RUNTUT.COM – Bagi Gen Z, dimsum bukan lagi sekadar alternatif camilan atau hidangan penutup biasa. Di balik menjamurnya kedai dimsum yang ramai diserbu pembeli, ada alasan sosial-budaya yang kuat mengapa comfort food ini sukses jadi andalan.
Harga ramah kantong, visual estetik, serta porsi yang klop dengan sharing culture anak muda, perlahan menyulap kudapan tradisional ini menjadi medium interaksi sosial baru di tongkrongan hingga jadi self reward kekinian bagi anak muda.
Mengenal sejarah dimsum

Jika ditarik garis sejarahnya, kemunculan dimsum berkaitan erat tradisi Yum Cha asal Tiongkok Selatan. Secara harfiah, Yum Cha berarti “minum teh.” Tradisi ini bukan sekadar menikmati minuman belaka, tetapi juga momen sosial untuk berbincang dengan teman, keluarga, atau kolega.
Semangkuk Seblak Jadi Self Reward Gen Z di Tengah Himpitan Gaji UMR13 Oktober 2026 pukul 06.30Pada masa Dinasti Tang (618–907), teh mulai dikenal sebagai minuman yang menyehatkan. Kedai teh mulai menjamur di sepanjang Jalur Sutra yang menjadi tempat istirahat bagi pelancong dan pedagang. Mulanya, teh dikonsumsi tanpa makanan pendamping. Seiring berjalannya waktu, koki Kanton menyajikan camilan pendamping dengan porsi kecil sebagai pengganjal perut.
Camilan kecil ini bernama dimsum, yang dalam bahasa Kanton berarti “menyentuh hati.” Konsepnya didesain untuk menggugah selera dan menemani obrolan saat minum teh.
Budaya berbagi dan estetika visual

Secara tradisional, dimsum disajikan dalam keranjang bambu kecil berisi 3 hingga 4 buah. Namun, industri kuliner modern kini juga menghadirkan inovasi wadah alumunium foil yang bisa memuat porsi jumbo hingga belasan buah, seperti pada varian dimsum mentai yang tengah viral. Selain itu, cara penyajiannya kian beragam, mulai dari dikukus sampai digoreng.




