Runtut.com

Tragedi Sulaeman Tanjung di Munas NU: Saat Syahwat Kuasa Menabrak Adab Ulama

Analisis kritis insiden Sulaeman Tanjung di Munas. Mengapa arogansi pengurus Tanfidziyah yang melanggar AD/ART ini menodai muruah Nahdlatul Ulama?

2 menit baca
4
Tragedi Sulaeman Tanjung di Munas NU: Saat Syahwat Kuasa Menabrak Adab Ulama
Munas Nahdlatul Ulama ricuh jelang Muktamar 2026. — Foto: Istimewa

Ada satu adegan dalam pusaran ricuh Munas-Konbes NU 2026 yang mengiris hati para kader kultural dan santri di akar rumput: meledaknya amarah Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Sulaeman Tanjung. Video yang memperlihatkannya melontarkan protes keras dan emosional di tengah majelis yang dihadiri para Kiai Sepuh, memunculkan pertanyaan fundamental tentang arah kaderisasi moral di tubuh Pengurus Besar.

Dalam Qanun Asasi (Konstitusi Dasar) Nahdlatul Ulama yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, jam'iyah ini didirikan untuk meninggikan kalimat Allah dan menyatukan langkah para ulama, bukan sebagai arena pertarungan ego birokrat.

Insiden Sulaeman Tanjung adalah representasi nyata dari penyakit yang disebut "Kudeta Kultural Tanfidziyah". Dalam nomenklatur NU, Syuriyah (Dewan Kiai) adalah pemimpin tertinggi (Supreme Council), sementara Tanfidziyah (Ketua, Sekjen, dkk) adalah pelaksana harian. Namun, realitas politik PBNU dekade terakhir memperlihatkan bahwa Tanfidziyah sering kali merasa lebih berkuasa karena mereka memegang stempel, akses pendanaan, dan relasi politik.

Ketika keputusan persidangan dianulir demi kemaslahatan oleh otoritas tertinggi (Syuriyah/Rais 'Aam), melawannya dengan teriakan di ruang publik adalah bentuk Su'ul Adab (hilangnya etika). Ini menabrak fatal doktrin dasar Sami'na wa Atha'na yang selalu dicekokkan kepada kader IPNU, PMII, Banser, dan Fatayat di tingkat ranting.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin memperingatkan fenomena ini sebagai penyakit Hubbul Jah (gila kedudukan) dan Ta'assub (fanatisme faksi). Ketika syahwat kekuasaan untuk mengontrol hasil Muktamar jauh lebih mendominasi daripada rasa takut kepada Allah dan rasa segan kepada guru (masyayikh), maka lisan seseorang akan dengan mudah lepas kendali.

Khalayak luas dan warga NU harus menyadari: arogansi yang dipertontonkan oknum pengurus ini tidak merepresentasikan wajah asli Nahdlatul Ulama. NU tetaplah tenda besar yang sejuk, namun beberapa tiang penyangganya sedang lapuk karena dimakan rayap oligarki organisasi.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah
Perspektif

Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah

Mengapa Jakarta bukan untuk semua orang? Temukan realitas keras seleksi alam ibu kota dan alasan mengapa hanya mereka yang bermental baja yang bisa bertahan.

Ferdian Trikusuma· 11 jam lalu
Metode Public Speaking: Memilih Cara Bicara yang Tepat agar Presentasi Lebih Efektif
Perspektif

Metode Public Speaking: Memilih Cara Bicara yang Tepat agar Presentasi Lebih Efektif

Public speaking membutuhkan metode yang tepat. Kenali memoriter, using note, impromptu, dan manuscript agar presentasi lebih efektif dan percaya diri.

Ros Mawati· 2 hari lalu
Cara Berkomunikasi dengan Konsumen Menentukan Kepercayaan terhadap Bisnis
Perspektif

Cara Berkomunikasi dengan Konsumen Menentukan Kepercayaan terhadap Bisnis

Konsumen kini menilai bisnis dari kualitas produk hingga pengalaman pelayanan. Komunikasi yang cepat, empatik, dan solutif membangun kepercayaan.

Wardah Hafizhah· 4 hari lalu
Mengupas Pelik Reforma Agraria
Perspektif

Mengupas Pelik Reforma Agraria

Reforma agraria bukan sekadar bagi-bagi sertifikat. Ini soal siapa menguasai tanah, siapa mengendalikan produksi, dan siapa menentukan arah negara.

Mila Nabilah· 1 minggu lalu
Dari Titik Terendah Menuju Pemulihan, Begini Rani Belajar Mencintai Hidupnya Lagi
Perspektif

Dari Titik Terendah Menuju Pemulihan, Begini Rani Belajar Mencintai Hidupnya Lagi

Lanjutan kisah nyata Rani (nama disamarkan) mencari pemulihan setelah trauma masa kecil, hingga pesannya untuk orang tuanya. Bagian 2 dari 2.

Tegar Herlambang· 3 minggu lalu
Anak Perempuan yang Selalu Disisihkan, Kisah Nyata Bertahan dari Rumah yang Seharusnya Aman
Perspektif

Anak Perempuan yang Selalu Disisihkan, Kisah Nyata Bertahan dari Rumah yang Seharusnya Aman

Kisah nyata seorang perempuan (nama disamarkan) yang tumbuh dalam kekerasan keluarga hingga titik terendah hidupnya. Bagian 1 dari 2 tulisan.

Tegar Herlambang· 3 minggu lalu