Runtut.com

Teleskop 3,8 Meter di Timor dan Perburuan Planet Lain

Observatorium Nasional Timau di NTT memasang teleskop 3,8 meter yang kelak bisa memantau eksoplanet. Ini fungsi, status terbaru, dan batasannya.

2 menit baca
Kubah Observatorium Nasional Timau di lereng Gunung Timau, Kupang.
Kubah Observatorium Nasional Timau di lereng Gunung Timau, Kupang. — BRIN/Abdul Rachman

Planet di luar tata surya hampir tak pernah terlihat langsung. Ia ketahuan dari hal yang lebih halus, yaitu cahaya sebuah bintang yang meredup sesaat ketika planet lewat di depannya. Di lereng Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia sedang menyiapkan mata yang cukup besar untuk melihat redup yang sehalus itu.

Mata raksasa di lereng Timor

Menurut peneliti astronomi dan astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, sebagaimana dikutip ANTARA, teleskop optik berdiameter 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau pada prinsipnya mampu merekam eksoplanet, yaitu planet yang mengitari bintang selain Matahari. Menurut CNN Indonesia, ukurannya jauh melampaui teleskop 2,4 meter milik Thailand. Selain teleskop optik, observatorium ini juga menyiapkan teleskop radio berparabola 20 meter, dua teleskop kecil berdiameter 50 sentimeter, antena dipole array, dan magnetometer.

Teleskop ini menggunakan cermin tersegmentasi seperti pada James Webb Space Telescope, hasil kerja sama dengan Kyoto University, Jepang, menurut Good News from Indonesia.

Mengapa perlu mata sebesar ini

Dengan teleskop besar, redupnya cahaya bintang ketika planet melintas masih bisa terlihat jelas, kata Thomas Djamaluddin dalam kutipan ANTARA. Kemampuan itu penting bagi metode fotometri. Namun ia mengingatkan fotometri saja tidak cukup. Untuk mengetahui apakah sebuah planet punya atmosfer, ilmuwan perlu spektrograf yang menguraikan cahaya menjadi spektrum, dan menurutnya mitra luar negeri telah menawarkan pemasangannya.

BRIN menyebut bahwa instrumen generasi pertama teleskop ini adalah kamera CCD dan spektrograf resolusi menengah. Pemanfaatannya mencakup studi benda kecil di tata surya, fotometri dan spektroskopi planet, serta eksoplanet.

Posisi di khatulistiwa

Letak Indonesia di khatulistiwa menjadi keuntungan tersendiri. Dalam kunjungannya ke fasilitas ini, Kepala BRIN Arif Satria, seperti dikutip CNN Indonesia pada Mei 2026, menyatakan ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak. BRIN juga menyusun aturan untuk menjaga kawasan observatorium dari polusi cahaya dan gangguan radio, kata Readers.id.

Dibaca hati-hati

Teleskop ini belum sepenuhnya bekerja. Pada Mei 2026, BRIN masih berupaya merampungkan fasilitas dan meminta perbaikan jalan menuju lokasi. Kemampuan memburu eksoplanet pun masih berupa potensi dengan syarat, yaitu fotometri bisa dilakukan, tetapi analisis atmosfer menunggu spektrograf yang sesuai. Jadi jangan berharap berita penemuan planet baru dari Timau dalam waktu dekat.

Pelajaran dari tahun-tahun menunggu

Menurut Tempo, sejak 2022 BRIN hanya mengandalkan teleskop berdiameter cermin 50 sentimeter di Timau. Perjalanan dari teleskop kecil menuju cermin 3,8 meter menunjukkan betapa lambatnya membangun mata untuk menatap langit, dan betapa mahal harganya kalau Indonesia ingin berhenti hanya menjadi penonton.

Di kegelapan Timor, di antara bukit yang jauh dari lampu kota, sebuah cermin besar sedang menunggu malam pertamanya. Dan suatu hari, mungkin dari sanalah kita pertama kali mendengar kabar dari planet lain.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua