Tim Manjur Unesa menjadi finalis LIDM 2026 melalui inovasi Poster Digital Pendidikan bertajuk “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan”.
JAWA TIMUR—Lebih dari 100 mahasiswa menyatakan komitmen menolak penggunaan jasa joki tugas melalui gerakan yang dikembangkan Tim Mahasiswa Anti Joki dan Jujur (Manjur) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Gerakan tersebut menggabungkan kampanye poster digital, edukasi lintas kampus, dan deklarasi untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko joki terhadap kompetensi serta integritas akademik.
Gagasan itu dikembangkan melalui karya poster digital pendidikan berjudul “Cuan Dikorbankan, Integritas Dihancurkan” yang mengantarkan Tim Manjur menjadi salah satu finalis Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 pada Divisi Poster Digital Pendidikan.
Tim mengangkat persoalan joki tugas yang mencakup pengerjaan makalah, presentasi, artikel ilmiah, hingga skripsi oleh pihak lain dengan imbalan tertentu.
Ketua Tim Manjur, Nabila Dwi Wahyu Santoso, mengatakan praktik tersebut kerap dipilih sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tuntutan akademik. Padahal, mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir, menyusun argumen, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya sendiri.
“Mahasiswa sering kali memilih jalan pintas karena ingin mendapatkan hasil secara instan. Padahal, ketika tugas dikerjakan oleh orang lain, proses belajar yang seharusnya mereka jalani menjadi terabaikan,” ujar Nabila.
Urgensi kampanye ini turut didukung data survei yang digunakan tim dalam penyusunan karya. Berdasarkan Survei Penilaian Integritas Pendidikan 2026 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagaimana dirujuk dalam kajian tim, sebanyak 43 persen responden menyebut masih adanya praktik joki dalam pengerjaan tugas akhir atau skripsi.
Dalam survei awal yang dilakukan, ditemui sebanyak 84,6 persen responden mengaku mengetahui mahasiswa di sekitar mereka yang menggunakan jasa joki tugas. Sebanyak 81 persen responden juga menilai praktik tersebut cukup sering hingga sangat sering terjadi di lingkungan kampus.
Untuk memperluas jangkauan kampanye, diterapkanlah strategi SATU, yakni Sebarkan, Ajak, Temui, dan Kukuhkan. Tahap Sebarkan dilakukan melalui konten edukasi di Instagram dan YouTube, termasuk sesi tanya jawab serta podcast bersama dosen. Pada tahap Ajak, tim menggandeng organisasi mahasiswa untuk memperluas dukungan terhadap gerakan antijoki.
Tahap Temui diwujudkan melalui sosialisasi di sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, dan Unesa. Adapun tahap Kukuhkan dilakukan melalui deklarasi dan penandatanganan komitmen menolak penggunaan jasa joki tugas.
Tim juga menggunakan evaluasi pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi. Poster yang dikembangkan turut melalui validasi ahli desain sebelum digunakan sebagai media kampanye.
“Harapan kami, amanah yang telah diberikan Allah dapat terus membawa manfaat bagi banyak orang, khususnya mahasiswa sebagai agent of change. Kami ingin gerakan integritas ini terus disebarluaskan agar semakin banyak mahasiswa berani menolak praktik joki dan menjunjung tinggi kejujuran dalam proses akademik,” ungkap Nabila.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab