Kudus – Permasalahan stunting masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia, khususnya akibat kurangnya asupan protein, zat besi, serta mikronutrien penting selama masa pertumbuhan anak. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Babybite’s dari MAN 2 Kudus menghadirkan inovasi pangan sehat bertajuk “NUTRIGET (Nutrition-rich Nuggets)”, yaitu nugget berbasis tempe yang dikombinasikan dengan Spirulina platensis dan daun kelor sebagai camilan fungsional untuk membantu upaya pencegahan stunting pada anak.

Inovasi tersebut berhasil mengantarkan Tim Babybite’s meraih Juara 1 pada Airvorse Creative Competition 2025. Tim Babybite’s terdiri dari Huda Sulaiman dan Alyssa Zahsy Elmirasafara, dengan dukungan Satria Jofa Aryasatya serta pendampingan dari Ema Nur Hidayah.

NUTRIGET dikembangkan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi, yakni tempe sebagai sumber protein nabati, dipadukan dengan Spirulina platensis dan daun kelor yang kaya mikronutrien serta antioksidan. Melalui kombinasi tersebut, tim menghadirkan alternatif camilan yang lebih sehat, mudah diterima anak-anak, serta memiliki nilai fungsional untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Pengembangan NUTRIGET dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari riset, formulasi produk, hingga pengujian kandungan gizi. Tim melakukan penyesuaian komposisi agar produk tetap memiliki tekstur dan cita rasa yang disukai anak-anak tanpa mengurangi kandungan nutrisi yang dimiliki. Produk yang telah dikembangkan kemudian diuji melalui analisis laboratorium untuk mengetahui profil nutrisi dan potensi fungsionalnya.

Berdasarkan hasil uji proksimat dan uji antioksidan DPPH, NUTRIGET menunjukkan kandungan protein sebesar 13,50% serta aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 sebesar 89,17. Hasil tersebut memperkuat potensi NUTRIGET sebagai camilan fungsional untuk mendukung pencegahan stunting.

Selain nilai kesehatan, inovasi ini juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan ekonomi. Tim mengembangkan NUTRIGET sebagai produk pangan sehat berbasis lokal yang memiliki potensi dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan. Dengan biaya produksi yang relatif terjangkau, produk ini diproyeksikan dapat dipasarkan pada kisaran harga Rp8.000–Rp15.000 per kemasan sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Ketua tim, Huda Sulaiman, menyampaikan bahwa NUTRIGET lahir dari keinginan menghadirkan solusi sederhana namun berdampak terhadap permasalahan stunting.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari inovasi pangan yang dekat dengan masyarakat. Bahan lokal seperti tempe, daun kelor, dan Spirulina memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk sehat yang bernilai gizi sekaligus bernilai ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, tim berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pangan sehat yang berkelanjutan. Melalui NUTRIGET, Tim Babybite’s ingin meningkatkan kesadaran bahwa makanan bergizi tidak harus mahal ataupun sulit dijangkau, sekaligus mendorong generasi muda untuk terus menghadirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, dan kewirausahaan sosial.