Runtut.com

Ngeri-ngeri Sedap! Antisipasi 9 Ancaman Bencana, Sekolah di Pacitan Masuk Zona Siaga Lewat SPAB

BBPMP Jatim, BPBD, & Dispendik Pacitan gelar SPAB 2026 demi perkuat mitigasi & resiliensi 9 ancaman bencana di seluruh jenjang sekolah.

Ngeri-ngeri Sedap! Antisipasi 9 Ancaman Bencana, Sekolah di Pacitan Masuk Zona Siaga Lewat SPAB
Endang Mulyani Putro sedang memaparkan materi integrasi SPAB kedalam kurikulum — Bambangelpacitano

PACITAN – Potensi kerawanan bencana di wilayah Kabupaten Pacitan memantik perhatian serius dari berbagai pihak. Guna membentengi sektor pendidikan dari risiko bencana, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur menggelar program Pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) 2026 di Kabupaten Pacitan.

Agenda strategis ini mengandeng Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim, BPBD Pacitan, serta Sekber SPAB Kabupaten Pacitan. Format kegiatannya dikemas secara hybrid; diawali sesi daring pada 17 Juni, kemudian dilanjutkan dengan pemantapan materi secara tatap muka (luring) pada Selasa (30/6).

Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan Dr. Ririh Enggar Murwati S.P., M.Pd. menyatakan, langkah mitigasi di lingkungan sekolah ini sangat krusial mengingat kondisi geografis Pacitan. Ke depan, Dispendik berkomitmen mereplikasi program ini ke seluruh lembaga pendidikan di semua jenjang.

"Tentu kami menyambut baik kolaborasi BBPMP, IGI, dan BPBD ini. Ini urusan kapasitas sekolah dalam pengurangan risiko bencana. Target ke depan, kami ingin program ini berlanjut secara berkala agar seluruh sekolah punya dokumen SPAB dan mampu mandiri dalam mitigasi," ujar Ririh.

Gayung bersambut, perwakilan BPBD Pacitan M. Arif Setyadi membeberkan bahwa wilayah Pacitan setidaknya mengantongi sembilan potensi ancaman bencana alam. Oleh karena itu, membangun resiliensi (ketangguhan) komunitas sekolah tidak bisa ditawar lagi.

"Pacitan punya 9 potensi ancaman bencana. Kolaborasi lintas sektor seperti inilah yang sangat diperlukan untuk membangun resiliensi bencana di masyarakat, khususnya di lingkungan satuan pendidikan," tegas Arif.

Sasar Anak Usia Dini lewat Simulasi Edukatif

Dalam pelatihan intensif ini, para peserta digembleng oleh dua Fasilitator Nasional, yakni Endang Mulyani Putro, MPd dan Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B, didampingi materi teknis dari unsur BPBD.

Manfaat instan dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh Tatik Kareni., S.Pd. Aud, salah satu peserta yang juga praktisi pendidikan anak usia dini. Menurutnya, pemahaman budaya aman bencana harus diinjeksikan sejak usia sedini mungkin melalui pendekatan yang kreatif.

"Kesiapsiagaan terhadap bencana, khususnya gempa bumi, perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pembelajaran yang menyenangkan, pembiasaan, dan simulasi berkala," kata Tatik.

Melalui pendampingan ini, para guru tidak hanya dicekoki teori, melainkan langsung praktik menyusun dokumen SPAB, merancang SOP evakuasi, memetakan jalur penyelamatan, hingga mendesain simulasi yang ramah untuk anak usia dini.

"Sepulang dari sini, saya berkomitmen mengimplementasikan hasil pelatihan di TK Negeri Pembina Kecamatan Ngadirojo. Kami akan bentuk Pokja SPAB, menyusun dokumen pendukung, dan rutin menggelar simulasi," tambahnya.

Targetkan Dokumen RTL di Tiap Sekolah

Program Pendampingan SPAB Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2026 ini menitikberatkan pada hasil yang terukur. Ada tiga output utama yang dibidik dari pelatihan kilat ini:

  • Paham Regulasi: Peserta menguasai kebijakan, konsep, dan mekanisme implementasi SPAB di lapangan.

  • Dokumen RTL: Tersusunnya dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL) implementasi SPAB yang riil di masing-masing sekolah.

  • Jadwal Riil: Terpetakannya jadwal pelaksanaan kegiatan simulasi dan mitigasi berkala di satuan pendidikan.

Melalui target output yang terstruktur mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SLB ini, diharapkan tercipta ekosistem sekolah di Pacitan yang tidak hanya fokus pada akademik, namun juga siap dan tangguh dalam menghadapi situasi darurat bencana. (Elp)

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
DIPA MediArt Festival 2026 Jadi Pemantik Tumbuhnya Ekosistem Seni di UB
Pendidikan

DIPA MediArt Festival 2026 Jadi Pemantik Tumbuhnya Ekosistem Seni di UB

Festival ini menunjukan bahwa pengembangan seni media tidak harus memisahkan teknologi dan praktik seni konvensional. Keduanya saling melengkapi.

Andini Putri Lestari· 4 hari lalu
Tiga Siswa SMK Sabet Juara III Projection Mapping Contest Lawan Mahasiswa Tingkat Nasional
Pendidikan

Tiga Siswa SMK Sabet Juara III Projection Mapping Contest Lawan Mahasiswa Tingkat Nasional

Ketiganya mengungkapkan perasaan tidak menyangka, apalagi ketika harus melawan mahasiswa tingkat nasional

Andini Putri Lestari· 5 hari lalu
Stella Christie: Tiga Strategi Pendidikan Tinggi Bertahan di Era AI
Pendidikan

Stella Christie: Tiga Strategi Pendidikan Tinggi Bertahan di Era AI

"Di era AI, bagaimana pendidikan tinggi bisa bertahan? Menyeragamkan satu prodi AI-ology atau tidak menggunakan AI sama sekali? Kita harus mencari modus baru."

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
Mendiktisaintek Minta Perguruan Tinggi Gabungkan Prodi Demi Ringankan Administrasi
Pendidikan

Mendiktisaintek Minta Perguruan Tinggi Gabungkan Prodi Demi Ringankan Administrasi

Mendiktisaintek dorong perguruan tinggi gabungkan prodi demi hemat biaya akreditasi & efisiensi administrasi. Simak arahan resminya di KONASPI XII Bali.

Mila Nabilah· 2 minggu lalu
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mencegah Perundungan Sejak Dini
Pendidikan

Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mencegah Perundungan Sejak Dini

Kebiasaan mengejek dengan nama orang tua di sekolah dasar menyoroti pentingnya kebijakan kepala sekolah, pembinaan karakter, dan pencegahan perundungan.

Erika Dewi Agustin· 3 minggu lalu
Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan
Pendidikan

Sekolah Hancur Akibat Gempa Flores, Anak-Anak Kumpulkan Sisa Buku di Reruntuhan

Bencana gempa bumi di Flores menghancurkan gedung sekolah. Anak-anak terpaksa mengais sisa buku pelajaran di tengah reruntuhan untuk tetap belajar.

Maya Sintasari· 3 minggu lalu