Runtut.com

Kasus Influenza Meningkat di Akhir September, Kemenkes Ungkap Langkah Mitigasi

Kemenkes memperkuat surveilans influenza dan mengingatkan kelompok rentan mewaspadai gejala berat di tengah peningkatan kasus pada akhir September.

3 menit baca
3
Runtut.com
Ilustrasi Influeza — Pexels/@Andrea Piacquadio

RUNTUT.COM - Kasus influenza di Indonesia meningkat pada akhir September 2026, dengan 148 dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel dinyatakan positif. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut peningkatan tersebut masih berada dalam pola musiman dan belum menunjukkan lonjakan luar biasa.

Data pada pekan ke-38 menunjukkan positivity rate influenza mencapai 56 persen. Angka tersebut merupakan proporsi spesimen yang positif dari seluruh sampel yang diperiksa, sehingga tidak berarti 56 persen penduduk Indonesia terinfeksi influenza.

Pemantauan melalui layanan kesehatan juga menunjukkan aktivitas influenza pada surveilans Influenza-Like Illness (ILI) berada pada tingkat sedang, sedangkan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di rumah sakit masih rendah.

Peningkatan kasus dipengaruhi sejumlah faktor, seperti pergantian musim, meningkatnya mobilitas masyarakat, pertemuan dalam jumlah besar, serta subtipe virus yang sedang dominan. Sebagai negara tropis, Indonesia mengalami peredaran virus influenza sepanjang tahun dengan periode peningkatan tertentu.

Pada pekan ke-38, Influenza A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe yang paling banyak ditemukan. Kemenkes juga menjelaskan istilah “superflu” yang beredar di masyarakat bukan istilah resmi dari WHO maupun CDC.

Istilah tersebut kerap dikaitkan dengan Influenza A(H3N2) subclade K. Hingga pekan ke-38 2026, temuan subclade K di Indonesia tercatat 22 kasus, lebih rendah dibandingkan 166 kasus pada 2025.

Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan virus influenza, terutama tipe A dan B. Penularannya dapat terjadi melalui percikan pernapasan ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Gejala yang umum muncul meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan.

Sebagian besar penderita dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, influenza tetap berisiko menimbulkan komplikasi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta. Pneumonia menjadi salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai.

Untuk kasus ringan, Kemenkes menganjurkan istirahat cukup, memperbanyak minum, mengonsumsi makanan bergizi, serta memantau kondisi tubuh. Obat pereda demam, nyeri, atau gejala batuk-pilek dapat digunakan untuk membantu mengurangi keluhan, sedangkan penggunaan obat pada anak perlu mengikuti anjuran tenaga medis.

Antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan bagi semua penderita influenza. Obat tersebut diberikan berdasarkan penilaian dokter, terutama kepada pasien dengan gejala berat atau kelompok berisiko tinggi. Efektivitasnya paling optimal apabila diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas, nyeri dada, sangat lemas, kejang, sulit dibangunkan, tanda dehidrasi, atau kondisi yang sempat membaik kemudian kembali memburuk.

Pencegahan dapat dilakukan melalui cuci tangan, etika batuk dan bersin, penggunaan masker saat sakit, mengurangi kontak dekat, serta imunisasi influenza secara rutin. Di sisi pemerintah, Kemenkes memperkuat surveilans dan laboratorium, memastikan kesiapan fasilitas kesehatan, menerbitkan surat edaran kewaspadaan, serta memperbarui komunikasi risiko kepada masyarakat.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan
Kesehatan

Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan, Sumatera, hingga Papua memicu ancaman kabut asap. Bagaimana dampaknya bagi kesehatan warga?

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober
Kesehatan

Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober

Singapura memasukkan vaksin COVID-19 ke dalam program imunisasi nasional mulai 12 Oktober 2026 yang direkomendasikan untuk tiga kelompok penerima.

Andini Putri Lestari· 2 minggu lalu
200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia
Kesehatan

200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia

Kematian teknisi laboratorium di Irkutsk memicu karantina hampir 200 orang. Benarkah pes paru merebak di Siberia? Ini fakta dan penjelasan terbarunya.

Mila Nabilah· 2 minggu lalu
7 Kiat Mitigasi Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik bagi  Masyarakat di Sekitar Gunung Api Aktif
Kesehatan

7 Kiat Mitigasi Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik bagi Masyarakat di Sekitar Gunung Api Aktif

Enam gunung api Indonesia erupsi bersamaan. Simak kiat menangkal gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik bagi masyarakat terdampak.

Rachmaddani Rizki Saputra· 7 September 2026
Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius
Kesehatan

Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius

Vitruvias Therapeutics menarik satu lot obat tiroid di AS karena berpotensi memiliki kadar zat aktif berlebih yang berisiko bagi pasien.

Rachmaddani Rizki Saputra· 26 Agustus 2026
Benarkah Biaya Transportasi Pasien Rujukan Bisa Diklaim BPJS Kesehatan? Ini Faktanya
Kesehatan

Benarkah Biaya Transportasi Pasien Rujukan Bisa Diklaim BPJS Kesehatan? Ini Faktanya

BPJS Kesehatan menanggung biaya transportasi pasien rujukan dalam bentuk pelayanan ambulans dengan syarat tertentu. Simak aturan lengkap dan ketentuannya.

Ferdian Trikusuma· 4 Juli 2026