BOJONEGORO - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 15 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur sukses menghadirkan program kerja Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat pencacah sampah organik terintegrasi. Alat yang diberi nama APSO-MultiCutter ini secara khusus dirancang untuk Membantu permasalahan sampah dengan membuat alat Pencacah sampah beserta tempat pembuatan pupuk kompos di Desa Sumber Gede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.

Proses pengerjaan alat ini dimulai pada Sabtu (18/7/2026) malam, sekitar pukul 19.00 WIB, dan berlangsung terus menerus hingga Minggu (26/7/2026). APSO-MultiCutter dirancang dengan mekanisme efisien, di mana sampah organik yang telah dicacah akan langsung masuk ke dalam tong fermentasi untuk diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC).

Perakitan alat yang dilakukan di kediaman Ketua RT setempat, Siswanto, dengan melibatkan Ketua RW dan dibantu oleh seorang tukang senior, Raymond, yang telah berpengalaman dalam pengerjaan alat berbasis mesin Gerindra maupun Las dan konstruksi logam.

Ketua Pelaksana KKN 15 UPN Veteran Jawa Timur, Irvan Mahmud Pratama, menjelaskan bahwa alat TTG ini adalah hasil rancangan yang disesuaikan dengan kondisi Desa Sumber Gede. "Desa Sumber Gede ini adalah desa agraris. Kami melihat adanya kebutuhan akan alat yang tidak hanya bisa mengurangi volume sampah organik yang beredar di masyarakat, tetapi juga mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi dan bermanfaat untuk pertanian warga," ujar Irvan.

Selama sembilan hari pengerjaan, diskusi teknis yang intensif terus dilakukan antara mahasiswa dan warga, khususnya terkait desain APSO-MultiCutter. Sebagai penanda akhir dan bentuk kebanggaan hasil kerja keras anak-anak mahasiswa, alat tersebut diberi watermark bertuliskan "KKN 15 BOJONEGORO UPNVJT 2026".

Proses pembuatan alat pngolahan sampah organik
Proses pembuatan alat pngolahan sampah organik — Dokumentasi: Tim PDD KKN 15 UPN “VETERAN” JAWA TIMUR

Kolaborasi ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga. Ketua RT Siswanto menyampaikan rasa harunya atas kebersamaan yang terjalin. "Saya pernah punya anak seukuran kalian semua. Ketika kalian ada kegiatan KKN di luar kota dan tidak ada bantuan dari warga sekitar, saya merasa gagal sebagai orang tua kalau kejadiannya sampai segitunya. Makanya kami bantu semaksimal mungkin," ungkap Siswanto penuh haru.

Dukungan penuh juga datang dari pihak kampus. Isna Nugraha S.T., M.T., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 15, yang turut memantau  perkembangan program ini, menyatakan kebanggaannya atas inisiatif mahasiswa.

"Inovasi APSO-MultiCutter ini adalah bentuk nyata dari implementasi Tridarma Perguruan Tinggi. Mahasiswa tidak hanya membawa teori, tetapi juga mampu membaca potensi dan memberikan solusi konkret atas permasalahan tata kelola sampah di desa sasaran. Harapan saya, alat ini bisa terus dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat," tutur sang DPL.

Pemaparan materi
Pemaparan materi — Dok. Pribadi

Demonstrasi dan Sosialisasi Penggunaan Alat

Setelah alat rampung diuji coba, Kelompok 15 menggelar sosialisasi sekaligus demonstrasi penggunaan APSO-MultiCutter di hadapan warga yang bertempat di Balai Desa Sumber Gede. Antusiasme warga terlihat jelas saat mesin mulai dinyalakan.

Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa menjelaskan secara rinci cara kerja pisau pencacah dan bagaimana proses pembuatan kompos berlangsung dari awal hingga akhir. Salah satu anggota KKN yang menjadi penanggung jawab teknis menjelaskan bahwa pembuatan POC menggunakan APSO-MultiCutter sangatlah mudah dan menggunakan bahan yang mudah didapat.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat POC:

  • Sampah Organik (sisa sayuran, daun kering, dll)

  • Cairan EM4 (mikroorganisme pengurai)

  • Air Bersih

  • Molase / Tetes Tebu (sebagai nutrisi bagi mikroorganisme)

Langkah-langkah pembuatan POC:

  1. Pencacahan: Masukkan sampah organik ke dalam corong mesin pencacah. Mesin akan mencacah sampah menjadi ukuran kecil dan secara otomatis memindahkannya ke dalam tong fermentor yang terintegrasi di bawahnya.

  2. Pencampuran Bahan: Tambahkan 1 botol EM4, 750 mL molase, dan 40 Liter air bersih ke dalam tong fermentor. Aduk seluruh bahan hingga homogen (tercampur rata). Setelah itu, tutup tong secara rapat untuk memastikan proses fermentasi anaerob berlangsung optimal.

  3. Pemantauan dan Pematangan: Pantau tingkat keasaman (pH) POC setiap hari menggunakan pH meter digital. Target pH yang ideal adalah antara 4 hingga 5. Proses fermentasi ini dilakukan selama 14 hingga 21 hari hingga POC benar-benar matang dan siap diaplikasikan ke tanaman.

Melihat proses tersebut, warga menyambut baik kehadiran teknologi ini. Supardi, salah satu perwakilan petani dan warga yang hadir dalam demonstrasi, menyampaikan rasa senangnya.

"Biasanya sisa panen atau sayur busuk itu cuma dibuang atau dibakar. Kalau pakai mesin ini, kita tidak perlu repot mencacah pakai sabit, dan hasilnya malah jadi pupuk cair. Tentu ini sangat menguntungkan buat kami para petani karena bisa menghemat biaya beli pupuk," kata Supardi dengan antusias.

Dengan suksesnya program APSO-MultiCutter ini, Mahasiswa KKN 15 UPN Veteran Jawa Timur berharap inovasi tersebut dapat menjadi langkah awal bagi Desa Sumber Gede dalam mewujudkan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan dan mandiri secara ekonomi.