Runtut.com

7 Kiat Mitigasi Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik bagi Masyarakat di Sekitar Gunung Api Aktif

Enam gunung api Indonesia erupsi bersamaan. Simak kiat menangkal gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik bagi masyarakat terdampak.

4 menit baca
10
Runtut.com
Ilustrasi mitigasi gangguan pernapasan — Pexels/@Artem Korsakov

INDONESIA — Warga di sekitar kawasan terdampak erupsi gunung api diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026, yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Aktivitas vulkanik tersebut masih berlanjut di sejumlah wilayah. Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada malam 4 September 2026, sementara Gunung Ili Lewotolok kembali erupsi pada 6 September 2026. Kondisi ini membuat masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api aktif perlu memahami langkah mitigasi untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material hasil erupsi mengandung partikel mineral berukuran sangat halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Dalam jumlah tertentu, paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Selain berdampak pada pernapasan, abu vulkanik juga dapat mengganggu mata, mencemari lingkungan rumah, serta merusak sejumlah benda apabila tidak dibersihkan dengan cara yang tepat. Berikut sejumlah kiat yang dapat diterapkan warga terdampak untuk mengurangi risiko kesehatan selama aktivitas vulkanik berlangsung.

1. Gunakan masker yang mampu menyaring partikel abu

Warga yang harus beraktivitas di luar rumah saat abu vulkanik masih beterbangan disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi baik, seperti KN95 atau jenis setara.

Masker berfungsi mengurangi jumlah partikel abu yang masuk melalui saluran pernapasan. Penggunaannya perlu dipastikan menutup hidung dan mulut dengan rapat. Kacamata pelindung juga dapat digunakan untuk mengurangi risiko abu masuk ke mata.

2. Hindari menghirup udara berdebu tanpa perlindungan

Masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara masih dipenuhi abu vulkanik. Menghirup udara tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko partikel abu masuk hingga ke saluran pernapasan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat penyakit pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih karena dapat mengalami dampak kesehatan yang lebih berat.

3. Bersihkan halaman rumah dengan cara yang benar

Abu vulkanik yang menumpuk di halaman rumah perlu dibersihkan secara perlahan agar tidak kembali beterbangan. Penggunaan semprotan air secara bertahap dapat membantu mengikat partikel abu sebelum dibersihkan.

Masyarakat sebaiknya menghindari menyiram abu menggunakan air dalam jumlah besar secara langsung karena dapat membuat material tersebut mengeras seperti lapisan semen dan lebih sulit dibersihkan.

4. Bersihkan kaca menggunakan air terlebih dahulu

Abu vulkanik memiliki sifat abrasif yang dapat menggores permukaan kaca. Karena itu, kaca rumah, kaca mata, maupun kaca kendaraan sebaiknya tidak langsung dilap ketika masih terdapat abu kering.

Permukaan kaca perlu dibasahi terlebih dahulu menggunakan air bersih untuk mengangkat partikel abu sebelum dilakukan pembersihan lanjutan.

5. Gunakan obat tetes mata yang sesuai

Partikel abu vulkanik yang masuk ke mata dapat menyebabkan rasa perih, kering, dan iritasi. Warga disarankan tidak mengucek mata karena gesekan dapat memperparah gangguan pada permukaan mata.

Apabila mata terasa tidak nyaman setelah terkena abu, gunakan obat tetes mata pelumas (artificial tears) atau cairan pembilas mata steril untuk membantu membersihkan partikel yang menempel. Penggunaan obat tetes mata dengan kandungan tertentu sebaiknya dilakukan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Apabila muncul keluhan seperti nyeri, pandangan kabur, atau iritasi yang tidak membaik, masyarakat perlu memeriksakan kondisi tersebut ke fasilitas kesehatan.

6. Tutup ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu

Ventilasi rumah dapat menjadi jalur masuk abu vulkanik ke dalam ruangan. Penutupan sementara menggunakan kain bersih atau bahan penyaring lain dapat membantu mengurangi paparan selama kondisi udara belum membaik.

Langkah ini penting karena abu yang sudah masuk ke dalam rumah dapat kembali beterbangan ketika terkena aktivitas penghuni.

7. Segera bersihkan kendaraan yang terkena abu vulkanik

Kendaraan yang tertutup abu vulkanik perlu segera dibersihkan menggunakan air. Membiarkan abu menempel dalam waktu lama dapat menyebabkan goresan pada permukaan kendaraan karena sifat abrasif material tersebut.

Selain itu, kandungan mineral tertentu dalam abu vulkanik dapat berpengaruh terhadap komponen logam kendaraan apabila tidak segera dibersihkan.

Masyarakat di sekitar gunung api aktif juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik, zona bahaya, serta arahan dari petugas di lapangan. Kesiapsiagaan menjadi langkah penting agar warga dapat mengurangi risiko kesehatan tanpa menimbulkan kepanikan selama periode erupsi berlangsung.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan
Kesehatan

Dampak Karhutla di Sumatera hingga Papua bagi Kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan, Sumatera, hingga Papua memicu ancaman kabut asap. Bagaimana dampaknya bagi kesehatan warga?

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu
Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober
Kesehatan

Vaksin COVID-19 Masuk Program Imunisasi Nasional Singapura Mulai 12 Oktober

Singapura memasukkan vaksin COVID-19 ke dalam program imunisasi nasional mulai 12 Oktober 2026 yang direkomendasikan untuk tiga kelompok penerima.

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia
Kesehatan

200 Orang Menjalani Isolasi Akibat Kekhawatiran Wabah Pes di Siberia

Kematian teknisi laboratorium di Irkutsk memicu karantina hampir 200 orang. Benarkah pes paru merebak di Siberia? Ini fakta dan penjelasan terbarunya.

Mila Nabilah· 1 minggu lalu
Kasus Influenza Meningkat di Akhir September, Kemenkes Ungkap Langkah Mitigasi
Kesehatan

Kasus Influenza Meningkat di Akhir September, Kemenkes Ungkap Langkah Mitigasi

Kemenkes memperkuat surveilans influenza dan mengingatkan kelompok rentan mewaspadai gejala berat di tengah peningkatan kasus pada akhir September.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius
Kesehatan

Satu Lot Obat Tiroid Vitruvias Therapeutics Ditarik di AS karena Potensi Efek Samping Serius

Vitruvias Therapeutics menarik satu lot obat tiroid di AS karena berpotensi memiliki kadar zat aktif berlebih yang berisiko bagi pasien.

Rachmaddani Rizki Saputra· 26 Agustus 2026
Benarkah Biaya Transportasi Pasien Rujukan Bisa Diklaim BPJS Kesehatan? Ini Faktanya
Kesehatan

Benarkah Biaya Transportasi Pasien Rujukan Bisa Diklaim BPJS Kesehatan? Ini Faktanya

BPJS Kesehatan menanggung biaya transportasi pasien rujukan dalam bentuk pelayanan ambulans dengan syarat tertentu. Simak aturan lengkap dan ketentuannya.

Ferdian Trikusuma· 4 Juli 2026