Runtut.com

Kekerasan terhadap Anak Disabilitas di Sekolah Masih Marak, Organisasi Sipil Desak Reformasi Sistem Pendidikan

Organisasi sipil mendesak pemerintah menghentikan kekerasan terhadap anak disabilitas dan memperkuat perlindungan dalam layanan pendidikan inklusif.

2 menit baca
13
Konferensi pers "Hentikan Kekerasan Anak Disabilitas"
Konferensi Pers “Hentikan Kekerasan Anak Disabilitas dalam Layanan Pendidikan” di Kantor Sekretariat AJI Indonesia, Rabu (1/7/2026). — AJI

JAKARTA – Praktik kekerasan terhadap anak disabilitas di lingkungan pendidikan dinilai masih menjadi persoalan serius yang belum ditangani secara sistematis. Berbagai organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah segera memperkuat perlindungan, memastikan layanan pendidikan yang inklusif, serta menghentikan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap peserta didik penyandang disabilitas.

Desakan tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers "Hentikan Kekerasan Anak Disabilitas dalam Layanan Pendidikan" yang digelar di Kantor Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Konferensi pers menghadirkan Vivienne Wahab, Fatum Ade yang bergabung secara daring, serta Ari Hardianto.

Forum tersebut menyoroti masih banyaknya anak disabilitas yang mengalami kekerasan fisik, psikis, verbal, penelantaran, hingga berbagai bentuk perlakuan diskriminatif di satuan pendidikan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa hak atas pendidikan yang aman, setara, dan inklusif sebagaimana dijamin konstitusi belum sepenuhnya terwujud.

Vivienne Wahab menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak disabilitas tidak dapat dipandang sebagai kasus individual semata, melainkan mencerminkan persoalan struktural dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh lingkungan belajar yang aman tanpa intimidasi maupun perlakuan diskriminatif.

Sementara itu, Fatum Ade menyoroti pentingnya perspektif kesehatan jiwa dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak disabilitas. Ia menilai pengalaman kekerasan yang dialami anak dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang apabila tidak ditangani secara tepat dan berperspektif hak asasi manusia.

Di sisi lain, Ari Hardianto menyampaikan bahwa pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif masih lemah. Ia mendorong pemerintah memperkuat mekanisme pengaduan, memperbaiki tata kelola perlindungan peserta didik, serta memastikan setiap laporan kekerasan ditindaklanjuti secara transparan dan akuntabel.

Para narasumber juga menekankan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar membuka akses bagi anak disabilitas untuk bersekolah, tetapi juga menjamin lingkungan pendidikan yang menghormati martabat, hak, dan kebutuhan setiap peserta didik tanpa diskriminasi.

Mereka mendesak pemerintah pusat maupun daerah, penyelenggara pendidikan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat implementasi kebijakan perlindungan anak, meningkatkan kapasitas tenaga pendidik mengenai pendidikan inklusif, dan memastikan adanya mekanisme pencegahan serta penanganan kekerasan yang efektif di setiap satuan pendidikan.

Konferensi pers tersebut menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak pendidikan bagi anak disabilitas tidak hanya diukur dari akses terhadap sekolah, tetapi juga dari kemampuan negara menjamin keamanan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak-hak mereka selama menjalani proses belajar mengajar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Tiga Siswa SMK Sabet Juara III Projection Mapping Contest Lawan Mahasiswa Tingkat Nasional
Pendidikan

Tiga Siswa SMK Sabet Juara III Projection Mapping Contest Lawan Mahasiswa Tingkat Nasional

Ketiganya mengungkapkan perasaan tidak menyangka, apalagi ketika harus melawan mahasiswa tingkat nasional

Andini Putri Lestari· 2 hari lalu
Stella Christie: Tiga Strategi Pendidikan Tinggi Bertahan di Era AI
Pendidikan

Stella Christie: Tiga Strategi Pendidikan Tinggi Bertahan di Era AI

"Di era AI, bagaimana pendidikan tinggi bisa bertahan? Menyeragamkan satu prodi AI-ology atau tidak menggunakan AI sama sekali? Kita harus mencari modus baru."

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
Mendiktisaintek Minta Perguruan Tinggi Gabungkan Prodi Demi Ringankan Administrasi
Pendidikan

Mendiktisaintek Minta Perguruan Tinggi Gabungkan Prodi Demi Ringankan Administrasi

Mendiktisaintek dorong perguruan tinggi gabungkan prodi demi hemat biaya akreditasi & efisiensi administrasi. Simak arahan resminya di KONASPI XII Bali.

Mila Nabilah· 2 minggu lalu
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mencegah Perundungan Sejak Dini
Pendidikan

Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mencegah Perundungan Sejak Dini

Kebiasaan mengejek dengan nama orang tua di sekolah dasar menyoroti pentingnya kebijakan kepala sekolah, pembinaan karakter, dan pencegahan perundungan.

Erika Dewi Agustin· 2 minggu lalu
Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan
Pendidikan

Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan

Bencana gempa bumi di Flores menghancurkan gedung sekolah. Anak-anak terpaksa mengais sisa buku pelajaran di tengah reruntuhan untuk tetap belajar.

Maya Sintasari· 2 minggu lalu
Bukan Malas, Mungkin Kamu Sedang Burnout karena Kuliah
Pendidikan

Bukan Malas, Mungkin Kamu Sedang Burnout karena Kuliah

Lelah dan kehilangan semangat kuliah belum tentu malas. Kenali tanda, pemicu, dan cara mengatasi burnout secara realistis bagi mahasiswa.

Rayda Iskandar· 3 minggu lalu