Viral KWH Nadia Omara! Mengulik di balik tingginya minat kisah horor di Indonesia dari aspek biologis hingga tradisi budaya tutur yang mengakar.
RUNTUT.COM - Jagat media sosial Indonesia baru-baru ini digemparkan oleh viralnya konten cerita horor bertajuk "PULANG - KWH (Kisah Horor Wawak) PART 400" yang diunggah oleh Youtuber terkemuka, Nadia Omara. Video berdurasi 2 jam 41 menit tersebut berhasil menembus jutaan penayangan hanya dalam hitungan hari.
Fenomena ini menegaskan satu realitas unik bahwa masyarakat Indonesia memiliki keterikatan emosi dan ketertarikan tinggi terhadap konten-konten mistis. Lantas, mengapa kisah menyeramkan menjadi magnet hiburan masyarakat Indonesia? Mengapa rasa takut justru mengundang penasaran?
Pacuan Adrenalin dan Dopamin
Peneliti Shelby Bradford, PhD & Priyom Bose, PhD (2024) dalam hasil kajiannya mengungkapkan bahwa meskipun film horor memicu respons takut melalui amigdala dan hipotalamus, korteks otak tetap menyadari bahwa ancaman tersebut tidak nyata. Kontradiksi ini memungkinkan sirkuit kesenangan di otak aktif secara bersamaan, mengubah rasa takut menjadi bentuk hiburan atau hadiah yang memicu adrenalin tanpa adanya bahaya sesungguhnya.
Sensasi tersebut menjadi salah satu faktor mengapa cerita horor begitu digandrungi oleh masyarakat.
Kedekatan Budaya dan Tradisi Lisan (Folklor)
Dari sudut pandang budaya, akar kisah horor tak lepas dari folklor yang akrab dengan masyarakat Indonesia. Bagi penduduk nusantara, cerita mistis bukanlah hal yang baru. Sejak kecil, mayoritas masyarakat kita tumbuh dengan tradisi lisan. Kisah makhluk ghaib, mitos, hingga takhayul diwariskan secara turun-temurun.
Dalam segmen 'KWH', Nadia Omara sukses mengemas ulang tradisi itu dengan membawakan kisah dari para followers yang disapa Wawak. Elemen seperti kutukan, tumbal, pesugihan, dan dinamika lokal yang diangkat terasa dekat begitu dengan penonton.
Jembatan antara Isu Sosial dan Logika Mistika
Cerita horor di Indonesia jarang berdiri sendiri hanya dengan visual hantu yang menyeramkan. Di balik kisah mistisnya, sering kali terselip pesan moral yang mencerminkan realitas sosial masyarakat.
Sosok ghaib itu tidak semata-mata hadir untuk menakuti, melainkan perwujudan dari pelanggaran norma sosial di masyarakat. Maka tidak heran jika banyak kisah horor yang dibungkus dalam tema ketamakan atau pesugihan, pelanggaran adat dan lingkungan, hingga tragedi rumah tangga.
Misalnya pada konten "PULANG - KWH PART 400", narasi yang dibawakan tidak sekadar menjual ketakutan. Adapula sisi kemanusiaan yang mewarnainya. Kisah tersebut menjadi gambaran tentang konflik rumah tangga dan keserakahan manusia yang rela mengorbankan keluarganya.
Melalui kisah yang dibawakan Nadia Omara, dapat dilihat bahwa cerita mistis seringkali menjadi ruang kolektif untuk merekam kecemasan nyata di sekitar kita. Bukan hanya sebagai hiburan, cerita horor telah menyatu dengan realitas sosial, trauma, serta berbagai isu gelap. Oleh karena itu, ketertarikan masyarakat kita akan kisah mistis tak hanya berpusat pada biologis semata, melainkan ada keberakaran kuat akan sosial budaya.
Referensi:
Bradford, S., & Bose, P. (2024, Oktober 14). Why do we like horror movies? The Scientist. https://www.the-scientist.com/why-do-some-people-enjoy-horror-movies-72181
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab