Runtut.com

Cincin Saturnus yang Pernah Hilang Kini Terbuka Lagi

Saturnus beroposisi pada 4 Oktober 2026 dan tampak paling terang tahun ini. Cincinnya, yang sempat nyaris hilang pada 2025, kini terbuka lagi.

2 menit baca
Ilustrasi. Saturnus dengan cincinnya.
Ilustrasi. Saturnus dengan cincinnya. — Magnific via jakarta.akurat.co

Pada Maret 2025, sebuah planet raksasa tampak kehilangan cincinnya. Ia tidak benar-benar kehilangan, hanya sedang menghadap Bumi tepat dari sisi tipisnya, sehingga cincin yang lebarnya ratusan ribu kilometer nyaris tak terlihat. Kini, lebih dari satu setengah tahun kemudian, cincin itu terbuka lagi, dan Saturnus sedang berada di posisi terbaiknya untuk ditatap.

Hari ketika Bumi berdiri di tengah

Pada 4 Oktober 2026, Saturnus mencapai oposisi. Menurut Media Indonesia, puncaknya terjadi sekitar pukul 12.00 UTC, atau sekitar pukul 19.00 WIB, dengan jarak sekitar 1,26 miliar kilometer dari Bumi dan kecerlangan magnitudo 0,3. Oposisi terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan planet luar seperti Saturnus, sehingga Saturnus terbit saat Matahari terbenam dan terlihat hampir sepanjang malam, merujuk pada catatan NASA yang dikutip Metro TV.

Posisi itu membuat cakram Saturnus tampak paling besar, sekitar 19,7 detik busur bila dilihat lewat teleskop. Mengutip Media Indonesia, ukuran itu mencapai titik terbesar pada masa oposisi.

Cincin yang kembali terbuka

Bagian yang paling menarik ada pada cincinnya. Cincin Saturnus kembali terbuka setelah Bumi melewati bidang cincin pada Maret 2025, dan pada Oktober 2026 cincin itu tampak miring sekitar 7,5 derajat ke selatan. Kemiringan sumbu rotasi Saturnus membuat sudut pandang kita pada cincin berubah seiring planet itu mengelilingi Matahari, seperti dijelaskan Jurnas.

Cincin yang sebesar itu ternyata sangat tipis bila dibandingkan lebarnya. Karena itu, saat dilihat dari sisi, ia seolah lenyap. Ia tidak pernah pergi. Yang berubah adalah sudut kita memandangnya.

Apa yang bisa dilihat dari Indonesia

Dengan mata telanjang, Saturnus tampak sebagai titik terang yang cahayanya cenderung stabil, tidak berkelap-kelip seperti bintang, menurut Jurnas. Untuk melihat cincinnya, kamu perlu teleskop. Time Today menyebut teleskop kecil sudah cukup untuk memperlihatkan cincin planet itu, dan teleskop yang lebih besar dengan pembesaran tinggi bahkan memungkinkan Titan, bulan terbesarnya, terlihat.

Tak perlu menunggu tepat 4 Oktober. Menurut Jurnas, pengamatan tidak harus dilakukan tepat pada malam oposisi. Beberapa pekan di sekitarnya masih baik. Pada 25 Oktober malam, Bulan juga akan berdekatan dengan Saturnus, menurut IDN Times, dan keduanya cukup terang untuk dilihat tanpa alat.

Dibaca hati-hati

Kata "paling dekat" mudah menyesatkan. Pada saat oposisi, Saturnus berjarak sekitar 1,26 miliar kilometer. Dengan hitungan sederhana, cahaya yang kita tangkap malam ini sudah berangkat dari permukaan Saturnus sekitar 70 menit sebelumnya. Dan "paling terang tahun ini" berlaku untuk tahun ini saja, bukan untuk selamanya. Kecerlangan dan posisi cincin akan berubah lagi dari tahun ke tahun.

Sebuah titik cahaya yang berjalan

Ada kebiasaan lama manusia yang jarang kita sadari, yaitu mendongak ke langit lalu menamai apa yang terlihat. Saturnus hanyalah titik cahaya kekuningan di antara bintang. Tetapi ia titik yang berjalan, berubah, dan punya cincin yang kadang menghilang. Malam ini, di langit yang sama, ia masih ada di sana.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Bukan Cuma Bulat, 5 Bulan Saturnus Ini Punya Bentuk yang UnikBreaking
Planet

Bukan Cuma Bulat, 5 Bulan Saturnus Ini Punya Bentuk yang Unik

Lima bulan Saturnus memiliki bentuk unik, dari Pan yang mirip ravioli hingga Hyperion yang menyerupai spons. Simak karakteristik dan fakta ilmiah di baliknya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 10 jam lalu
Bintik Merah Besar Jupiter, Badai Raksasa yang Bertahan Selama Berabad-abad
Planet

Bintik Merah Besar Jupiter, Badai Raksasa yang Bertahan Selama Berabad-abad

Mengenal Bintik Merah Besar, fenomena badai raksasa di Jupiter yang menyimpan fakta menarik tentang dinamika atmosfer planet terbesar di Tata Surya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 3 hari lalu
Memahami Keunikan Uranus, Planet Es yang Berputar Nyaris Mendatar
Planet

Memahami Keunikan Uranus, Planet Es yang Berputar Nyaris Mendatar

Kemiringan sumbu Uranus membuat planet ini memiliki pola siang, malam, dan musim yang berbeda jauh dari planet lain di tata surya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Robot Penjelajah NASA Rekam Fajar di Mars, Formasi Tebing 3 Miliar Tahun Mulai Terungkap
Planet

Robot Penjelajah NASA Rekam Fajar di Mars, Formasi Tebing 3 Miliar Tahun Mulai Terungkap

Panorama fajar Curiosity memperlihatkan yardang Mars yang terbentuk miliaran tahun lalu dan membuka petunjuk baru tentang sejarah geologi Mount Sharp.

Rachmaddani Rizki Saputra· 5 hari lalu
Cincin Saturnus Ternyata Tak Abadi, Perlahan Hilang Ditelan Atmosfer
Planet

Cincin Saturnus Ternyata Tak Abadi, Perlahan Hilang Ditelan Atmosfer

Di balik tampilan ikoniknya, cincin Saturnus terus mengalami perubahan. Material esnya perlahan jatuh ke atmosfer planet melalui ring rain.

Muhammad Rafi Ashidiq· 6 hari lalu
Bukan Jingga, Begini Warna Matahari Saat Terbenam di Mars
Planet

Bukan Jingga, Begini Warna Matahari Saat Terbenam di Mars

Pemandangan senja di Planet Merah menghadirkan fenomena langit yang berbeda dari apa yang biasa terlihat di Bumi.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu