Runtut.com

Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mencegah Perundungan Sejak Dini

Kebiasaan mengejek dengan nama orang tua di sekolah dasar menyoroti pentingnya kebijakan kepala sekolah, pembinaan karakter, dan pencegahan perundungan.

3 menit baca
11
Runtut.com
Ilustrasi perundungan di lingkungan Sekolah Dasar melalui ejekan menggunakan nama orang tua — Getty Images/@FG Trade

RUNTUT.COM – Kebiasaan mengejek teman dengan menggunakan nama orang tua masih berulang di sebuah sekolah dasar di Bojonegoro meski teguran telah diberikan beberapa kali. Situasi ini menunjukkan pentingnya kebijakan sekolah yang konsisten untuk mencegah perilaku tersebut, sekaligus membangun lingkungan belajar yang aman bagi seluruh peserta didik.

Di sekolah yang disebut SD A tersebut, sejumlah peserta didik memanggil temannya menggunakan nama orang tua. Panggilan itu terkadang dilantunkan bersama-sama ketika mereka bermain. Bagi sebagian anak, perilaku tersebut mungkin dianggap sebagai candaan. Namun, anak yang menjadi sasaran dapat merasa malu, sedih, atau tidak nyaman meskipun tidak menunjukkannya secara terbuka.

Peristiwa ini mengangkat persoalan mengenai batas antara candaan dan perundungan atau bullying. Memanggil teman dengan nama orang tua tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai perundungan. Penilaiannya perlu mempertimbangkan frekuensi kejadian, hubungan antaranak, dampak terhadap sasaran, serta apakah perilaku tersebut terus dilakukan setelah diminta berhenti.

Meski demikian, sekolah perlu merespons perilaku yang berpotensi mengganggu kenyamanan peserta didik. Anak usia sekolah dasar masih mengembangkan kemampuan memahami perasaan orang lain dan mengendalikan perilaku. Karena itu, upaya pencegahan perlu membantu mereka memahami dampak ejekan, bukan sekadar menghafal larangan.

Kepemimpinan Sekolah dalam Pencegahan Perundungan

Suasana Kegiatan Pembelajaran di Kelas
Suasana Kegiatan Pembelajaran di Kelas — Dok. Pribadi

Ketika teguran belum menghentikan perilaku yang berulang, sekolah perlu mengevaluasi pendekatan penanganannya. Kepala sekolah berperan memastikan aturan mengenai perilaku antarpeserta didik diterapkan secara konsisten, baik di dalam kelas maupun saat kegiatan bermain.

Pendekatan ini dapat dikaitkan dengan konsep authentic leadership atau kepemimpinan autentik yang dikembangkan Bill George. Konsep tersebut menekankan keselarasan antara nilai yang diyakini pemimpin dan tindakan yang dijalankan. Dalam konteks sekolah, komitmen terhadap sikap saling menghargai perlu tercermin dalam kebijakan dan pelaksanaannya.

Sekolah dapat menyusun prosedur penanganan yang mencakup bentuk perilaku yang dilarang, mekanisme pelaporan, tahapan pembinaan, dan evaluasi terhadap pelanggaran berulang. Dengan pedoman yang jelas, penanganan tidak bergantung pada respons individual setiap pendidik.

Konsistensi tersebut bukan berarti setiap pelanggaran harus dibalas dengan hukuman berat. Peserta didik perlu dibimbing untuk memahami kesalahannya, mengenali dampak perilaku terhadap teman, dan memperbaiki hubungan sosial. Pendekatan edukatif dapat berjalan beriringan dengan konsekuensi yang proporsional.

Membangun Budaya Saling Menghargai

Pencegahan juga dapat dilakukan melalui kesepakatan kelas yang melarang penggunaan nama orang tua sebagai bahan ejekan dan mengharuskan peserta didik menghentikan candaan ketika temannya merasa tidak nyaman. Kesepakatan itu perlu diterapkan secara konsisten, disertai pengawasan pada waktu bermain dan kegiatan di luar pembelajaran.

Keterlibatan orang tua turut diperlukan agar pembiasaan di sekolah selaras dengan pendidikan di rumah. Komunikasi antara sekolah dan keluarga dapat membantu anak memahami batas bercanda serta pentingnya menghormati perasaan orang lain.

Sehingga, keberhasilan membangun lingkungan belajar yang aman tidak cukup diukur dari keberadaan aturan tertulis. Kebijakan perlu disertai pembinaan, pengawasan, dan evaluasi agar menjadi bagian dari budaya sekolah. Melalui kepemimpinan yang konsisten, sekolah dapat membantu peserta didik memahami bahwa candaan seharusnya tidak mengorbankan kenyamanan orang lain.

*Kontributor: Erika Dewi Agustin, Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar - FIP Universitas Negeri Surabaya

Tentang Penulis
ED
Erika Dewi Agustin

Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar, FIP Universitas Negeri Surabaya

Artikel ini merupakan tulisan kontribusi. Isi dan pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Runtut.com.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan
Pendidikan

Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan

Bencana gempa bumi di Flores menghancurkan gedung sekolah. Anak-anak terpaksa mengais sisa buku pelajaran di tengah reruntuhan untuk tetap belajar.

Maya Sintasari· 1 hari lalu
Bukan Malas, Mungkin Kamu Sedang Burnout karena Kuliah
Pendidikan

Bukan Malas, Mungkin Kamu Sedang Burnout karena Kuliah

Lelah dan kehilangan semangat kuliah belum tentu malas. Kenali tanda, pemicu, dan cara mengatasi burnout secara realistis bagi mahasiswa.

Rayda Iskandar· 4 hari lalu
Kenapa Barang Impor Bisa Jadi Lebih Mahal? Mengenal Tarif Perdagangan
Pendidikan

Kenapa Barang Impor Bisa Jadi Lebih Mahal? Mengenal Tarif Perdagangan

Tarif perdagangan membatasi barang impor untuk melindungi produk lokal, tetapi dapat membuat harga barang naik dan memengaruhi konsumen serta perdagan

Athia Aulia· 6 hari lalu
Tim Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur Gelar Empowering Community Program di Desa Segoro Tambak.
Pendidikan

Tim Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur Gelar Empowering Community Program di Desa Segoro Tambak.

Tim dosen UPN “Veteran” Jatim menggelar Empowering Community Program untuk memperkuat administrasi, organisasi, dan PKK di Desa Segoro Tambak.

Evi Silvia Melina, S.AP., MPA· 1 minggu lalu
Belajar Tata Kelola Pemerintahan melalui Program Magang Berdampak di Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Mojokerto
Pendidikan

Belajar Tata Kelola Pemerintahan melalui Program Magang Berdampak di Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Mojokerto

Pengalaman mahasiswa Administrasi Publik mengikuti Magang Berdampak untuk mengenal tata kelola pemerintahan di Kabupaten Mojokerto.

Nabilla Tasya Putri Kuswanto, Evi Silvia Melina, S.AP., MPA· 1 minggu lalu
Harlah ke-27 PC PMII Mojokerto Bahas Peran Pemuda Merawat Tradisi melalui Sinau Bareng Mas Sabrang
Pendidikan

Harlah ke-27 PC PMII Mojokerto Bahas Peran Pemuda Merawat Tradisi melalui Sinau Bareng Mas Sabrang

PC PMII Mojokerto menggelar Sinau Bareng Mas Sabrang dalam malam puncak harlah ke-27 dengan tema Merawat Tradisi untuk Negeri.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu