ITS mengembangkan BMSense, baterai cerdas LiPo Graphene yang tegangan tiap sel, arus, dan suhunya bisa dipantau real-time. Tim: dosen, mahasiswa, dan industri.
Kebanyakan baterai bekerja diam-diam. Kita baru tahu ada yang salah ketika ia menggembung, panas, atau mati mendadak. Tim riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencoba mengubah itu lewat baterai yang bisa melaporkan kondisinya sendiri.
Apa yang dikembangkan
Pada Kamis (1/10/2026), ANTARA melaporkan bahwa ITS mengembangkan Baterai Management Sensor, disingkat BMSense, baterai cerdas yang disebut berbasis material kuantum untuk mendukung penyimpanan energi terbarukan. Baterai ini memadukan material LiPo Graphene dengan Battery Management System (BMS), mikrokontroler, dan sensor.
Menurut laporan ANTARA Jawa Timur, teknologi ini dirancang untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem cadangan energi, dan sistem energi off-grid yang berdiri sendiri. Konfigurasinya 3s dengan tegangan nominal 11,1 volt dan tegangan penuh 12,6 volt.
Baterai yang melaporkan dirinya
Keistimewaan BMSense ada pada pemantauannya. Sistemnya menampilkan tegangan tiap sel, arus, suhu, hingga kondisi baterai secara real-time. Ketua tim peneliti Grasianto, dosen Departemen Kimia ITS, menyatakan kemampuan itu memberi informasi tentang kondisi baterai sehingga pemantauan sistem penyimpanan energi dapat dilakukan lebih terukur.
Bagi pengguna PLTS atau sistem cadangan, informasi seperti ini berguna. Sel baterai yang tegangannya tak seimbang atau suhunya naik bisa terdeteksi lebih awal, sebelum jadi masalah.
Tim di baliknya
Pengembangan BMSense, menurut Suryakabar, melibatkan dosen Departemen Kimia dan Departemen Teknik Instrumentasi, mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Departemen Teknik Elektro ITS, serta PT Jokeen Solusi Teknologi dan Jokeen Energy sebagai mitra industri. Grasianto sendiri, menurut Pawarta Jatim, merupakan alumnus doktoral Tohoku University, Jepang.
Kolaborasi tiga unsur ini, yakni dosen, mahasiswa, dan industri, sejalan dengan arah yang digariskan ITS. Dalam Rencana Strategis 2026 sampai 2030, Rektor ITS Bambang Pramujati menekankan hilirisasi riset bersama industri agar menyelesaikan persoalan dan menciptakan nilai ekonomi.
Yang sudah dan yang belum
Satu hal perlu dibaca hati-hati. Istilah "material kuantum" berasal dari tim pengembang, dan dalam laporan yang saya temukan belum ada data kinerja seperti kapasitas, umur siklus pengisian, atau sertifikasi keselamatan. Informasi yang tersedia baru sebatas komponen, konfigurasi tegangan, dan kemampuan pemantauan.
Tim mengharapkan kolaborasi lintas bidang itu mendorong BMSense menuju implementasi dan komersialisasi. Jalan ke sana biasanya melewati pengujian ketahanan, pengujian keselamatan, dan uji coba di sistem energi sungguhan.
Mengapa layak diikuti
Energi terbarukan butuh tempat menyimpan listrik, dan tempat itu perlu bisa dipercaya. Inovasi yang membuat baterai lebih transparan tentang kondisinya adalah langkah kecil yang masuk akal. Tinggal kita tunggu apakah data uji kelak membuktikan klaimnya.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab