Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kepemimpinan tidak pernah dipandang sebagai puncak pencapaian karier, unjuk kekuatan, apalagi arena perebutan kekuasaan. Kepemimpinan adalah ruang pengabdian yang pertanggungjawabannya menembus batas duniawi, langsung berhadapan dengan Allah SWT. Nilai fundamental inilah yang menjadi pegangan H. Musaffa Safril dalam menakhodai PW GP Ansor Jawa Timur. Baginya, pelajaran kepemimpinan paling berharga yang ia terima dari para kiai dan ulama sepuh sebenarnya sangat sederhana, yakni kesadaran penuh bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi dan tidak ada kehebatan yang sejati selain milik Sang Pencipta.

Menjaga hati dari penyakit ujub atau membanggakan diri adalah ujian terberat bagi seorang pemimpin. Para kiai selalu berpesan agar siapa pun yang diberi amanah tidak pernah merasa paling penting, paling berjasa, atau paling berkontribusi bagi umat. Ada satu ungkapan khas pesantren yang selalu diingat oleh Musaffa, yakni pantangan untuk macak gawat. Ungkapan ini bermakna teguran keras agar seseorang tidak merasa bahwa organisasi menjadi hebat semata-mata karena kehadirannya. Jauh sebelum generasi saat ini lahir, Nahdlatul Ulama dan Ansor telah dibesarkan oleh riyadah dan perjuangan tulus para ulama selama puluhan tahun. Generasi saat ini hanyalah penyambung estafet yang tidak berhak mengklaim sejarah.

Ungkapan “jangan macak gawat” menjadi pengingat bagi H. Musaffa Safril bahwa setiap pemimpin hanya meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Ungkapan “jangan macak gawat” menjadi pengingat bagi H. Musaffa Safril bahwa setiap pemimpin hanya meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulu. — Dok. Pribadi H. Musaffa Safril

Hakikat seorang pemimpin sejatinya bukanlah sosok yang paling banyak dilayani, melainkan individu yang paling siap melayani. Berangkat dari pemahaman teologis tersebut, Musaffa memposisikan dirinya murni sebagai pelayan kader dan umat. Di dalam ruang pengabdian, seorang pemimpin dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak memahami daripada menghakimi, dan lebih banyak mencari solusi daripada berburu pujian. Pada akhirnya, jabatan hanyalah sebuah titipan fana yang akan segera menjadi arsip sejarah. Ukuran kesuksesan sejati di mata agama bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan seberapa besar keteladanan dan manfaat yang terus hidup setelah masa jabatannya berakhir.