Ada momen yang membuat kita diam sejenak, lalu dada terasa penuh tanpa tahu harus berkata apa. Itu yang saya rasakan ketika melihat potongan video Ferdian Trikusuma di panggung Kick Off dan Orientasi Program Magang Nasional Batch 1 Angkatan 2 Tahun 2026, yang berlangsung Selasa, 11 Agustus 2026, dan diunggah di akun Instagram catatanseskab.
Saya mengenal Ferdian bukan dari berita. Saya mengenalnya dari proses, dari diskusi panjang, dari kerja bersama membangun Runtut.com sampai hari ini. Jadi ketika video itu tersebar dan banyak orang ikut terharu, bagi saya itu bukan sekadar cerita orang lain. Itu cerita rekan seperjuangan saya sendiri.
Pertanyaan Sederhana, Jawaban yang Tak Terduga
Di panggung itu, Ferdian ditanya langsung oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli soal rencana penggunaan gaji pertamanya. Pertanyaan yang terdengar ringan, jenis pertanyaan yang biasanya cukup dijawab dengan senyum dan jawaban aman.
Namun Ferdian menjawab dengan cara yang mengubah suasana ruangan. Sebagai seorang yatim piatu, ia mengatakan gaji pertamanya bukan untuk dikirim kepada orang tua, karena memang sudah tidak ada yang bisa menerimanya. Maka niatnya justru untuk dibagikan, kepada panti asuhan atau kepada mereka yang membutuhkan di luar sana.
Saya tidak terkejut mendengar jawaban itu. Cara berpikir seperti ini memang sudah lama saya kenal dari Ferdian, dari perjalanan kami membangun Runtut.com bersama. Tapi mendengarnya diucapkan tenang di depan pejabat negara, di panggung sebesar itu, tetap saja menyisakan haru yang berbeda. Itu bukan jawaban yang disiapkan agar terdengar baik. Itu memang isi hati dan pikirannya.
Sepatu yang Sama Sejak Menjadi Mahasiswa Baru
Bagian yang paling menyentuh justru datang setelahnya. Ketika ditanya lebih jauh apakah ada keinginan pribadi, Ferdian hanya menyebut satu hal kecil, sepasang sepatu baru. Sepatu yang dikenakannya hari itu adalah sepatu yang sama sejak ia menjadi mahasiswa baru di Universitas Brawijaya.
Garis Waktu: Orang-Orang yang Pergi dan Kenangan yang Menolak Diakhiri8 Agustus 2026 pukul 06.00Seseorang yang niat pertamanya soal rezeki justru mengarah kepada orang lain, sementara permintaan untuk dirinya sendiri hanya sepasang sepatu yang telah menemaninya bertahun-tahun. Bagi saya yang mengenalnya dari dekat, ini bukan kisah yang dibesar-besarkan. Ini memang Ferdian apa adanya, sederhana, dan tidak banyak menuntut untuk dirinya sendiri.
Mendengar jawaban itu, Seskab Teddy Indra Wijaya tampak tersentuh dan berjanji akan membantu memenuhi kebutuhan Ferdian selama enam bulan ke depan, mulai dari sepatu, celana, hingga pakaian yang layak, sebagai bentuk apresiasi atas semangatnya menjalani program magang.
Ferdian yang Saya Kenal
Bagi yang baru mengenal Ferdian lewat video ini, saya ingin sampaikan, apa yang terlihat di panggung itu baru sebagian kecil. Saya yang hingga kini masih bekerja bersamanya membangun Runtut.com tahu betul, caranya menjalani hidup memang diam-diam. Ia tidak suka memamerkan perjuangannya, tidak banyak bercerita tentang kesulitan yang dihadapi, tapi selalu ada ketika ada rekan yang membutuhkan bantuan.
Hari ini, saya menuliskan di instastory saya bahwa saya hanya bisa bangga. Dan perasaan itu masih sama sampai sekarang. Ferdian mengingatkan kita pada satu hal yang mudah terlupakan, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbagi. Hati yang kaya bukan hati yang memiliki segalanya, melainkan hati yang tetap ingin memberi meski dirinya sendiri masih membutuhkan.
Langkah Kecil, Cerita Besar
Saya percaya ini baru permulaan bagi Ferdian. Panggung ini mungkin hanya satu langkah kecil dalam perjalanan panjang yang akan ia tempuh. Namun bagi saya yang menyaksikan prosesnya dari dekat, langkah kecil ini sudah cukup membuktikan bahwa niat baik tidak pernah membutuhkan panggung besar untuk terlihat tulus.
Selamat, Mas Ferdian. Semoga langkah hari ini menjadi awal dari mimpi, harapan, dan kebaikan yang terus bertumbuh, bagi dirimu, dan bagi mereka yang kelak turut merasakannya.








