Runtut.com

Dari Pangan Lokal Menjadi Solusi Stunting: Inovasi NUTRIGET Karya Siswa Man 2 Kudus

Tim Babybite’s MAN 2 Kudus meraih Juara 1 Airvorse Creative Competition 2025 melalui NUTRIGET, nugget sehat untuk pencegahan stunting.

2 menit baca
46
Dari Pangan Lokal Menjadi Solusi Stunting: Inovasi NUTRIGET Karya Siswa Man 2 Kudus
Siswa MAN 2 Kudus — Dok Pribadi

Kudus – Permasalahan stunting masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia, khususnya akibat kurangnya asupan protein, zat besi, serta mikronutrien penting selama masa pertumbuhan anak. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Babybite’s dari MAN 2 Kudus menghadirkan inovasi pangan sehat bertajuk “NUTRIGET (Nutrition-rich Nuggets)”, yaitu nugget berbasis tempe yang dikombinasikan dengan Spirulina platensis dan daun kelor sebagai camilan fungsional untuk membantu upaya pencegahan stunting pada anak.

Inovasi tersebut berhasil mengantarkan Tim Babybite’s meraih Juara 1 pada Airvorse Creative Competition 2025. Tim Babybite’s terdiri dari Huda Sulaiman dan Alyssa Zahsy Elmirasafara, dengan dukungan Satria Jofa Aryasatya serta pendampingan dari Ema Nur Hidayah.

NUTRIGET dikembangkan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi, yakni tempe sebagai sumber protein nabati, dipadukan dengan Spirulina platensis dan daun kelor yang kaya mikronutrien serta antioksidan. Melalui kombinasi tersebut, tim menghadirkan alternatif camilan yang lebih sehat, mudah diterima anak-anak, serta memiliki nilai fungsional untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Pengembangan NUTRIGET dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari riset, formulasi produk, hingga pengujian kandungan gizi. Tim melakukan penyesuaian komposisi agar produk tetap memiliki tekstur dan cita rasa yang disukai anak-anak tanpa mengurangi kandungan nutrisi yang dimiliki. Produk yang telah dikembangkan kemudian diuji melalui analisis laboratorium untuk mengetahui profil nutrisi dan potensi fungsionalnya.

Berdasarkan hasil uji proksimat dan uji antioksidan DPPH, NUTRIGET menunjukkan kandungan protein sebesar 13,50% serta aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 sebesar 89,17. Hasil tersebut memperkuat potensi NUTRIGET sebagai camilan fungsional untuk mendukung pencegahan stunting.

Selain nilai kesehatan, inovasi ini juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan ekonomi. Tim mengembangkan NUTRIGET sebagai produk pangan sehat berbasis lokal yang memiliki potensi dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan. Dengan biaya produksi yang relatif terjangkau, produk ini diproyeksikan dapat dipasarkan pada kisaran harga Rp8.000–Rp15.000 per kemasan sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Ketua tim, Huda Sulaiman, menyampaikan bahwa NUTRIGET lahir dari keinginan menghadirkan solusi sederhana namun berdampak terhadap permasalahan stunting.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari inovasi pangan yang dekat dengan masyarakat. Bahan lokal seperti tempe, daun kelor, dan Spirulina memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk sehat yang bernilai gizi sekaligus bernilai ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, tim berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pangan sehat yang berkelanjutan. Melalui NUTRIGET, Tim Babybite’s ingin meningkatkan kesadaran bahwa makanan bergizi tidak harus mahal ataupun sulit dijangkau, sekaligus mendorong generasi muda untuk terus menghadirkan inovasi di bidang kesehatan, pangan, dan kewirausahaan sosial.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan
Ekonomi

Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan

Mengapa BI-Rate naik atau turun tak langsung mengubah cicilan dan bunga deposito? Ini perjalanan suku bunga acuan hingga ke dompet, lengkap dengan simulasi.

Tegar Herlambang· 6 hari lalu
Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya
Ekonomi

Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya

Harga cabai bisa jatuh di bawah Rp10 ribu lalu meroket puluhan ribu. Ini penjelasan ekonominya, dari permintaan yang inelastis sampai rantai distribusi.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan
Ekonomi

BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan

Bank Indonesia menahan BI-Rate 5,75 persen untuk ketiga kalinya. Rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.900 per dolar AS di tengah harga minyak tinggi.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu
Ekonomi

Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu

BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Cabai rawit, daging ayam, dan emas perhiasan jadi pendorong utamanya.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi

APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menyiapkan delapan fokus pembangunan dalam APBN 2027, mulai dari pangan, energi, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II-2026. BPS menyebut konsumsi pemerintah menjadi salah satu pendorong utama.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 Agustus 2026