Kisah ini ditulis ulang dari pengakuan langsung seorang perempuan yang membagikan kisah hidupnya secara sukarela. Nama, tempat, dan sejumlah detail identitas telah disamarkan atas permintaannya sendiri. Naskah ini sudah melalui persetujuannya sebelum diterbitkan, dengan harapan bisa menjadi dorongan bagi siapa pun yang sedang berjuang untuk tetap bertahan dan percaya bahwa hidup masih bisa membaik.

Peringatan konten: tulisan ini memuat penggambaran kekerasan pada anak, kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan pergumulan dengan pikiran untuk mengakhiri hidup. Pembaca yang merasa belum siap dipersilakan berhenti kapan saja.

Namaku, sebut saja Rani, bukan nama sebenarnya. Aku anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, sekaligus anak bungsu. Tapi sejak kecil, aku selalu merasa seperti orang asing di rumah sendiri, dan seluruh keluarga besarku tahu itu, bahwa aku tumbuh tanpa kasih sayang yang cukup dari orang tuaku sendiri.

Aku masih ingat satu momen ketika aku masih kecil, pulang menangis karena bertengkar dengan teman laki-laki. Aku pulang mengadu, seperti anak-anak pada umumnya. Tapi yang aku dapatkan bukan pelukan, melainkan pukulan. Ada satu kalimat dari bapakku yang masih terngiang sampai sekarang, kurang lebih begini bunyinya "jangan pulang membawa air mata", kalau pulang menangis, aku yang akan dipukul.

Pola itu bukan kejadian sekali dua kali. Sejak kecil aku dititipkan ke nenek dan dibesarkan olehnya, sementara kakak-kakakku dirawat langsung oleh orang tua. Dalam banyak hal, mulai dari makanan sampai perhatian, kakakku nomor tiga selalu diutamakan, dan aku terbiasa disisihkan serta diperlakukan berbeda dari saudara-saudaraku sendiri.

Perlakuan itu semakin terasa ketika ada satu kejadian yang paling membekas dalam ingatanku. Aku dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak aku lakukan, oleh kakakku nomor tiga. Karena tuduhan itu, aku dipukuli berkali-kali oleh bapakku, bergantian dengan disiram air, entah berapa lama. Ketika aku diam, aku dimarahi karena dianggap membangkang. Ketika aku mencoba menjelaskan, aku dianggap melawan dan dipukul lebih keras. Aku selalu berada di posisi yang serba salah, apa pun yang aku lakukan.

Hal semacam itu terjadi berulang, bahkan untuk urusan yang sebenarnya sangat sepele. Suatu kali saat aku masih SD, aku bertanya dengan nada pelan soal jatah makan yang tidak dibagi rata untukku. Aku malah dipukul dan dimaki, sementara orang tuaku membela kakakku yang justru mengambil hak aku. Masa kecil sampai remajaku dipenuhi kekerasan seperti ini, dari SD hingga SMP.

Salah satu hukuman yang paling aku ingat juga terjadi ketika aku masih SD. Aku pernah digantung terbalik di kandang sapi keluarga sebagai bentuk hukuman, dengan cara yang sangat tidak layak diterima anak seusiaku.

Masuk SMP, pola kekerasan itu tidak berhenti. Pukulan dan makian masih menjadi bagian dari keseharianku. Lalu, di masa peralihan dari SMP menuju SMK, aku mengalami sesuatu yang jauh lebih berat, sesuatu yang mengubah hidupku untuk waktu yang sangat lama.

Saat itu aku menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang masih ada hubungan saudara jauh dengan keluargaku, meski saat itu aku tidak tahu hubungan itu. Kekerasan itu berlangsung berulang kali selama sekitar tiga bulan. Setiap pulang sekolah, aku dijemput dan dibawa ke rumahnya. Aku diancam, jika menolak atau melapor, dia akan menyebarkan rekaman video yang bisa mempermalukan aku. Tapi ada satu momen ketika aku memberanikan diri untuk melawan dan menolak ancaman itu. Aku memilih untuk tidak takut lagi, dan siap menanggung konsekuensi apa pun, karena aku sadar yang seharusnya malu bukan aku.

Di masa sesulit itu, hanya bibi dan nenekku yang benar-benar mengerti dan menyayangiku. Tidak ada orang lain di rumah yang bisa aku andalkan.