Runtut.com

Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional bukan sekadar soal menggunakan batik, tetapi juga momentum untuk mengenal makna di balik setiap motifnya.

4 menit baca
1
Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional
Motif Batik Parang — Sumber: Museum Sonobudoyo

RUNTUT.COM — Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali kekayaan warisan takbenda Indonesia. Di antara ragam motif yang menghiasi koleksi pakaian banyak orang, motif Parang masih menjadi salah satu ikon batik yang melekat di masyarakat.

Polanya mudah dikenali dengan deretan garis diagonal yang berkesinambungan. Sekilas, Batik Parang memang hanya terlihat sebagai pola yang sederhana. Namun, di balik susunan garis tersebut, tersimpan filosofi tentang semangat perjuangan, keteguhan hati, dan kelangsungan hidup yang terus berjalan.

Hal itulah yang membuat Batik Parang tidak hanya menarik secara visual. Dalam tradisi Jawa, motif ini ditempatkan sebagai salah satu corak klasik yang memiliki kedudukan khusus dan makna mendalam.

Asal Usul Motif Parang

Mengutip dari laman Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Parang dikenal sebagai salah satu motif batik tertua di Indonesia. “Parang” berasal dari bahasa Jawa “pereng” yang berarti lereng atau tebing. Penamaan tersebut merujuk pada bentuk pola batik parang yang menyerupai huruf S secara diagonal atau garis miring.

Sejumlah catatan historis menyebut motif Parang lahir di lingkungan Kerajaan Mataram pada abad ke-16.  Ketika Panembahan Senopati bermeditasi di pesisir selatan Jawa, ia terinspirasi oleh ombak yang terus berdatangan dan menghantam karang laut. Pemandangan tersebut yang kemudian diterjemahkan menjadi pola S berkelok-kelok sebagai gambaran visual dari gerak gelombang.   

Pada masa itu, Batik Parang tergolong motif larangan. Parang hanya digunakan secara eksklusif oleh bangsawan serta keluarga kerajaan sebagai penanda status dan kekuasaan. Bukan hanya sebagai pakaian biasa, melainkan juga menjadi lambang sosial yang merepresentasikan posisi seseorang dalam masyarakat.

Motif ini biasanya diterapkan pada kain batik yang digunakan untuk busana resmi seperti kebaya dan kain panjang. Berbeda dengan era Kesultanan Mataram, kini Parang dapat dikenakan siapa saja, meski tata busana di acara adat dan lingkungan keraton tetap dijaga.

Ilustrasi Motif Batik Parang
Ilustrasi Motif Batik Parang — (kratonjogja.id)

Makna di Balik Motif Parang

Garis-garis miring pada Parang tersusun berderet tanpa jeda seperti tak berujung. Sementara itu, lekukan serupa “S” yang saling bersambung dimaknai sebagai refleksi hidup yang terus berjalan, semangat pantang menyerah, dan kegigihan hati untuk tetap memperbaiki diri.

Makna itu diperkuat dengan filosofi karang yang tetap kokoh, walau dihantam ombak yang silih berganti. Dari gambaran tersebut, lahir pelajaran agar manusia tetap tegar menghadapi tekanan hidup. Selain itu, Parang juga melekat dengan simbol kepemimpinan. Motif ini dianggap memuat kewibawaan serta tanggung jawab besar seorang pemimpin, sehingga dahulu hanya pantas dikenakan oleh kalangan istana.

Ragam Motif Parang

Falsafah yang sama itu merupa dalam bermacam corak. Seiring berjalannya waktu, para pembatik mengolah pola dasar Pasar ke dalam berbagai variasi bentuk, namun tetap berpijak pada nilai kehidupan yang sama. Berikut merupakan motif Parang yang populer:

  • Parang Barong: Pola parang dengan ukuran terbesar yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, melambangkan kewibawaan dan besar kekuasaan seorang raja.

  • Parang Rusak: Motif induk dari semua jenis parang yang diceritakan berasal dari Panembahan Senopati, melambangkan perjuangan melawan hawa nafsu.

  • Parang Klitik: Pola berukuran kecil, halus, dan ramping, yang secara tradisional melambangkan kelembutan serta kebijaksanaan dan sering dipakai oleh para putri keraton.

  • Parang Kusumo: Motif dengan ornamen yang menyerupai bunga atau kembang, bermakna perjuangan hidup untuk mencari kebersihan dan keharuman lahir batin.

  • Parang Kancing Ceplok Kupu: Motif dengan bentuk garis diagonal S yang dipadukan dengan sekat geometris kotak. Pola ini menyiratkan harapan agar seseorang mampu menjadi sosok tegas yang senantiasa mawas diri di setiap jalan hidupnya.

  • Parang Tuding: Motif parang dengan tambahan aksen seperti jari telunjuk menunjuk, bermakna sebagai petunjuk atau keteladanan yang baik.

  • Parang Slobog: Motif tradisional yang melambangkan keteguhan hati, ketekunan, dan amanah dalam kepemimpinan.

Relevansi Parang di Masa Kini

Di tengah derasnya arus globalisasi, Parang membuktikan bahwa sebuah motif bisa bertahan lintas generasi berkat keindahan visual yang kaya akan makna. Banyak perajin dan desainer kini mengolah motif Parang menjadi busana kasual hingga aksesori tanpa meninggalkan akar filosofisnya.

Dengan mengenakan Batik Parang di Hari Batik Nasional, bisa menjadi simbolisme filosofis bahwa rintangan boleh datang silih berganti, tetapi keteguhan jiwa layak dirawat agar kita tetap berdiri.

Referensi:

https://www.kemenpar.go.id/hasil-pencarian/mengenal-filosofi-dari-motif-motif-batik-khas-nusantara

https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/id/tulisan/read/sejarah-batik-parang

https://radarjogja.jawapos.com/seni-budaya/2510180002/mengungkap-asal-usul-motif-parang-simbol-keabadian-dan-kekuatan-dalam-batik-jawa#goog_rewarded

https://s1srm.fbs.unesa.ac.id/post/filosofi-di-balik-motif-batik-tradisional-indonesia

https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7011336/mengenal-7-jenis-batik-parang-filosofi-dan-fungsinya/amp

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...