Runtut.com

Bukan Sekadar Camilan, Dimsum Jadi Medium Interaksi Sosial hingga Self-Reward Kekinian bagi Gen Z

Bukan sekadar camilan, sepiring dimsum kini berevolusi menjadi medium interaksi sosial dan ritual self-reward kekinian bagi Gen Z. Simak alasannya berikut!

3 menit baca
8
Bukan sekadar camilan biasa, seporsi dimsum hangat kini berevolusi jadi medium nongkrong dan self-reward andalan Gen Z.
Bukan sekadar camilan biasa, seporsi dimsum hangat kini berevolusi jadi medium nongkrong dan self-reward andalan Gen Z. Simak artikel selengkapnya! — Sumber: pixels.com

RUNTUT.COM – Bagi Gen Z, dimsum bukan lagi sekadar alternatif camilan atau hidangan penutup biasa. Di balik menjamurnya kedai dimsum yang ramai diserbu pembeli, ada alasan sosial-budaya yang kuat mengapa comfort food ini sukses jadi andalan.

Harga ramah kantong, visual estetik, serta porsi yang klop dengan sharing culture anak muda, perlahan menyulap kudapan tradisional ini menjadi medium interaksi sosial baru di tongkrongan hingga jadi self reward kekinian bagi anak muda.

Mengenal sejarah dimsum

Dimsum makanan tradisional khas Tiongkok Selatan
Dimsum makanan tradisional khas Tiongkok Selatan — Sumber: pexels.com

Jika ditarik garis sejarahnya, kemunculan dimsum berkaitan erat tradisi Yum Cha asal Tiongkok Selatan. Secara harfiah, Yum Cha berarti “minum teh.” Tradisi ini bukan sekadar menikmati minuman belaka, tetapi juga momen sosial untuk berbincang dengan teman, keluarga, atau kolega.

Pada masa Dinasti Tang (618–907), teh mulai dikenal sebagai minuman yang menyehatkan. Kedai teh mulai menjamur di sepanjang Jalur Sutra yang menjadi tempat istirahat bagi pelancong dan pedagang. Mulanya, teh dikonsumsi tanpa makanan pendamping. Seiring berjalannya waktu, koki Kanton menyajikan camilan pendamping dengan porsi kecil sebagai pengganjal perut.  

Camilan kecil ini bernama dimsum, yang dalam bahasa Kanton berarti “menyentuh hati.” Konsepnya didesain untuk menggugah selera dan menemani obrolan saat minum teh.

Budaya berbagi dan estetika visual

Visualiasi dimsum dengan lelehan saus mentai yang menggugah selera
Visualiasi dimsum dengan lelehan saus mentai yang menggugah selera — Sumber: pexels.com

Secara tradisional, dimsum disajikan dalam keranjang bambu kecil berisi 3 hingga 4 buah. Namun, industri kuliner modern kini juga menghadirkan inovasi wadah alumunium foil yang bisa memuat porsi jumbo hingga belasan buah, seperti pada varian dimsum mentai yang tengah viral. Selain itu, cara penyajiannya kian beragam, mulai dari dikukus sampai digoreng.

Secara alamiah, variasi porsi komunal inilah yang memicu budaya berbagi (sharing culture) di kalangan anak muda. Berbeda dengan comfort food lainnya yang membuat orang fokus pada piring masing-masing, porsi dimsum memaksa adanya interaksi, bergantian mengambil, hingga menciptakan obrolan hangat. Menjadikan makan sebagai aktivitas sosial yang interaktif.

Selain itu, di tengah maraknya food vloger masa kini, dimsum menjadi salah satu objek kuliner yang potensial untuk diunggah di media sosial. Sensasi kepulan asap saat penutup keranjang kukusan dibuka hingga warna chili oil atau saus mentai yang meleleh, memberikan kepuasan visual tersendiri bagi Gen Z untuk bahan konten story Instragram atau TikTok.

Menariknya, kepuasan ini juga berkelindan dengan konsep self-reward atau apresiasi diri. Setelah seharian lelah menghadapi tekanan kuliah, tumpukan tugas, atau rutinitas kerja, menikmati dimsum menjadi alternatif healing instan yang murah meriah. Bagi Gen Z, dimsum cara praktis untuk memanjakan diri dan mengembalikan mood boster tanpa merogoh kocek terlalu dalam.

Referensi:

Purwoko, B. D. (2025, 11 September). Kenapa Dimsum Sering Jadi Pilihan Utama Self Reward Anak Muda Gen Z? Radar Bojonegoro. https://radarbojonegoro.jawapos.com/amp/life-style/2509110001/kenapa-dimsum-sering-jadi-pilihan-utama-self-reward-anak-muda-gen-z

Widyaningrum, G. L. (2019, 24 Januari). Sejarah Dim Sum, Camilan Khas Kanton yang "Menyentuh Hati" Penikmatnya. National Geographic Indonesia. grid.id

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Magnet Horor KWH 400 Nadia Omara: Bukti Orang Indonesia Candu  Kisah MistisBreaking
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Magnet Horor KWH 400 Nadia Omara: Bukti Orang Indonesia Candu Kisah Mistis

Viral KWH Nadia Omara! Mengulik di balik tingginya minat kisah horor di Indonesia dari aspek biologis hingga tradisi budaya tutur yang mengakar.

Nurul Hidayah· 9 jam lalu
Anagata Diksatra 2026 Hadirkan  Pertunjukan  Sastra sebagai Medium Kritik Sosial
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Anagata Diksatra 2026 Hadirkan Pertunjukan Sastra sebagai Medium Kritik Sosial

Anagata Diksatra 2026 meriahkan Bulan Bahasa di Universitas Tidar melalui beragam persembahan seni yang memadukan kreativitas, sastra, dan refleksi sosial.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Sekjen PBB Soroti Pesan Multilateralisme dalam Batik Indonesia
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Sekjen PBB Soroti Pesan Multilateralisme dalam Batik Indonesia

Batik Indonesia tak hanya menjadi warisan budaya. Sekjen PBB António Guterres menyoroti bagaimana batik menyimpan pesan tentang multilateralisme.

Nurul Hidayah· 2 minggu lalu
Gemilang Budaya Nusantara Meriahkan Lapangan Rektorat UB
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Gemilang Budaya Nusantara Meriahkan Lapangan Rektorat UB

Gemilang Budaya Nusantara adalah malam puncak yang diisi oleh penampilan berbagai budaya nusantara, bazar kebudayaan, penampilan reog ponorogo, pembacaan tarot.

Andini Putri Lestari· 2 minggu lalu
Hari Kebudayaan Nasional: Momentum untuk Merawat Warisan Bangsa
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Hari Kebudayaan Nasional: Momentum untuk Merawat Warisan Bangsa

Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober menjadi momentum untuk melestarikan budaya Indonesia, memperkuat identitas bangsa, dan menjaga keberagaman sebagai kekayaan.

Nurul Hidayah· 2 minggu lalu
Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional
Kesenian dan Kebudayaan Tradisional

Menyelami Filosofi Motif Parang: Simbol Keteguhan Jiwa di Hari Batik Nasional

Hari Batik Nasional bukan sekadar soal menggunakan batik, tetapi juga momentum untuk mengenal makna di balik setiap motifnya.

Nurul Hidayah· 2 Oktober 2026