Runtut.com

Rupiah Melemah dan Negara yang Terlalu Percaya pada Narasinya Sendiri

Pelemahan rupiah dan pernyataan kontroversial Prabowo menunjukkan bahaya ketika pemerintah terlalu sibuk membangun narasi optimisme, tetapi kurang disiplin memb

3 menit baca
11
Rupiah Melemah dan Negara yang Terlalu Percaya pada Narasinya Sendiri
Di tengah pelemahan rupiah, publik membutuhkan penjelasan kebijakan yang jernih. Pernyataan pemimpin negara yang terkesan menyederhanakan masalah dapat memperlebar jarak antara narasi pemerintah dan pengalaman warga. — Foto: ANTARA/HO-BPMI Sekretariat

Ada satu masalah yang mulai terasa dalam cara pemerintah hari ini berbicara kepada publik: negara tampak terlalu percaya pada narasinya sendiri.

Ketika rupiah melemah, yang dibutuhkan publik adalah penjelasan yang jernih. Apa penyebabnya? Apa risikonya? Apa dampaknya terhadap harga? Apa langkah pemerintah? Bagaimana Bank Indonesia menjaga stabilitas? Bagaimana masyarakat kecil dilindungi?

Namun, ketika dolar AS menembus kisaran Rp17.500, kalimat yang paling menonjol justru: warga desa tidak memakai dolar.

Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan. Tetapi dalam situasi ekonomi yang sensitif, menenangkan publik tidak boleh dilakukan dengan menyederhanakan masalah.

Rupiah bukan hanya urusan orang kaya yang bepergian ke luar negeri. Rupiah adalah harga barang impor, bahan baku industri, pupuk, obat, energi, alat produksi, biaya logistik, utang luar negeri, dan ekspektasi inflasi. Warga desa mungkin tidak membayar dengan dolar, tetapi mereka tetap membeli barang yang harganya bisa dipengaruhi kurs.

Di sinilah letak masalah komunikasi pemerintah: antara ingin menenangkan dan terkesan menolak fakta.

Bank Indonesia telah menjelaskan bahwa tekanan rupiah datang dari faktor global dan domestik, termasuk geopolitik, harga minyak, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, permintaan valas untuk pembayaran dividen, utang, dan kebutuhan haji. Penjelasan ini jauh lebih berguna daripada kelakar politik.

Sebagai praktisi teknologi yang menaruh perhatian pada isu publik, transformasi digital, dan perubahan sosial, saya melihat krisis komunikasi ini sebagai persoalan serius. Di era data terbuka dan media sosial, publik tidak lagi mudah diyakinkan hanya dengan optimisme. Publik bisa melihat kurs di ponsel, membandingkan harga di pasar, membaca laporan ekonomi, dan merasakan tekanan biaya hidup.

Maka ketika pengalaman warga tidak sesuai dengan narasi pemerintah, kepercayaan bisa retak.

Pemerintah memang punya data yang bisa dipakai untuk membangun optimisme. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen. Namun, data yang sama juga menunjukkan masih ada 7,24 juta penganggur dan rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta. Artinya, perbaikan indikator tidak boleh dipakai untuk menutup kualitas masalah.

Prabowo juga pernah menyebut Indonesia sebagai negara dengan rakyat paling bahagia di dunia berdasarkan Global Flourishing Study. Pernyataan itu menarik, bahkan membanggakan. Tetapi kebahagiaan subjektif tidak otomatis berarti negara bebas dari persoalan struktural.

Rakyat bisa bahagia karena ikatan keluarga, agama, komunitas, dan daya tahan budaya. Namun mereka tetap bisa kesulitan membayar kebutuhan hidup. Mereka bisa merasa bersyukur, tetapi tetap menghadapi pekerjaan informal. Mereka bisa tersenyum, tetapi tetap rentan terhadap kenaikan harga.

Di titik ini, bahaya terbesar bukan hanya rupiah melemah. Bahaya terbesarnya adalah negara menolak membaca sinyal.

Sinyal pasar mengatakan ada tekanan. Sinyal publik mengatakan ada keresahan. Sinyal ekonom mengatakan ada risiko fiskal. Sinyal masyarakat sipil mengatakan ruang kritik menyempit. Tetapi jika semua sinyal itu dijawab dengan optimisme, candaan, atau label politik, pemerintah bisa kehilangan kemampuan koreksi diri.

Kepemimpinan yang kuat tidak berarti selalu tampak yakin. Kepemimpinan yang kuat justru berani berkata: masalah ini nyata, risikonya ada, dan ini langkah yang akan kami ambil.

Dalam ekonomi, kepercayaan lahir dari kredibilitas. Dalam demokrasi, kepercayaan lahir dari keterbukaan. Dalam kebijakan publik, kepercayaan lahir dari kemampuan mengakui masalah sebelum masalah itu menjadi krisis.

Pemerintah Prabowo masih punya waktu memperbaiki komunikasi dan kebijakan. Tetapi syarat pertamanya sederhana: berhenti menganggap kritik sebagai gangguan, dan mulai memperlakukannya sebagai alarm.

Karena negara yang terlalu percaya pada narasinya sendiri sering kali terlambat menyadari bahwa rakyat sudah lebih dulu membaca kenyataan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Sebelum PHK Jadi Jawaban, Perencanaan SDM Harus Jadi Pertanyaan
Perspektif

Sebelum PHK Jadi Jawaban, Perencanaan SDM Harus Jadi Pertanyaan

Perencanaan SDM membantu perusahaan menghadapi perlambatan ekonomi melalui pengembangan keterampilan, penataan kerja, dan evaluasi alternatif PHK.

Vrisca Claudia Listanto · 1 hari lalu
Menguji Asa Kereta Cepat Jakarta–Surabaya di Tahun 2026
Perspektif

Menguji Asa Kereta Cepat Jakarta–Surabaya di Tahun 2026

Jakarta–Surabaya cuma 30 menit? Intip proyek Kereta Cepat Merah Putih buatan anak bangsa yang siap uji coba prototipe di 2026!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Kenapa Kita Beli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan? Ini Faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian
Perspektif

Kenapa Kita Beli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan? Ini Faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian

Harga, kualitas, promosi, dan media sosial memengaruhi keputusan konsumen. Kenali faktor di balik kebiasaan belanja agar lebih bijak sebelum membeli.

Riska Meisyadila · 1 hari lalu
Konsumen Makin Teliti, Keranjang Belanja Tak Lagi Berarti Siap Membeli
Perspektif

Konsumen Makin Teliti, Keranjang Belanja Tak Lagi Berarti Siap Membeli

Perubahan perilaku belanja membuat konsumen lebih banyak membandingkan harga, membaca ulasan, dan menimbang kebutuhan sebelum menentukan pembelian.

Vrisca Claudia Listanto· 2 hari lalu
In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?
Perspektif

In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?

Jika menyoal bisnis mana yang paling tahan akan krisis di tengah kondisi serba tidak pasti sekarang, bisnis narkoba mungkin jadi salah satunya. Kok bisa?

Andini Putri Lestari· 5 hari lalu
Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital
Perspektif

Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital

Memahami Hukum Tata Negara membantu masyarakat memilah informasi, memahami kewenangan pemerintah, serta menyampaikan kritik secara cerdas dan bertanggung jawab.

Neza Kusuma Ningrum· 5 hari lalu