Runtut.com

Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta

BEM UI dan Komite Sadar mengusung 5 Perintah Rakyat dalam aksi Sumpah Pemuda di Jakarta, menyoroti isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan HAM.

3 menit baca
6
Runtut.com
Massa aksi yang melibatkan BEM UI dan Komite Sadar menyuarakan lima tuntutan bertajuk 5 Perintah Rakyat di Jakarta, Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Tuntutan tersebut mencakup penyelamatan lingkungan, koreksi kebijakan ekonomi, pemenuhan hak dasar, reformasi hukum, serta perlindungan HAM dan ruang demokrasi. — Getty Images/@Bay Ismoyo

JAKARTA – Dalam aksi unjuk rasa di Jakarta oleh BEM UI dan Komite Sadar pada 28 Oktober 2026, massa membawa tuntutan yang dirangkum dalam 5 perintah rakyat. Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, massa membawa rumusan komprehensif yang dinamakan 5 Perintah Rakyat.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai setiap poin tuntutan yang disuarakan di jalanan:

Perintah 1: Penyelamatan Lingkungan 

Massa menekankan bahwa krisis lingkungan di Indonesia sudah mencapai tahap darurat. Pemerintah didesak untuk segera menetapkan status bencana nasional terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berbagai bencana ekologis di daerah yang terus berulang.

Tuntutan ini tidak hanya berhenti pada penanganan darurat, tetapi juga menuntut penegakan hukum yang tegas berupa pengadilan dan sanksi berat bagi korporasi yang terbukti menjadi dalang pengrusakan lingkungan.

Selain itu, massa mendorong adanya reformasi dan integrasi tata kelola lahan agar izin-izin industri tidak lagi mengorbankan ruang hidup masyarakat dan kelestarian alam.

Perintah 2: Koreksi Kebijakan Ekonomi dan Pengelolaan Anggaran (APBN)

Sektor keuangan negara menjadi kritik tajam massa aksi yang menilai pengalokasian APBN saat ini makin jauh dari kesejahteraan rakyat kecil.

Mereka mendesak pemerintah untuk mengevaluasi ulang kebijakan fiskal dan menghentikan pemborosan anggaran untuk program-program yang dinilai berlabel populis namun tidak efektif di lapangan, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kelompok Desa Mandiri Pangan (KDMP).

Menurut massa, anggaran jumbo tersebut lebih krusial jika dialokasikan untuk memperkuat daya beli masyarakat, subsidi sektor produktif warga, serta penanganan masalah ekonomi mendasar.

Perintah 3: Pemenuhan Hak Pendidikan, Layanan Dasar, dan Lapangan Kerja

Poin ini menyoroti makin tingginya komersialisasi sektor publik yang memberatkan warga. Massa menuntut penurunan biaya pendidikan tinggi yang ugal-ugalan agar akses perguruan tinggi tidak hanya menjadi barang mewah bagi kelompok mampu.

Di saat yang sama, pemerintah diminta memprioritaskan pemerataan akses layanan dasar seperti fasilitas kesehatan, air bersih, dan infrastruktur umum hingga ke pelosok.

Tuntutan ini dilengkapi dengan desakan penyediaan lapangan kerja yang tidak sekadar formalitas, melainkan pekerjaan berkualitas dengan jaminan upah dan perlindungan tenaga kerja yang layak bagi generasi muda.

Perintah 4: Reformasi Hukum dan Pemberantasan KKN tanpa Tebang Pilih

Massa aksi menyoroti kemunduran regulasi yang dinilai makin melenceng dari semangat reformasi.

Mereka mendesak pemerintah dan DPR untuk menghentikan penyalahgunaan hukum melalui pasal-pasal bermasalah dalam sejumlah regulasi, seperti UU TNI, KUHP baru, dan UU P2SK, yang dinilai berpotensi mengekang hak warga atau memberi kewenangan berlebih pada lembaga tertentu.

Selain perbaikan regulasi, massa menekankan pentingnya komitmen nyata dalam memberantas praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang dianggap kembali mengakar di berbagai tingkatan birokrasi dan lembaga publik.

Perintah 5: Penegakan HAM dan Perlindungan Ruang Demokrasi

Poin terakhir menegaskan pentingnya menjaga hak-hak sipil warga negara dari ancaman otoritarianisme. Massa menuntut jaminan perlindungan penuh atas kebebasan bersuara, berpendapat, dan mengkritik tanpa bayang-bayang kriminalisasi atau intimidasi.

Tuntutan ini juga mencakup pengusutan tuntas serta penyeretan para pelaku pelanggaran HAM masa lalu maupun masa kini ke meja hijau demi keadilan korban.

Terakhir, massa mendesak penghentian militerisasi di ruang sipil agar fungsi pertahanan dan keamanan kembali pada porsinya tanpa mengintervensi urusan domestik publik maupun tata kelola sipil.


Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu