Runtut.com

Perubahan Iklim Bukan Hanya Soal Suhu yang Makin Panas

Perubahan iklim di Indonesia bukan hanya soal panas. BMKG mencatat pola hujan ikut berubah, dari hujan ekstrem hingga kemarau yang makin kering.

3 menit baca
1
Perubahan Iklim Bukan Hanya Soal Suhu yang Makin Panas
Ilustrasi. Langit mendung di atas permukiman saat musim hujan. — ANTARA FOTO/Aprillio Akbar via detik.com

Ketika orang mendengar "perubahan iklim", yang terbayang biasanya satu hal, yaitu Bumi makin panas. Itu benar. Tetapi ceritanya lebih rumit, dan sebagian bagian rumitnya jatuh dalam bentuk air.

Bagaimana mungkin suatu wilayah mengalami kemarau yang makin kering, tetapi pada saat yang sama diterjang hujan yang makin deras? Jawabannya ada pada cara hujan itu terbagi sepanjang waktu.

Intisari

  • BMKG memproyeksikan pola hujan berubah. Wilayah utara Indonesia bisa lebih basah hingga 8 persen dan wilayah selatan lebih kering hingga 9 persen.

  • Hujan dengan periode ulang 100 tahun diperkirakan akan terjadi jauh lebih sering.

  • Data BMKG selama puluhan tahun menunjukkan perubahannya tidak seragam. Ada tempat yang naik, ada yang turun.

Tahun terpanas, tetapi bukan hanya soal panas

Dalam pernyataan resmi pada 10 Februari 2026, BMKG menyebut tahun 2024 sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata 27,5°C. Namun BMKG juga menekankan satu hal lain, bahwa perubahan iklim akan mengubah pola hujan. Wilayah utara Indonesia diproyeksikan lebih basah hingga 8 persen, sedangkan wilayah selatan lebih kering hingga 9 persen.

Konsekuensinya, hujan yang dulu hanya datang sekali dalam 100 tahun akan terjadi jauh lebih sering.

Mengapa kering dan banjir bisa berjalan bersama?

BMKG menjelaskan, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, bahwa udara yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air. Akibatnya, ketika hujan turun, intensitasnya bisa lebih tinggi.

Gambaran musimnya terlihat dalam analisis jangka panjang. Sebuah bab tentang dampak perubahan iklim pada sektor prioritas terbitan BRIN Press mencatat bahwa musim hujan makin basah, sedangkan curah hujan musim kemarau (Juli sampai September) menunjukkan tren turun sekitar 4,8 persen. Peningkatan terlihat di bagian utara Indonesia, penurunan di bagian selatan.

Data panjang yang dipakai

Pembahasan ini bukan hanya kesan orang yang merasa "dulu hujannya lebih teratur". BMKG menyusun Atlas Iklim Ekstrem Indonesia periode 1991–2024 yang menganalisis data stasiun BMKG, satelit CHIRPS, dan reanalisis ERA5-Land selama 34 tahun dengan indeks standar WMO.

Dalam analisis laju perubahan curah hujan BMKG periode 1981–2024, polanya ternyata tak seragam. Pada indikator hari dengan hujan lebih dari 100 mm per hari, misalnya, peningkatan tertinggi tercatat 8 hari per 44 tahun, sementara penurunan terendah 3 hari per 44 tahun. Artinya, sebagian lokasi makin sering mengalami hujan lebat, sebagian lain justru menurun.

Satu contoh yang nyata

Bencana akhir 2025 menjadi pengingat. BMKG mencatat Siklon Senyar menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, hujan selama periode bencana sekitar tiga kali lipat hujan normal bulan November.

Angka ini perlu dibaca hati-hati

Satu peristiwa ekstrem tidak bisa dijadikan bukti tunggal perubahan iklim. Itulah mengapa BMKG memakai data puluhan tahun, dan mengapa polanya perlu dilihat per wilayah, bukan dirata-ratakan untuk seluruh Indonesia.

Lalu, apa artinya bagi Indonesia?

Dalam kerja sama BMKG dan Kementerian PU, BMKG menyebut data 1991–2024 menunjukkan kejadian hujan sangat lebat hingga ekstrem (lebih dari 150 mm per hari) semakin merata di seluruh Indonesia. BMKG juga menggambarkan ada wilayah yang cenderung makin basah, seperti Kalimantan dan sebagian Papua, dan ada yang makin kering, seperti Nusa Tenggara. Pola inilah yang dijadikan dasar merancang infrastruktur pengendali banjir dan sumber daya air.

Jadi lain kali mendengar "perubahan iklim", jangan hanya membayangkan termometer yang naik. Bayangkan juga langit yang menahan hujan lebih lama, lalu menumpahkannya sekaligus.

Pertanyaan singkat

Apakah perubahan iklim membuat Indonesia selalu lebih basah?
Tidak. Menurut BMKG, wilayah utara diproyeksikan lebih basah dan wilayah selatan lebih kering, dan analisis historisnya menunjukkan pola yang tak seragam antarstasiun.

Dari mana data perubahan iklim Indonesia berasal?
Antara lain dari stasiun pengamatan BMKG, satelit CHIRPS, dan reanalisis ERA5-Land yang dipakai dalam Atlas Iklim Ekstrem Indonesia 1991–2024.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua