Runtut.com

Foto di Istana Negara Independensi Podcast Pancatera Dipertanyakan

Kehadiran Pancatera di Istana memicu sorotan warganet, mempertanyakan konsistensi narasi women empowerment.

3 menit baca
11
Foto di Istana Negara Independensi Podcast Pancatera Dipertanyakan
Podcaster Pancatera — Poskota.co.id

Jakarta - Kehadiran sejumlah anggota Pancatera dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026 memicu perdebatan publik. Foto Marissa Anita, Caroline Soerachmat, dan Karina Basrewan bersama Presiden Prabowo Subianto dan Didit Hediprasetyo membuat sebagian pendengar mempertanyakan posisi Pancatera sebagai platform yang selama ini mengangkat isu perempuan, kemandirian, dan pemberdayaan.

Apakah kehadiran mereka di ruang kekuasaan bertentangan dengan nilai women empowerment yang dibawa In Her View, atau justru menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki hak untuk hadir di berbagai ruang, termasuk ruang kenegaraan dan politik?

Siapa anggota member dari Podcaster Pancatera?

Pancatera merupakan rumah produksi yang didirikan pada 2025. Podcast tersebut menghadirkan pembahasan mengenai pengalaman personal, karier, relasi, gaya hidup, serta berbagai persoalan tentang perempuan dan pemberdayaan pembahasan tersebut diulas dengan personal dan terkesan santai. Formasi member terdiri atas Marissa Anita, Caroline Soerachmat, Kai Soerja, dan Karina Basrewan.

Marissa Anita dan Caroline Soerachmat memiliki latar belakang yang sama di bidang jurnalistik, penyiaran, dan presenting. Sementara itu, Karina Basrewan dan Kai Soerja membawa pengalaman dari dunia kreatif, modeling, seni, storytelling, dan pembuatan konten. Melalui latar belakang yang berbeda Pancatera dibangun oleh mereka yang memiliki hubungan dengan industri media, hiburan, komunikasi, dan kreatif.

Foto Bersama di Istana, Menuai Kritik warganet

Kehadiran mereka di istana merdeka pada saat perayaan kemerdekaan memunculkan persepsi bagi warganet dan penonton podcast In Her View

Penilaian tersebut kemudian dikaitkan dengan citra In Her View sebagai podcast yang membawa isu women empowerment, kemandirian, dan kebebasan perempuan dalam menyampaikan pandangan.

Beberapa audiens mempertanyakan apakah nilai independensi yang dibangun melalui podcast tetap konsisten ketika para pembuatnya terlihat berada dalam ruang sosial yang dekat dengan figur politik dan elite.

Pertanyaan itu tidak selalu berarti bahwa Pancatera terbukti memiliki afiliasi politik, tetapi menunjukkan adanya jarak antara citra independen yang dipersepsikan audiens dan simbol kedekatan dengan kekuasaan yang muncul melalui unggahan tersebut.

Dalam konteks media digital, persepsi dari publik dapat terbentuk hanya dari satu unggahan foto. Foto bersama pejabat negara dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap acara kenegaraan, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai legitimasi atau kedekatan politik.

Karena itu, persoalan Pancatera tidak hanya berkaitan dengan maksud para anggotanya, tetapi juga dengan tanggung jawab mereka sebagai publik figur untuk menjelaskan konteks kehadiran dan menjaga kepercayaan audiens.

Klarifikasi Resmi dari Pancatera

Namun, setelah beredar nya kritik dari masyarakat secara resmi melalui unggahan akun Instagram Pancatera menegaskan bahwa mereka dan In Her View beroperasi secara independen, didanai secara mandiri, serta tidak berafiliasi dengan pemerintah maupun lembaga politik. Mereka juga menyampaikan permintaan maaf atas keresahan yang muncul.

Dengan demikian anggapan warganet mengenai kejadian tersebut sebaiknya dipahami sebagai persoalan persepsi dan kepercayaan, bukan sebagai kesimpulan faktual tanpa bukti. Kehadiran di Istana tidak otomatis membuktikan keberpihakan.

Namun, sebagai platform yang membawa narasi pemberdayaan perempuan, Pancatera tetap perlu menyadari bahwa setiap akses, simbol, dan interaksi publik dapat memengaruhi cara audiens memahami independensi serta nilai yang mereka juga klarifikasi tersebut belum tentu langsung menghilangkan persepsi publik.

Independensi tidak hanya dinilai dari ada atau tidaknya hubungan formal dengan pemerintah, tetapi juga dari transparansi, konsistensi, dan kemampuan platform untuk tetap kritis terhadap berbagai bentuk kekuasaan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua