Ini adalah bagian kedua dari kisah nyata Rani (nama disamarkan). Jika belum membaca, kamu bisa memulai dari Bagian 1 yang mengisahkan masa kecilnya hingga titik terendah dalam hidupnya, sebelum melanjutkan ke bagian ini.
Kisah ini dibagikan atas persetujuan langsung dari yang bersangkutan, dengan harapan bisa menjadi dorongan bagi siapa pun yang sedang berjuang untuk tetap bertahan dan percaya bahwa hidup masih bisa membaik.
Peringatan konten: tulisan ini masih menyinggung soal pergumulan dengan pikiran untuk mengakhiri hidup, meski dengan fokus pada proses pemulihan.
Malam ketika aku mendapati diriku mencekik keponakanku sendiri saat tidur, aku sadar sesuatu di dalam diriku sudah terlalu lama tidak baik-baik saja. Aku memutuskan untuk pergi ke psikiater.
Aku menyadari, meski aku sudah berkali-kali mencoba mengakhiri hidup sejak SMP, aku masih diberi kesempatan untuk bernapas, berjalan, dan hidup dengan tubuh yang masih berfungsi baik, sesuatu yang tidak semua orang miliki. Dari situ aku mulai belajar merenungkan kembali, apa yang selama ini luput aku syukuri, dan hal-hal kecil apa yang sebenarnya membentuk diriku menjadi seperti sekarang.
Aku didiagnosis mengalami episode depresi berat dengan kode klinis F32.3, akibat trauma yang menumpuk sejak kecil hingga dewasa. Perlahan, aku mulai belajar untuk tidak lagi terlalu peduli dengan penilaian orang lain tentang diriku, termasuk penilaian keluargaku sendiri. Aku memilih untuk tetap hidup dan belajar mencintai diriku sendiri. Sampai sekarang, aku merasa tumbuh jauh lebih baik dibanding diriku yang dulu.
Di titik itu, aku bertemu seseorang yang perlahan membantuku lepas dari obat antidepresan. Ketika aku diperkenalkan dengan keluarganya, aku baru merasakan bagaimana rasanya berada di tengah keluarga yang benar-benar hangat, sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sejak kecil. Kehilangan nenekku dulu sempat membuatku merasa kehilangan segalanya, termasuk sebagian dari diriku sendiri. Bertemu keluarga pasanganku membuatku merasa, mungkin ini adalah cara semesta membalas semua ujian yang aku lalui.








