RUNTUT.COM - Alarm sudah berbunyi tiga kali, tetapi badan masih menempel di kasur. Materi sudah dibaca berulang kali, tetap saja tidak ada yang teringat. Tugas yang sebenarnya mudah pun terasa berat sekali untuk dimulai.
Kalau kamu sedang berada di fase ini, jangan buru-buru menyebut dirimu pemalas. Bisa jadi kamu memang sudah terlalu lama berjalan terus tanpa jeda. Kondisi seperti ini punya istilah, yaitu burnout.
Burnout Itu Apa?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Ada tiga ciri yang disebutkan, yaitu merasa kehabisan tenaga, merasa menjauh secara mental dari pekerjaan, dan merasa kemampuan diri menurun.
Secara resmi, WHO memakai istilah ini untuk konteks pekerjaan dan tidak menggolongkannya sebagai kondisi medis. Meski begitu, pola yang mirip sering dibahas pada mahasiswa karena kuliah juga menyita waktu, tenaga, dan pikiran setiap hari. Bedanya dengan lelah biasa, kelelahan karena burnout cenderung bertahan lama meskipun kamu sudah tidur cukup atau libur sehari.
Foto Blur dan Flash Berlebih Jadi Tren, Kenapa Gen Z Suka Digicam?7 Oktober 2026 pukul 08.29Tanda yang Sering Dirasakan
Tandanya berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang terus merasa lelah padahal kegiatannya tidak banyak. Ada juga yang jadi mudah lupa, sulit fokus, atau makin sering menunda tugas.
Sebagian lainnya kehilangan minat pada hal yang dulu disukai. Kelas yang dulu terasa seru berubah menjadi sekadar kewajiban, lalu muncul pikiran, "Buat apa juga aku berusaha?" Ada pula yang mengalami sakit kepala atau jam tidur yang berantakan.
Semua ini hanya gambaran umum. Jangan dipakai untuk menyimpulkan kondisi diri sendiri, karena yang bisa menilai dengan tepat adalah tenaga profesional.
Apa yang Membuat Kita Sampai Sini?
Penyebabnya biasanya menumpuk. Bisa berupa tenggat tugas yang berdekatan, jadwal kuliah yang bentrok dengan rapat organisasi, kerja kelompok yang anggotanya sulit dihubungi, dan jam tidur yang terus terpotong.
Tekanan dari luar ikut menambah beban, seperti tuntutan IPK, harapan keluarga, atau kebiasaan membandingkan diri dengan teman yang tampak produktif di media sosial. Masalahnya, rasa lelah seperti ini sering dianggap wajar di kampus karena semua orang tampak sibuk. Akhirnya banyak yang terus memaksakan diri.









