Pringsewu – Serangan hama tikus yang menggerogoti tanaman padi warga Desa Adiluwih, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, mendorong delapan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University turun tangan. Selama pelaksanaan KKN-T pada 6 Juli–14 Agustus 2026, mereka memperkenalkan program SATRIA TANI (Strategi Adaptif Tanggulangi Risiko Penyakit Pertanian) kepada 27 petani setempat, dengan dua inovasi andalannya yaitu pestisida nabati Bioyoso dan metode pengasapan Emposan untuk mengusir tikus dari area persawahan, yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2026.
Ketua Pelaksana KKN-T Adiluwih, M. Adziez As Siddiq, menjelaskan bahwa serangan hama tikus muncul di tengah masa tanam yang sedang berjalan, serta kemunculan hama tersebut baru kerap sering terjadi pada masa periode tanam kali ini, sehingga petani belum sempat menyiapkan langkah antisipasi sejak awal. Metode gropyokan yang biasa digunakan warga dinilai kurang efektif karena berisiko merusak tanaman padi yang sudah memasuki separuh masa tanam dan membutuhkan banyak orang untuk turun bersamaan ke sawah. Penggunaan racun tikus pun hanya mampu mengendalikan sebagian populasi karena tikus cenderung menghindari umpan yang sudah mereka kenali.
“Kami ingin memperkenalkan cara pengendalian hama yang lebih sederhana, murah, dan bisa dibuat sendiri oleh petani dari bahan-bahan yang mudah didapat,” ujar Adziez.
Sebelum turun ke lapangan, tim mahasiswa lebih dulu melakukan survei ke salah satu lahan petani yang mengalami serangan tikus cukup parah, dilanjutkan dengan uji coba (trial and error) pembuatan Bioyoso dan Emposan hingga diperoleh formulasi yang siap diterapkan. Setelah formulasi matang, penyuluhan digelar bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kelompok Wanita Tani, disertai demonstrasi dan praktik langsung pembuatan kedua produk bersama warga. Bioyoso dibuat sebagai alternatif pengendalian tikus berbahan alami, sementara Emposan berfungsi sebagai metode pengasapan untuk membantu mengusir tikus dari liangnya tanpa harus menggerakkan banyak warga sekaligus seperti pada gropyokan. Kedua produk kemudian dibagikan kepada petani agar dapat langsung diterapkan di lahan masing-masing sesuai kondisi serangan yang dihadapi.
Tidak berhenti di tahap pembagian, tim mahasiswa juga melakukan evaluasi dengan mengunjungi sejumlah petani untuk memantau penerapan Bioyoso dan Emposan di lahan mereka, sekaligus mengidentifikasi kendala yang muncul di lapangan. Pendampingan lanjutan turut diberikan agar petani dapat menerapkan kedua inovasi tersebut secara mandiri sesuai kondisi lahan masing-masing.
Program ini dinilai memiliki potensi keberlanjutan yang cukup besar. Selain bahan bakunya mudah diperoleh di lingkungan sekitar, pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai 27 petani diharapkan dapat ditularkan kepada petani lain di Desa Adiluwih. Bioyoso dan Emposan bahkan berpotensi dikembangkan lebih jauh menjadi kegiatan ekonomi produktif, misalnya diproduksi secara berkelompok melalui Gapoktan untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah sekitar atau dijadikan produk yang diperjualbelikan.
Program SATRIA TANI merupakan satu dari enam program kerja yang dijalankan tim KKN-T Inovasi IPB University di Desa Adiluwih, bersama GEMAWIRA ADILUWIH (penguatan UMKM), SINARI ADILUWIH (pangan lokal dan edukasi gizi), SIMPONIK (edukasi pertanian dan perikanan bagi pelajar), SEDAYANA ADILUWIH (pengolahan limbah bonggol jagung), dan SATWIKA (kesehatan ternak). Seluruh program tersebut berada di bawah payung besar “Optimalisasi Agro-Pastoral Desa Adiluwih melalui Hilirisasi MOCAF, Penguatan UMKM, dan Ekonomi Sirkular Menuju Swasembada Pangan”.
Melalui SATRIA TANI, tim mahasiswa berharap petani Desa Adiluwih memiliki strategi pengendalian hama yang lebih adaptif dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada gropyokan massal, sehingga produktivitas padi dapat terjaga pada musim tanam berikutnya.







