SURABAYA - Penguatan branding menjadi kebutuhan penting bagi organisasi pemberdayaan penyandang disabilitas untuk memperluas jangkauan program, membangun kepercayaan publik, dan membuka peluang kolaborasi.
Ide dan harapan tersebut menjadi tema pembahasan dalam pembukaan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) oleh tim Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bertajuk “Transformasi Digital Galeri Disabilitas dan UPT Jawa Timur (GADISKU) melalui Pengembangan Website dan Pelatihan Penulisan Konten” di ruang media center, Gedung Rektorat Unesa, Rabu 16 September 2026.
Selain pengelola program, hadir Edi Cahyono, Direktur Rumah Kinasih sebagai pengelola program Gadisku, Eka Prastama Widiyanta, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), serta Perwakilan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur
Edi Cahyono, memperkenalkan Program Gadisku hadir sebagai ruang pendampingan bagi penyandang disabilitas non-UPT untuk melanjutkan proses rehabilitasi menuju kemandirian ekonomi dan sosial. Sejak berdiri pada 2024, Gadisku terus mengembangkan berbagai program, mulai dari kewirausahaan inklusif hingga fasilitasi ketenagakerjaan formal.
Dalam konteks PKM ini, Edi menyebut Gadisku menyebut penguatan publikasi menjadi tantangan yang perlu segera dijawab agar potensi, karya, serta perjalanan para penyandang disabilitas dapat dikenal masyarakat secara lebih luas.
Misalnya dalam salah satu program mereka untuk menyalurkan tenaga kerja disabilitas ke perusahaan, ia menambahkan bahwa informasi dan portofolio alumni maupun program Gadisku belum terkelola secara optimal di internet. Padahal, keberadaan digital dapat menjadi pintu masuk bagi dunia industri untuk mengenal dan mengakses potensi yang dimiliki Gadisku.
“Pengalaman kami dengan pihak mitra menunjukkan bahwa perusahaan mencari tenaga kerja disabilitas melalui pencarian di internet hingga menemukan Gadisku,” jelasnya.

Keharusan untuk hadir di ranah digital didukung oleh Eka Prasetya, Komisioner KND. Ia menilai transformasi digital memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan disabilitas.
Menurutnya, digitalisasi dapat menjadi sarana memperluas akses pasar, mempertemukan organisasi dengan mitra potensial, serta membangun ruang komunikasi yang lebih inklusif.
“Penyandang disabilitas tidak boleh sekadar dijadikan objek program, melainkan subjek dan aktor aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program agar dampaknya nyata bagi individu, keluarga, dan masyarakat,” jelas Eka.
Ia menambahkan, komunikasi publik mengenai disabilitas perlu menggunakan pendekatan berbasis hak dan pemberdayaan. Konten yang diproduksi harus mampu menunjukkan produktivitas, kemandirian, serta kontribusi penyandang disabilitas dalam berbagai bidang.
Sementara, Ketua Tim PkM Unesa, Puspita Sari Sukardani menjelaskan bahwa pendampingan ini berfokus pada pengembangan website, penyusunan strategi komunikasi publik, serta penguatan storytelling untuk memperkenalkan nilai dan dampak program Gadisku.
“Unesa memfokuskan pendampingan pada pengembangan website, branding naratif, serta penyusunan strategi komunikasi publik tanpa menjual rasa kasihan,” ucapnya.
Ditambahkan anggota Tim PKM Unesa sekaligus Direktur Humas, Informasi Publik, dan Protokoler, Vinda Maya Setianingrum, Gadisku telah memiliki pondasi program yang kuat. Sehingga, penguatan branding diperlukan untuk mengemas pengalaman dan karya yang sudah berjalan agar mampu menjangkau masyarakat, industri, maupun mitra global.
“Secara existing, karya dan pemberdayaan Gadisku sudah luar biasa. Kami bertugas mengangkat branding tersebut agar menyentuh hati masyarakat luas,” katanya.
Kegiatan ini berlangsung hingga akhir tahun dalam bentuk pengembangan seperti pembangunan website resmi, pengelolaan media sosial berkelanjutan, pengembangan konten berbasis dampak, hingga penguatan jurnalistik disabilitas.









