Runtut.com

Menambal APBN yang Bocor: Menggugat Prioritas Belanja Negara yang Makin Semu

Defisit APBN 2026 kian melebar. Mahasiswa menggugat pemborosan anggaran negara di tengah himpitan ekonomi rakyat. Saatnya merombak prioritas belanja.

2 menit baca
8
Menambal APBN yang Bocor: Menggugat Prioritas Belanja Negara yang Makin Semu
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) terkait aksi demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Jumat (12/6). — REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Ada paradoks ekonomi yang memilukan di tahun 2026 ini. Di satu sisi, pemerintah terus mengejar target penerimaan pajak hingga ke lapisan ekonomi paling mikro dan mencabut berbagai subsidi esensial. Namun di sisi lain, keran belanja negara untuk urusan yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan akar rumput justru dibiarkan mengucur deras.

Ketimpangan postur anggaran inilah yang menjadi bahan bakar utama kemarahan ribuan mahasiswa yang memblokade jalanan pada 12 Juni kemarin. Mereka tidak sedang anti-pembangunan, mereka sedang mengkritisi hilangnya rasionalitas dalam mengelola kas negara.

Membaca Anatomi Defisit Anggaran 2026

Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini tidak datang secara tiba-tiba. Terdapat masalah struktural dalam rancangan fiskal kita. Ketergantungan pada utang untuk membiayai belanja operasional, ditambah dengan asumsi makroekonomi yang sering kali over-optimistic, membuat daya tahan anggaran kita sangat rapuh terhadap guncangan eksternal.

Yang diprotes oleh publik adalah pilihan prioritas (opportunity cost). Ketika defisit anggaran kian melebar mendekati batas aman, respons ideal dari sebuah tata kelola ekonomi yang sehat adalah konsolidasi fiskal—yaitu menekan belanja yang tidak mendesak. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pemeliharaan proyek-proyek infrastruktur berbiaya tinggi yang lambat memberikan multiplier effect, pembengkakan struktur birokrasi kementerian, hingga biaya perjalanan dinas yang fantastis tetap dipertahankan.

Kebijakan yang "Crowding Out" Ketahanan Rakyat

Dalam tinjauan makroekonomi, saat pemerintah menyerap terlalu banyak sumber daya domestik hanya untuk membiayai inefisiensinya sendiri, masyarakat luas yang akan menanggung akibatnya. Subsidi yang seharusnya menjadi bantalan sosial (shock absorber) saat krisis, terpaksa dipangkas demi menambal lubang pemborosan di kementerian dan lembaga.

Mahasiswa menangkap anomali ini dengan sangat jernih. "Rakyat disuruh hemat, elite tetap rapat," begitu bunyi salah satu poster yang terangkat di tengah lautan massa. Kalimat sederhana ini merangkum kritik ekonomi yang sangat mendalam. Tidak ada legitimasi moral untuk menaikkan tarif layanan publik atau energi dasar ketika negara gagal menunjukkan komitmen penghematan dari dalam (internal austerity).

Mengerem Sebelum Menabrak Tembok

Langkah perbaikan tidak bisa lagi ditunda. Pengambil kebijakan harus berani melakukan pemotongan anggaran lintas kementerian untuk pos-pos non-esensial secara drastis. Merancang anggaran bukan sekadar urusan menyeimbangkan lajur debit dan kredit di atas kertas, tetapi juga tentang memastikan instrumen fiskal berfungsi sebagai alat distribusi kesejahteraan, bukan alat ekstraksi kekayaan dari yang miskin ke yang birokratis.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dugaan WNI Jadi Tentara Bayaran di Perang Ukraina, Kemlu dan KBRI Buka SuaraBreaking
Nasional

Dugaan WNI Jadi Tentara Bayaran di Perang Ukraina, Kemlu dan KBRI Buka Suara

Kemlu dan KBRI Moskow telusuri kebenaran identitas WNI yang dikabarkan tewas di perang Ukraina usai direkrut militer Rusia.

Rani Masida· 3 jam lalu
Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi
Nasional

Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi

Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti pada Kamis (29/10/2026) menyita perhatian publik setelah beredarnya rekaman konvoi massa

Maya Sintasari· 1 hari lalu
PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian
Nasional

PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian

Apabila tujuan bergabungnya Indonesia untuk misi perdamaian, Albanese menyarankan sebaiknya Indonesia bergabung dalam Grup Hague dibanding Dewan Perdamaian.

Andini Putri Lestari· 2 hari lalu
Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta
Nasional

Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta

BEM UI dan Komite Sadar mengusung 5 Perintah Rakyat dalam aksi Sumpah Pemuda di Jakarta, menyoroti isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan HAM.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu