taiwan.

Betriani · 5 Agustus 2026
Jembatan Enang-Enang hingga Restorasi Hutan, Kiprah Partisipatoris Jerhemy Owen di Aceh
Sosial Budaya

Jembatan Enang-Enang hingga Restorasi Hutan, Kiprah Partisipatoris Jerhemy Owen di Aceh

Dari Jembatan Enang-Enang hingga pemulihan hutan Aceh Tamiang, Jerhemy Owen mengajak masyarakat berkolaborasi dalam aksi nyata menjaga lingkungan.

Mila Nabilah· 6 Juli 2026
Fenomena Gen Z Membawa Orang Tua Saat Wawancara Kerja
Sosial Budaya

Fenomena Gen Z Membawa Orang Tua Saat Wawancara Kerja

Fenomena Generasi Z yang membawa orang tua saat wawancara kerja atau dikenal dengan istilah career co-piloting menjadi sorotan publik pada tahun 2026.

Firza Syalia Ghaisani· 2 Juli 2026