Runtut.com
KesehatanBreaking News

Musim Hujan Bukan Alasan untuk Tumbang, Ini Tips Menjaga Imunitas agar Tak Mudah Sakit

Musim hujan meningkatkan risiko flu, DBD, hingga infeksi kulit. Kenali cara menjaga imunitas dan kebiasaan sederhana agar tubuh tetap sehat.

4 menit baca
1
Orang yang sedang berjalan dan memegang sebuah payung saat kondisi hujan.
Orang yang sedang berjalan dan memegang sebuah payung saat kondisi hujan. — Unsplash - @Osman Rana

RUNTUT.COM - Memasuki musim hujan, menjaga kesehatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di tengah aktivitas sehari-hari. Perubahan cuaca, lingkungan yang lebih lembap, hingga genangan air di sejumlah tempat dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain influenza, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Demam Berdarah Dengue (DBD), hingga infeksi kulit.

Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama musim hujan melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat. Langkah tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi waktu istirahat, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Penyakit yang Perlu Diwaspadai saat Musim Hujan

Sebelum menerapkan langkah pencegahan, masyarakat perlu mengenali beberapa penyakit yang berisiko meningkat selama musim hujan.

1. Flu dan ISPA

Flu dan ISPA menjadi salah satu gangguan kesehatan yang perlu diperhatikan. ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Penyebabnya dapat berupa virus maupun bakteri.

Meski sering dikaitkan dengan cuaca dingin, flu sebenarnya disebabkan oleh virus influenza, bukan karena terkena air hujan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa influenza dapat beredar sepanjang tahun di Indonesia, tetapi memiliki periode peningkatan kasus tertentu. Perubahan musim, meningkatnya mobilitas, dan aktivitas yang melibatkan banyak orang menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi pola penyebarannya.

Penularan infeksi pernapasan dapat terjadi melalui partikel yang keluar ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Aktivitas di dalam ruangan dengan ventilasi yang kurang baik juga dapat meningkatkan risiko penularan. Karena itu, Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gejala infeksi pernapasan.

2. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Selain penyakit pernapasan, DBD juga perlu diwaspadai ketika memasuki musim hujan. Curah hujan dapat meninggalkan genangan air di berbagai tempat, seperti wadah bekas, pot tanaman, hingga saluran air yang tersumbat.

Genangan tersebut berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yaitu nyamuk pembawa virus dengue.

Untuk mengurangi risiko penularan, Kementerian Kesehatan menggalakkan gerakan 3M Plus. Gerakan ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.

Selain itu, masyarakat dapat menggunakan obat antinyamuk, memasang kawat kasa, dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

3. Infeksi Kulit

Lingkungan yang lembap dan kebiasaan menggunakan pakaian basah terlalu lama juga dapat meningkatkan risiko masalah kulit. Kondisi tersebut dapat mendukung pertumbuhan jamur dan memicu gangguan seperti kutu air serta kurap.

Untuk mengurangi risikonya, masyarakat perlu menjaga kulit tetap bersih dan kering. Segera ganti pakaian yang basah setelah kehujanan, keringkan tubuh dengan baik, serta hindari menggunakan handuk atau pakaian secara bergantian dengan orang lain.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan
Kesehatan

Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan, Sumatera, hingga Papua memicu ancaman kabut asap. Bagaimana dampaknya bagi kesehatan warga?

Lusianti Dwi Cahyani· 3 minggu lalu
Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober
Kesehatan

Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober

Singapura memasukkan vaksin COVID-19 ke dalam program imunisasi nasional mulai 12 Oktober 2026 yang direkomendasikan untuk tiga kelompok penerima.

Andini Putri Lestari· 3 minggu lalu
200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia
Kesehatan

200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia

Kematian teknisi laboratorium di Irkutsk memicu karantina hampir 200 orang. Benarkah pes paru merebak di Siberia? Ini fakta dan penjelasan terbarunya.

Mila Nabilah· 5 Oktober 2026
Kasus Influenza Meningkat di Akhir September, Kemenkes Ungkap Langkah Mitigasi
Kesehatan

Kasus Influenza Meningkat di Akhir September, Kemenkes Ungkap Langkah Mitigasi

Kemenkes memperkuat surveilans influenza dan mengingatkan kelompok rentan mewaspadai gejala berat di tengah peningkatan kasus pada akhir September.

Rachmaddani Rizki Saputra· 5 Oktober 2026
7 Kiat Mitigasi Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik bagi  Masyarakat di Sekitar Gunung Api Aktif
Kesehatan

7 Kiat Mitigasi Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik bagi Masyarakat di Sekitar Gunung Api Aktif

Enam gunung api Indonesia erupsi bersamaan. Simak kiat menangkal gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik bagi masyarakat terdampak.

Rachmaddani Rizki Saputra· 7 September 2026
Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius
Kesehatan

Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius

Vitruvias Therapeutics menarik satu lot obat tiroid di AS karena berpotensi memiliki kadar zat aktif berlebih yang berisiko bagi pasien.

Rachmaddani Rizki Saputra· 26 Agustus 2026