Runtut.com

Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45

Nama Chairil Anwar sudah tidak asing dalam dunia sastra Indonesia. Kenali lebih dekat sosok, perjalanan hidup, dan karya sang penyair Angkatan ’45.

5 menit baca
2
Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45
Tokoh sastrawan Chairil Anwar — Foto: Kompas.com

RUNTUT.COM – Chairil Anwar terkenal sebagai penyair yang hidup dan matinya tidak dapat dilepaskan dari puisi indonesia modern sehingga ia menjadi pelopor Angkatan 45 dalam Sastra Indonesia. Dia lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara.

Chairil tumbuh di keluarga terpandang, di mana ayahnya adalah pejabat pemerintah, dan ibunya dikenal sebagai sosok cerdas yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya.

Chairil Anwar memulai pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) setingkat SD. Ia kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). 

Ia dibesarkan dalam keluarga bisa dikatakan  cukup berantakan. Orang tuanya memilih bercerai setelah itu ayahnya menikah lagi.

Selepas perceraian kedua orang tuanya, Chairil Anwar mengikuti ibunya ke Jakarta setelah pendidikan SMA nya selesai. Ibunya adalah wanita kedua yang paling ia puja.

Walaupun bercerai, Ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya selama tinggal di Jakarta. Di usia 19 tahun, Chairil Anwar sudah tidak melanjutkan sekolah.

Ia lebih memilih menjadi seorang seniman atau penyair. Dalam sebuah literatur biografi Chairil Anwar yang di tulis oleh Tinuk Yampolsky berjudul 'Chairil Anwar: Poet of a Generation', dikatakan bahwa Chairil Anwar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.

Karya pertama Chairil Anwar

Puisi pertama Chairil Anwar berjudul “Nisan” dimuat pada tahun 1942 saat berusia 20 tahun. disinilah namanya mulai di kenal. ampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian. 

Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946.

Chairil Anwar menikah

Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45 — Sumber: Istimewa

Chairil Anwar menikah dengan Hapsah (anak seorang pegawai pengadilan), menikah di Karawang, Jawa Barat, pada 6 September 1946. Dibanding deretan gadis lain yang pernah singgah dalam kehidupan sang penyair, Hapsah tergolong biasa saja.

Namun di mata Chairil, gadis kelahiran Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1922, itu seperti memiliki aura dan pesona tersendiri.

Dalam rentang kehidupan rumah tangga yang tergolong singkat, sekitar dua tahun, Chairil Anwar punya panggilan sayang kepada sang istri, yakni Gajah. Sebutan itu merujuk pada tubuh Hapsah yang gendut.

Setahun setelah menikah, lahir bayi perempuan yang diberi nama Evawane. Karena Hapsah merajuk, akhirnya disepakati namanya menjadi Evawani, Eva si Pemberani.

Kematian Chairil Anwar

Setelah perceraiannya, kondisi kesehatan penyair mulai menurun akibat penyakit yang menggerogoti dirinya. Ia dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo.

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949 penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC.

Namun sebelum berusia 27 tahun, Chairil Anwar meninggal pada pukul 15.15 WIB di tanggal 28 April 1949. Penyebab Kematian Chairil Anwar diduga karena mengidap TBC. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Karya Chairil Anwar

10 Puisi Karya Chairil Anwar yang Melegenda dan Bermakna - Kompas.com
10 Puisi Karya Chairil Anwar yang Melegenda dan Bermakna - Kompas.com — Sumber: Kompas.com

Selama hidupnya, Chairil Anwar menghasilkan sastra tak kurang dari 90 karya dimana 70 diantaranya termasuk puisi. Tema karya sastranya pun mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi interpretasi.

Dua karya Chairil Anwar yang sangat terkenal berjudul Karawang Bekasi dan Aku.

Berikut ini adalah salah satu puisi karya chairil anwar yang terkenal berjudul "AKU" karya Chairil Anwar

Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “ Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda.

Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai,

belum bisa memperhitungkan 4-5 ribunyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan

kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkataKami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Senja di Pelabuhan Kecil

Kepada Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

Menyinggung muram, desir hari lari berenang

Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

Menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalandari pantai keempar, sedu penghabisan bisa terdekap

Di Mesjid

Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila

Kehadiran Chairil Anwar dalam dunia sastra Indonesia menjadi bukti bahwa karya mampu melampaui batas usia dan zaman. Melalui puisi-puisinya yang penuh keberanian, kegelisahan, serta semangat perlawanan, Chairil berhasil membawa perubahan besar dalam perkembangan puisi modern Indonesia.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya
Tokoh

Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya

bdullah Idrus menjadi salah satu nama penting dalam sastra Indonesia. Simak perjalanan hidup, karya, dan kiprahnya sebagai sastrawan Angkatan ’45.

Lusianti Dwi Cahyani· 2 jam lalu
Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan
Tokoh

Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan

Kisah Johnny Salim membangun gerakan sosial yang mengubah baju bekas menjadi donasi untuk membantu anak-anak pasien kanker dan keluarga kurang mampu.

Mila Nabilah· 30 Juni 2026
Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha
Tokoh

Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha

Mengenal Meli Maria, pengusaha muda 23 tahun di balik Seblak Prasmanan Teh Meli. Simak kisah inspiratifnya mematahkan keraguan dan membangun kemandirian.

Tegar Herlambang· 26 Juni 2026
Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital
Tokoh

Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital

Menghadapi gempuran misinformasi kesehatan di media sosial, dr. Agustiawan menyuarakan pentingnya kolaborasi dan paradigma preventif di masyarakat.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Menelisik Nafas Pengabdian dr Agustiawan dan Filosofi Mendengar Cerita Hidup Pasien
Tokoh

Menelisik Nafas Pengabdian dr Agustiawan dan Filosofi Mendengar Cerita Hidup Pasien

Berakar dari pengalaman mendampingi sang ibu, dr. Agustiawan mendedikasikan hidupnya untuk merawat pasien dengan pendekatan holistik dan penuh empati.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026
Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z
Tokoh

Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z

Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa Safril, angkat bicara soal stigma politik Banser dan visinya menjadikan Ansor ruang bertumbuh bagi Generasi Z.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026