RUNTUT.COM – Chairil Anwar terkenal sebagai penyair yang hidup dan matinya tidak dapat dilepaskan dari puisi indonesia modern sehingga ia menjadi pelopor Angkatan 45 dalam Sastra Indonesia. Dia lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara.
Chairil tumbuh di keluarga terpandang, di mana ayahnya adalah pejabat pemerintah, dan ibunya dikenal sebagai sosok cerdas yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya.
Chairil Anwar memulai pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) setingkat SD. Ia kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Ia dibesarkan dalam keluarga bisa dikatakan cukup berantakan. Orang tuanya memilih bercerai setelah itu ayahnya menikah lagi.
Selepas perceraian kedua orang tuanya, Chairil Anwar mengikuti ibunya ke Jakarta setelah pendidikan SMA nya selesai. Ibunya adalah wanita kedua yang paling ia puja.
Walaupun bercerai, Ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya selama tinggal di Jakarta. Di usia 19 tahun, Chairil Anwar sudah tidak melanjutkan sekolah.
Ia lebih memilih menjadi seorang seniman atau penyair. Dalam sebuah literatur biografi Chairil Anwar yang di tulis oleh Tinuk Yampolsky berjudul 'Chairil Anwar: Poet of a Generation', dikatakan bahwa Chairil Anwar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman.
Karya pertama Chairil Anwar
Puisi pertama Chairil Anwar berjudul “Nisan” dimuat pada tahun 1942 saat berusia 20 tahun. disinilah namanya mulai di kenal. ampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian.
Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946.
Chairil Anwar menikah

Chairil Anwar menikah dengan Hapsah (anak seorang pegawai pengadilan), menikah di Karawang, Jawa Barat, pada 6 September 1946. Dibanding deretan gadis lain yang pernah singgah dalam kehidupan sang penyair, Hapsah tergolong biasa saja.
Namun di mata Chairil, gadis kelahiran Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1922, itu seperti memiliki aura dan pesona tersendiri.
Dalam rentang kehidupan rumah tangga yang tergolong singkat, sekitar dua tahun, Chairil Anwar punya panggilan sayang kepada sang istri, yakni Gajah. Sebutan itu merujuk pada tubuh Hapsah yang gendut.
Setahun setelah menikah, lahir bayi perempuan yang diberi nama Evawane. Karena Hapsah merajuk, akhirnya disepakati namanya menjadi Evawani, Eva si Pemberani.
Kematian Chairil Anwar
Setelah perceraiannya, kondisi kesehatan penyair mulai menurun akibat penyakit yang menggerogoti dirinya. Ia dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo.
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949 penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC.
Namun sebelum berusia 27 tahun, Chairil Anwar meninggal pada pukul 15.15 WIB di tanggal 28 April 1949. Penyebab Kematian Chairil Anwar diduga karena mengidap TBC. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.
Karya Chairil Anwar
Selama hidupnya, Chairil Anwar menghasilkan sastra tak kurang dari 90 karya dimana 70 diantaranya termasuk puisi. Tema karya sastranya pun mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi interpretasi.
Dua karya Chairil Anwar yang sangat terkenal berjudul Karawang Bekasi dan Aku.
Berikut ini adalah salah satu puisi karya chairil anwar yang terkenal berjudul "AKU" karya Chairil Anwar
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Krawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “ Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai,








