Analisis kritis insiden Sulaeman Tanjung di Munas. Mengapa arogansi pengurus Tanfidziyah yang melanggar AD/ART ini menodai muruah Nahdlatul Ulama?
Ada satu adegan dalam pusaran ricuh Munas-Konbes NU 2026 yang mengiris hati para kader kultural dan santri di akar rumput: meledaknya amarah Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Sulaeman Tanjung. Video yang memperlihatkannya melontarkan protes keras dan emosional di tengah majelis yang dihadiri para Kiai Sepuh, memunculkan pertanyaan fundamental tentang arah kaderisasi moral di tubuh Pengurus Besar.
Dalam Qanun Asasi (Konstitusi Dasar) Nahdlatul Ulama yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, jam'iyah ini didirikan untuk meninggikan kalimat Allah dan menyatukan langkah para ulama, bukan sebagai arena pertarungan ego birokrat.
Insiden Sulaeman Tanjung adalah representasi nyata dari penyakit yang disebut "Kudeta Kultural Tanfidziyah". Dalam nomenklatur NU, Syuriyah (Dewan Kiai) adalah pemimpin tertinggi (Supreme Council), sementara Tanfidziyah (Ketua, Sekjen, dkk) adalah pelaksana harian. Namun, realitas politik PBNU dekade terakhir memperlihatkan bahwa Tanfidziyah sering kali merasa lebih berkuasa karena mereka memegang stempel, akses pendanaan, dan relasi politik.
Ketika keputusan persidangan dianulir demi kemaslahatan oleh otoritas tertinggi (Syuriyah/Rais 'Aam), melawannya dengan teriakan di ruang publik adalah bentuk Su'ul Adab (hilangnya etika). Ini menabrak fatal doktrin dasar Sami'na wa Atha'na yang selalu dicekokkan kepada kader IPNU, PMII, Banser, dan Fatayat di tingkat ranting.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memperingatkan fenomena ini sebagai penyakit Hubbul Jah (gila kedudukan) dan Ta'assub (fanatisme faksi). Ketika syahwat kekuasaan untuk mengontrol hasil Muktamar jauh lebih mendominasi daripada rasa takut kepada Allah dan rasa segan kepada guru (masyayikh), maka lisan seseorang akan dengan mudah lepas kendali.
Khalayak luas dan warga NU harus menyadari: arogansi yang dipertontonkan oknum pengurus ini tidak merepresentasikan wajah asli Nahdlatul Ulama. NU tetaplah tenda besar yang sejuk, namun beberapa tiang penyangganya sedang lapuk karena dimakan rayap oligarki organisasi.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab