Runtut.com
Pop CultureBreaking News

Foto Blur dan Flash Berlebih Jadi Tren, Kenapa Gen Z Suka Digicam?

Kembalinya digicam di kalangan anak muda menunjukkan bagaimana estetika fotografi lawas kembali mendapat tempat di tengah perkembangan kamera smartphone.

3 menit baca
2
Runtut.com
foto anak muda yang sedang menggunakan digicam/compact camera — Unsplash/@Joyce Marie Cantrell

RUNTUT.COM - Di tengah kamera smartphone yang semakin canggih, digicam atau kamera digital saku lawas justru kembali dilirik anak muda. Kamera yang sempat ditinggalkan karena perkembangan ponsel kini kembali muncul di media sosial, terutama melalui foto-foto dengan nuansa awal 2000-an.

Digicam dikenal sebagai kamera digital berukuran kecil yang populer sebelum kamera smartphone berkembang seperti sekarang. Meski kualitas gambarnya tidak setajam kamera ponsel masa kini, perangkat tersebut justru memiliki karakter visual yang berbeda. Foto yang sedikit blur, grainy, atau terlalu terang karena flash menjadi bagian dari daya tariknya.

Di Indonesia, minat terhadap kamera digital lawas juga terlihat dari kembali ramainya pasar kamera bekas. DetikX melaporkan pedagang kamera di Pasar Baru, Jakarta, melihat pembeli muda sebagai salah satu kelompok yang banyak mencari digicam.

Sebagian pembeli mengenal kamera tertentu melalui media sosial seperti TikTok sebelum kemudian mencarinya di toko kamera bekas.

Bagi sebagian Gen Z, hasil foto yang tidak sempurna justru terasa lebih menarik. Kamera smartphone saat ini dapat menghasilkan gambar yang sangat tajam dan menyediakan berbagai fitur untuk memperbaiki pencahayaan maupun warna.

Digicam menawarkan hal sebaliknya. Pengguna harus menerima hasil foto sebagaimana adanya, termasuk ketika gambar terlihat sedikit buram atau pencahayaannya tidak sesuai harapan.

Karakter tersebut kemudian menjadi bagian dari estetika yang banyak muncul di media sosial. Foto dengan flash kuat, warna yang agak pudar, dan kualitas gambar yang tidak terlalu bersih memberikan kesan spontan. Foto semacam itu juga dianggap berbeda dari hasil jepretan smartphone yang cenderung terlihat lebih rapi.

Tren ini tidak lepas dari kembalinya estetika akhir 1990-an dan awal 2000-an. ABC News mencatat ketertarikan anak muda terhadap digicam berkaitan dengan siklus nostalgia terhadap budaya visual masa lalu.

Menariknya, sebagian Gen Z yang mengikuti tren tersebut bahkan tidak mengalami langsung masa ketika kamera digital saku sedang populer.

Media sosial turut memperkenalkan kembali tampilan tersebut kepada generasi yang lebih muda. Foto-foto lama, konten nostalgia, tren Y2K, hingga unggahan pengguna digicam membuat karakter visual kamera lawas kembali dikenal.

Digicam pun tidak hanya digunakan untuk mengambil gambar, tetapi juga menjadi bagian dari gaya berpakaian, nongkrong, hingga mendokumentasikan aktivitas bersama teman.

Selain menghasilkan foto dengan karakter yang berbeda, menggunakan digicam juga memberikan pengalaman yang tidak sama dengan memotret menggunakan smartphone.

Kamera tersebut biasanya hanya digunakan untuk mengambil gambar sehingga pengguna tidak langsung terdistraksi oleh notifikasi atau aplikasi lain. Hasil foto pun sering kali baru dilihat setelah aktivitas selesai.

Kembalinya digicam menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat perangkat lama kehilangan tempat. Ketika kamera smartphone berlomba menghasilkan gambar yang semakin tajam dan sempurna, sebagian anak muda justru menemukan keseruan dari foto yang lebih sederhana.

Sedikit blur, grain, atau flash yang terlalu terang kini bukan lagi sekadar kekurangan, tetapi bagian dari cerita dalam sebuah foto.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...