Apa yang terlintas dipikiran kita jika mendengar kata "Penyihir". Penyihir sering kali digambarkan sebagai sosok perempuan yang jauh dari kata ideal atau sempurna.
Sejak kita kecil kita banyak terpapar cerita dongeng penyihir yang diilustrasikan sebagai perempuan tua aneh, cenderung memiliki sifat pemarah, tidak menyukai anak kecil dan sendirian hidup di tengah hutan mereka mengisolasikan diri untuk tinggal jauh dari keramaian dan pemukiman warga.
Begitulah citra nya dalam dongeng, namun gambaran yang kita kenal tentang penyihir berbeda yang ada di cerita dongeng dengan kilas balik histori penyihir.
Di tengah kemajuan seruan kesetaraan gender, perempuan saat ini masih menghadapi adanya wujud "perburuan penyihir" yang dicap sebagai pembangkang, agresif, tidak tunduk pada aturan hanya karena mereka mampu menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan hidup nya sendiri.
Apa yang dimaksud "perburuan penyihir" terhadap perempuan?
Jejak histori witch hunt terkenal dan meluas di Eropa pada pertengahan abad 15-18. Pada masa itu perempuan yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan, memiliki pengaruh atau hidup di luar norma masyarakat dapat dicap sebagai penyihir karena dianggap mengancam tatanan sosial, mereka dituduh dan dipaksa untuk mengaku.
Dalam satu abad sekitar tahun 1500-1660 perburuan penyihir menjadi suatu hal yang biasa, terdakwa dieksekusi dengan cara sadis mereka dibakar dan digantung. Kebanyakan dari mereka wanita lajang, janda, dan dukun beranak, selama 160 tahun lamanya terdapat tersangka 40.000-80.000 penyihir yang dibunuh 80% dari mereka adalah perempuan.

Perburuan penyihir juga berkaitan dengan perempuan yang melakukan praktik magis bekerja sebagai tabib atau herbalis, pelanggaran norma seksual, kejahatan reproduksi sebagai "kontrol atas kehamilan, melahirkan, dan fertilitas".
Masa abad itu Eropa memang sedang berada dalam periode pra kapitalisme dari fase transisi feodalisme. Sehingga, pemerintah berusaha mengubah tubuh perempuan menjadi instrumen reproduksi untuk tenaga kerja dan usaha untuk mendisiplinkan terhadap pekerja yang tidak patuh.
Dengan demikian, ini menunjukkan jelas bahwa orientasi yang difokuskan pemerintah adalah populasi penduduk yang banyak sebagai sumber kekayaan sekaligus tenaga kerja yang dapat di upah rendah.
Dalam perspektif Silvia Federici adanya perburuan penyihir adalah mekanisme untuk menegakkan kontrol negara dan gereja atas reproduksi perempuan, sekaligus memaksa perempuan kembali kepada peran domestik dan reproduktif.
Dengan mengambil tindakan tersebut, negara menegakkan norma bahwa tugas utama perempuan adalah melahirkan dan mengasuh anak demi kepentingan demografis, ekonomi, dan moral negara.








