Runtut.com

Anagata Diksatra 2026 Hadirkan Pertunjukan Sastra sebagai Medium Kritik Sosial

Anagata Diksatra 2026 meriahkan Bulan Bahasa di Universitas Tidar melalui beragam persembahan seni yang memadukan kreativitas, sastra, dan refleksi sosial.

3 menit baca
1
Anagata Diksatra 2026
Anagata Diksatra 2026 — Dok. Pribadi

JAWA TENGAH — Acara peringatan Bulan Bahasa tahunan, Anagata Diksatra 2026 hadirkan beragam pentas seni pada Selasa (27/10/2026) di Gedung Dr. H.R. Suparsono Universitas Tidar. Melalui pagelaran ini, penonton turut diajak merefleksikan persoalan sosial masa kini.

Anagata Diksatra merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar. Kegiatan ini menjadi wadah bagi Keluarga Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (KM PBSI) untuk unjuk bakat.

Acara diisi dengan rangkaian pertunjukan tari, baca puisi, nyanyian, hingga teatrikal puisi. Sebagai puncaknya, pada malam hari diadakan pementasan monolog dan teater yang terbuka untuk khalayak umum.

Tema Anagata Diksatra 2026

Tahun ini, Anagata Diksatra mengusung tema "Aruna Nartya Ananta." Aruna berarti harapan, Nartya seni pertunjukan, dan Ananta bermakna tanpa batas. Tema tersebut mengandung gagasan bahwa harapan lahir melalui seni pertunjukan tanpa batas sebagai ruang bagi mahasiswa untuk berkarya, berkembang, dan berekspresi dalam perjalanan generasi.

Gagasan itu direpresentasikan lewat pertunjukan dengan nuansa absurd yang sarat akan refleksi sosial. Melalui monolog "Marsinah Menggugat" hingga pementasan teater "Aduh", KM PBSI sukses bawakan seni sebagai ruang ekspresi sekaligus sarana untuk menyuarakan kegelisahan kondisi masyarakat.

Kritik Sosial Lewat Pementasan

Salah satu pertunjukan yang ditampilkan dalam puncak acara ialah monolog “Marsinah Menggugat” karya Ratna Sarumpaet. Monolog ini mengangkat sosok Marsinah, seorang buruh yang dibunuh setelah memperjuangkan hak-hak pekerja. Kisahnya menggambarkan perjuangan buruh sekaligus persoalan keadilan yang masih menjadi perhatian masyarakat sampai saat ini.

Monolog Marsinah Menggugat dibawakan oleh Mahasiswa PBSI Universitas Tidar pada malam Anagata Diksatra 2026
Monolog Marsinah Menggugat dibawakan oleh Mahasiswa PBSI Universitas Tidar pada malam Anagata Diksatra 2026 — Dok. Pribadi

Melalui monolog tersebut, kisah Marsinah dihadirkan sebagai gugatan terhadap ketidakadilan dan upaya membungkam suara mereka yang memperjuangkan haknya. Penyajian dalam bentuk monolog memberikan ruang bagi penonton untuk menyelami pengalaman tokoh sekaligus merefleksikan persoalan sosial dan penegakan hukum.

Selain monolog, teater "Aduh" naskah Putu Wijaya turut dipentaskan dalam puncak acara. Naskah ini dipilih karena dinilai dekat dengan kalangan mahasiswa.

Pertunjukan teater "Aduh" oleh para aktor KM PBSI Universitas Tidar pada malam Anagata Diksatra 2026
Pertunjukan teater "Aduh" oleh para aktor KM PBSI Universitas Tidar pada malam Anagata Diksatra 2026 — Dok. Pribadi

Pimpinan produksi, Arvika Firdani mengatakan naskah tersebut memuat banyak dialog satire yang dapat dijadikan medium kritik keadaan sosial politik masa kini.

"Tahun ini kami memilih naskah Aduh karena kami menilai bahwa naskah ini lumayan bisa untuk disampaikan ke rumpun mahasiswa, banyak dialog yang menurut kami bisa dibuat satire atau sindiran untuk keadaan negara kita saat ini," ungkap Arvika pada Selasa (27/10/2026).

Selain itu, pemilihan naskah juga dilandaskan karena keinginan tampil beda. Jika edisi Anagata Diksatra sebelumnya mengangkat drama realis, kali ini mereka ingin menghadirkan nuansa baru.

"Jika tahun sebelumnya mengangkat drama realis, kami ingin membawakan hal baru berupa keabsurdan," kata Arvika.

Ajak Mahasiswa Merefleksikan Nilai-Nilai dalam Cerita

Ketua Panitia Anagata Diksatra 2026, Novita Aisyah menjelaskan pesan sosial di balik kegiatan ini.

"Pesan sosial yang ingin disampaikan melalui kegiatan anagata diksatra yaitu mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya, melainkan juga menjadi individu yang peka, kritis, dan berani bersikap terhadap persoalan sosial, seperti sikap apatis, saling melempar tanggung jawab, serta kritik terhadap kebijakan pemerintah," ujar Novita pada Selasa (27/10/2026).

Novita juga menegaskan bahwa sastra tidak hanya dibaca, tetapi juga dapat dihidupkan melalui pertunjukan yang dekat dengan kehidupan. Melalui kegiatan ini, ia berharap penonton dapat memetik pesan sosial yang termuat dalam cerita.

"Semoga setelah menyaksikan pertunjukan ini, penonton tidak hanya terpukau, tetapi juga dapat merefleksikan nilai-nilai yang terkandung didalamnya," pungkas Novita.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
DIPA MediArt Festival 2026 Jadi Pemantik Tumbuhnya Ekosistem Seni di UB
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

DIPA MediArt Festival 2026 Jadi Pemantik Tumbuhnya Ekosistem Seni di UB

Festival ini menunjukan bahwa pengembangan seni media tidak harus memisahkan teknologi dan praktik seni konvensional. Keduanya saling melengkapi.

Andini Putri Lestari· 16 jam lalu
Sekjen PBB Soroti Pesan Multilateralisme dalam Batik Indonesia
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Sekjen PBB Soroti Pesan Multilateralisme dalam Batik Indonesia

Batik Indonesia tak hanya menjadi warisan budaya. Sekjen PBB António Guterres menyoroti bagaimana batik menyimpan pesan tentang multilateralisme.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Gemilang Budaya Nusantara Meriahkan Lapangan Rektorat UB
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Gemilang Budaya Nusantara Meriahkan Lapangan Rektorat UB

Gemilang Budaya Nusantara adalah malam puncak yang diisi oleh penampilan berbagai budaya nusantara, bazar kebudayaan, penampilan reog ponorogo, pembacaan tarot.

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
Hari Kebudayaan Nasional: Momentum untuk Merawat Warisan Bangsa
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Hari Kebudayaan Nasional: Momentum untuk Merawat Warisan Bangsa

Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober menjadi momentum untuk melestarikan budaya Indonesia, memperkuat identitas bangsa, dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Bukan Sekadar Camilan, Dimsum Jadi Medium Interaksi Sosial hingga Self-Reward Kekinian bagi Gen Z
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Bukan Sekadar Camilan, Dimsum Jadi Medium Interaksi Sosial hingga Self-Reward Kekinian bagi Gen Z

Bukan sekadar camilan, sepiring dimsum kini berevolusi menjadi medium interaksi sosial dan ritual self-reward kekinian bagi Gen Z. Simak alasannya berikut!

Nurul Hidayah· 2 minggu lalu
Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional bukan sekadar soal menggunakan batik, tetapi juga momentum untuk mengenal makna di balik setiap motifnya.

Nurul Hidayah· 3 minggu lalu