Kericuhan yang mewarnai Sidang Pleno Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, bukanlah sebuah kecelakaan sejarah yang berdiri sendiri. Bagi siapa pun yang mengikuti rekam jejak kepengurusan PBNU pasca-Muktamar ke-34 di Lampung (2021), insiden adu urat leher para elite ini hanyalah puncak dari gunung es konflik struktural yang telah lama bergejolak.
Mari kita tarik garis waktunya. Gejolak ini mulai meruncing ketika tata kelola PBNU di bawah kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dirasa oleh sebagian cabang mulai mengadopsi gaya "sentralisasi birokrasi" yang kaku. Pembekuan sejumlah Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) di berbagai daerah, serta penunjukan caretaker (pejabat sementara) dari pusat, memicu resistensi diam-diam di akar rumput.
Menyelamatkan NU: Memisahkan Dosa Oknum Pengurus dari Kesucian Jam'iyah23 Juni 2026 pukul 14.01Pendekatan top-down (dari atas ke bawah) ini melahirkan ketidakpuasan struktural. Puncaknya, sempat santer terdengar kasak-kusuk isu penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB) untuk melengserkan kepengurusan Gus Yahya. Ketegangan internal ini semakin diperparah dengan friksi terbuka antara elite PBNU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang secara tidak langsung membelah loyalitas warga Nahdliyin di level kultural.









