Runtut.com

Viral Bot Telegram EDABU BPJS BOT Jual Data Pribadi, BPJS Kesehatan Pastikan Bukan Sistemnya

BPJS Kesehatan membantah isu kebocoran data NIK hingga gaji melalui EDABU BPJS BOT di Telegram dan memastikan bukan layanan resmi.

2 menit baca
3
Viral Bot Telegram EDABU BPJS BOT Jual Data Pribadi, BPJS Kesehatan Pastikan Bukan Sistemnya
Kanal Telegram EDABU BPJS BOT yang ramai dibicarakan disebut bukan milik BPJS Kesehatan dan tidak berasal dari sistem resminya. — Pexels/@Viralyft

JAKARTA — Isu dugaan penjualan data pribadi melalui kanal Telegram bernama “EDABU BPJS BOT” mencuat setelah sejumlah unggahan di media sosial menyebut adanya layanan pencarian data seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Keluarga (KK), data siswa, data perusahaan, hingga informasi gaji.

Menanggapi kabar tersebut, BPJS Kesehatan memastikan kanal itu bukan layanan resmi dan tidak memiliki keterkaitan dengan sistem miliknya.

BPJS Kesehatan melalui akun Instagram resminya @bpjskesehatan_ri menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah membuat, memiliki, maupun mengelola bot Telegram tersebut. Institusi penyelenggara program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) itu juga menegaskan data yang beredar melalui kanal tersebut bukan berasal dari basis data BPJS Kesehatan.

“Menanggapi beredarnya isu penjualan data melalui kanal Telegram bernama ‘EDABU BPJS BOT’, kanal tersebut bukan milik BPJS Kesehatan,” tulis BPJS Kesehatan dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Dalam tampilan yang beredar, bot Telegram tersebut menawarkan sejumlah fitur pencarian data dengan sistem token berbayar. Pengguna disebut dapat mengakses berbagai informasi setelah membeli token tertentu. Menu yang ditampilkan mencakup pencarian NIK, KK, data siswa, data perusahaan, hingga informasi gaji.

Namun, BPJS Kesehatan memastikan struktur informasi yang ditampilkan dalam bot tersebut berbeda dengan sistem data yang dikelola lembaganya. Data yang diperjualbelikan melalui kanal tersebut disebut tidak bersumber dari sistem BPJS Kesehatan.

“Data yang dijual dan disebarkan oleh kanal Telegram tersebut dipastikan bukan bersumber dari BPJS Kesehatan. Struktur informasi dari data yang beredar sangat berbeda dengan sistem data kami,” jelas BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan juga menjelaskan bahwa istilah EDABU yang digunakan dalam nama bot tersebut merujuk pada aplikasi resmi Elektronik Data Badan Usaha. Aplikasi itu merupakan layanan BPJS Kesehatan yang diperuntukkan bagi badan usaha atau perusahaan dalam mengelola administrasi kepesertaan karyawan secara digital.

Melalui EDABU resmi, perusahaan dapat melakukan sejumlah layanan administrasi, seperti pendaftaran peserta baru, perubahan data peserta, serta pengecekan iuran. Karena itu, BPJS Kesehatan menegaskan EDABU BPJS BOT yang beredar di Telegram tidak berhubungan dengan aplikasi resmi tersebut.

Masyarakat diminta berhati-hati terhadap berbagai layanan digital yang mengatasnamakan BPJS Kesehatan. Lembaga tersebut mengimbau agar masyarakat tidak memberikan data pribadi, melakukan pembelian token, atau berinteraksi dengan akun maupun bot yang belum dapat dipastikan keasliannya.

Untuk kebutuhan informasi terkait kepesertaan JKN dan layanan BPJS Kesehatan, masyarakat diarahkan menggunakan kanal resmi, yakni aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA melalui nomor 0811-8165-165, serta Care Center 165.

Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya perlindungan data pribadi di ruang digital. Informasi seperti NIK, data keluarga, dan riwayat administrasi memiliki nilai penting sehingga pengguna perlu memastikan setiap layanan yang meminta akses data berasal dari institusi resmi dan memiliki mekanisme keamanan yang jelas.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 3 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu