JAWA TENGAH — Acara peringatan Bulan Bahasa tahunan, Anagata Diksatra 2026 hadirkan beragam pentas seni pada Selasa (27/10/2026) di Gedung Dr. H.R. Suparsono Universitas Tidar. Melalui pagelaran ini, penonton turut diajak merefleksikan persoalan sosial masa kini.
Anagata Diksatra merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar. Kegiatan ini menjadi wadah bagi Keluarga Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (KM PBSI) untuk unjuk bakat.
Acara diisi dengan rangkaian pertunjukan tari, baca puisi, nyanyian, hingga teatrikal puisi. Sebagai puncaknya, pada malam hari diadakan pementasan monolog dan teater yang terbuka untuk khalayak umum.
Tema Anagata Diksatra 2026
Tahun ini, Anagata Diksatra mengusung tema "Aruna Nartya Ananta." Aruna berarti harapan, Nartya seni pertunjukan, dan Ananta bermakna tanpa batas. Tema tersebut mengandung gagasan bahwa harapan lahir melalui seni pertunjukan tanpa batas sebagai ruang bagi mahasiswa untuk berkarya, berkembang, dan berekspresi dalam perjalanan generasi.
Gagasan itu direpresentasikan lewat pertunjukan dengan nuansa absurd yang sarat akan refleksi sosial. Melalui monolog "Marsinah Menggugat" hingga pementasan teater "Aduh", KM PBSI sukses bawakan seni sebagai ruang ekspresi sekaligus sarana untuk menyuarakan kegelisahan kondisi masyarakat.
Kritik Sosial Lewat Pementasan
Salah satu pertunjukan yang ditampilkan dalam puncak acara ialah monolog “Marsinah Menggugat” karya Ratna Sarumpaet. Monolog ini mengangkat sosok Marsinah, seorang buruh yang dibunuh setelah memperjuangkan hak-hak pekerja. Kisahnya menggambarkan perjuangan buruh sekaligus persoalan keadilan yang masih menjadi perhatian masyarakat sampai saat ini.

Melalui monolog tersebut, kisah Marsinah dihadirkan sebagai gugatan terhadap ketidakadilan dan upaya membungkam suara mereka yang memperjuangkan haknya. Penyajian dalam bentuk monolog memberikan ruang bagi penonton untuk menyelami pengalaman tokoh sekaligus merefleksikan persoalan sosial dan penegakan hukum.
Selain monolog, teater "Aduh" naskah Putu Wijaya turut dipentaskan dalam puncak acara. Naskah ini dipilih karena dinilai dekat dengan kalangan mahasiswa.












